
"Kalian pelakor, mati saja kau dan pergi ke neraka!" ucap Arin dengan tatapan yang lurus ke arah depan.
Setelah mengatakan hal tersebut Arin terlihat menginjak pedal remnya cukup lama bersiap untuk melaju dengan kecepatan yang tinggi begitu mendapati keduanya nampak mulai berjalan keluar dari sana.
"Bersiaplah untuk menemui ajal mu pelakor!" pekik Arin sambil mulai melajukan mobilnya.
***
Inara dan juga Alvaro yang baru saja keluar dari pintu masuk menuju ke arah basement terlihat mulai melangkahkan kakinya secara perlahan, di susul dengan Abi yang berada tak jauh dari keduanya yang kebetulan saat itu juga hendak pulang ke Rumah.
Sebuah deringan ponsel milik Alvaro lantas membuat langkah kaki Alvaro dan juga Inara langsung terhenti dengan seketika.
"Halo" jawab Alvaro dengan posisi sedikit menjauh dari Inara untuk mengangkat panggilan telpon miliknya.
Sedangkan Inara yang tak tahu harus melakukan apa, hanya terdiam di tempatnya sambil menunggu hingga Alvaro selesai menerima panggilan telponnya.
**
Dari arah tak jauh dimana ketiganya berada terlihat sebuah mobil dengan kecepatan yang tinggi tengah mengarah ke arah Inara saat itu. Membuat Abi yang juga melihat hal tersebut tentu saja terkejut dan langsung bergegas untuk menyelamatkan Inara.
"Awas!" pekik Abi yang tentu saja langsung membuat Alvaro menoleh ke arah sumber suara dan baru menyadari jika sebuah mobil mendekat ke arah Inara saat ini.
Melihat hal tersebut Alvaro tentu saja langsung mengambil langkah besar dan menarik tangan Inara dengan kuat, membuat keduanya langsung jatuh dan sempat berguling selama beberapa kali.
Ckitttt...
Mobil tersebut mengerem mendadak setelah mendapati jika ia tidak berhasil menabrak Inara barusan. Arin benar-benar kesal ketika melihat Inara berhasil lolos dari dirinya, padahal tadinya ia berharap jika perempuan itu mati ketika mobil yang ia kendarai menabrak Inara. Namun sayangnya Dewi keberuntungan malah berpihak kepadanya kali ini, sehingga Inara tak sempat menyentuh kap mobilnya sebelum terjatuh tadi.
__ADS_1
"Sialan!" pekik Arin kemudian langsung melajukan mobilnya meninggalkan area basement.
**
Sedangkan Abi yang melihat kepergian mobil tersebut tentu saja langsung berlarian dan masuk ke dalam mobilnya. Tanpa mendapatkan perintah sekalipun Abi langsung berusaha untuk menyusul kepergian mobil yang baru saja hampir menabrak Inara. Abi yakin jika Alvaro akan membutuhkan informasi tentang pengemudi itu, sehingga membuatnya mengambil tindakan impulsif dan langsung mengejar mobil tersebut.
"Tidak ada yang bisa lari dari kejaran seorang Abi!" ucapnya sambil mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menyusul kepergian mobil tersebut.
**
Kembali ke basement, setelah keduanya jatuh dan sempat berguling selama beberapa kali. Alvaro yang merasa khawatir akan keadaan Inara barusan lantas langsung berusaha bangkit dari posisinya untuk mengecek keadaan Inara saat ini.
Dipukulnya pelan pipi Inara selama beberapa kali ketika Alvaro mendapati Inara tengah menutup matanya dengan rapat saat ini. Ditatapnya area paha Inara yang saat itu bersih tanpa adanya noda darah sedikit pun di sana, yang tentu saja membuat perasaan Alvaro sedikit melega karenanya.
"Ra apa kamu baik-baik saja? Ra.. Inara jawab aku jangan membuat ku takut seperti ini!" ucap Alvaro ketika mendapati jika saat ini Inara sudah pingsan tepat di pelukannya.
"Bertahanlah sebentar lagi Ra..." ucap Alvaro dengan nada yang lirih sambil terus menggendong tubuh Inara menuju ke arah mobil.
***
Rumah sakit
Di area ruang tunggu terlihat Alvaro tengah menanti dengan raut wajah yang gelisah. Sambil memijit pelipisnya dengan perlahan Alvaro sesekali melirik ke arah pintu UGD karena khawatir akan keadaan Inara saat ini.
Tak tak tak
Derap langkah kaki yang berasal dari area ruang UGD di mana Inara sedang mendapatkan perawatan saat ini, membuat Alvaro lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengambil langkah yang bergegas mendekat ke arah dimana Bella berada saat ini.
__ADS_1
Bella mengambil posisi bersendekap dada ketika mendapati langkah kaki Alvaro yang kian mendekat ke arahnya.
"Apa lagi sekarang Al? Mengapa kamu selalu saja membawanya kemari dalam keadaan yang pingsan?" ucap Bella dengan tatapan yang tidak suka ke arah Alvaro saat ini.
"Ayolah Bel jangan membuat ku merasa khawatir seperti ini! Lagi pula kau itu sahabat ku, mengapa tingkah mu ini seakan-akan aku adalah putra kecil mu yang sedang melakukan kesalahan." ucap Alvaro dengan raut wajah yang kesal karena Bella tak langsung mengatakan kondisi Inara saat ini.
Mendengar gerutuan tersebut lantas membuat Bella langsung menghela napasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang intens.
"Keduanya tidak apa-apa mereka baik-baik saja saat ini kau tak perlu khawatir." ucap Bella kemudian berusaha untuk menenangkan Alvaro saat ini.
"Jika keduanya baik-baik saja, mengapa Inara bisa pingsan? Apa kau sedang berusaha menenangkan ku saja?" ucap Alvaro dengan nada yang ketus membuat helaan napas kembali terdengar dari mulut Bella saat itu.
"Penyebab Inara pingsan hanya karena dia shock dan sedang berada di bawah tekanan atau stress saja, selebihnya tidak ada yang terjadi tapi kamu harus selalu menjaga tekanan darahnya karena Inara memiliki tekanan darah yang rendah dan tentu saja itu tidak baik bagi seorang Ibu hamil." ucap Bella kemudian menjelaskan.
"Syukurlah, kau benar-benar membuat ku takut." ucap Alvaro yang pada akhirnya bisa bernapas dengan lega.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya? Lagi pula bukankah aku sudah mengingatkan mu untuk menjaganya? Mengapa kamu terus membawanya kemari Al?" ucap Bella kemudian mulai bertanya, sebenarnya Bella benar-benar penasaran akan beberapa hal tapi ia tidak berani bertanya apapun kepada Alvaro.
Dengan melihat kondisi Inara saja ia sudah bisa mengetahui jika Inara sedang berada dalam kondisi yang tertekan dan tidak baik-baik saja. Ada sebuah perasaan yang membawanya mengarah kepada Kikan namun Bella sama sekali tak berani menyimpulkan hal tersebut hanya karena tebakannya saja.
Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas dari mulut Alvaro saat itu, membuat Bella semakin bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya telah terjadi kepadanya saat ini.
"Semuanya benar-benar berantakan Bel, aku tidak tahu harus memulainya dari mana tapi segalanya yang telah ku bangun selama 10 tahun hilang dalam beberapa bulan." ucap Alvaro dengan raut wajah yang sendu, entah bagaimana lagi ia harus melukiskan segalanya tapi Alvaro juga butuh pendengar untuk meluapkan segala keluh kesahnya.
"Apa ini tentang Kikan?" tanya Bella kemudian.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
__ADS_1
Bersambung