Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Tugas seorang asisten


__ADS_3

Inara yang tak curiga akan siapa tamu yang datang berkunjung ke Rumah, lantas melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah pintu utama dan mulai membuka pintu tersebut dengan perlahan.


Ceklek...


Tepat ketika pintu tersebut terbuka dengan lebar, Inara yang mendapati jika yang datang berkunjung adalah Tamara tentu saja terkejut bukan main dan langsung membeku di tempatnya. Entah apa yang akan Inara katakan kepada Tamara saat ini ketika ia malah tertangkap basah berada di rumah Alvaro siang bolong begini ketika ia mengaku sebagai asisten Alvaro yang baru.


"Mati aku!" ucap Inara dalam hati ketika manik matanya bertemu dengan manik mata Tamara yang menatapnya dengan tatapan yang menelisik.


"Kau... Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Tamara dengan nada yang terdengar begitu ketus, membuat Inara langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar pertanyaan tersebut.


Inara yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung berusaha memutar otaknya dan mencari jawaban yang pas agar Tamara tidak mencurigainya, atau bahkan bertanya yang macam-macam tentang hal-hal yang tidak akan pernah bisa Inara menjawabnya.


"Em.. Saya di tugaskan pak Alvaro untuk menjaga bu Kikan hari ini, namun bu Kikan malah menyuruh saja menunggu di rumah sedangkan bu Kikan masih pergi arisan bersama teman-temannya." ucap Inara kemudian mencoba untuk memutar otaknya.


Tamara yang mendengar jawaban dari Inara barusan tentu saja langsung terdiam sejenak, ditatapnya Inara dari bagian atas kepala hingga ke bawah kaki. Namun sayangnya entah mengapa Tamara merasa curiga kepada perempuan yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.


Bagaimanapun juga penampilan Inara saat ini benar-benar tidak mencerminkan seorang asisten atau bahkan sekretaris Alvaro, penampilan Inara saat ini lebih tepat penampilan seseorang perempuan ketika ia sedang tinggal di rumahnya sendiri atau dalam kata lain dengan pakaian yang santai. Bukankah hal ini sangat mencurigakan?


Tamara yang tak percaya begitu saja kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam, sedangkan Inara yang melihat hal tersebut lantas mulai mengambil langkah kaki mundur dari sana tanpa bisa mengatakan sepatah kata apapun saat ini.


"Ma...u saya buatkan teh Bu?" ucap Inara kemudian dengan nada yang kikuk, membuat langkah kaki Tamara langsung terhenti seketika.


"Boleh juga saya haus.. Buatkan saya jasmine teh dengan cita rasa yang khas." ucap Tamara kemudian sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa dan mengambil duduk di sana.

__ADS_1


"Ba...baik Bu..." ucap Inara kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Tamara di area ruang tamu.


Setelah kepergian Inara dari sana, Tamara menatap punggung Inara dengan tatapan yang malas. Entah mengapa Tamara begitu kesal melihat kehadiran Inara di tengah rumah tangga putrinya, Tamara merasa jika sosok Inara akan menjadi duri dalam rumah tangga putrinya walau ia hanyalah seorang asisten Alvaro saja.


"Lagi pula mengapa Kikan polos sekali dengan membiarkan asisten norak ini berkeliaran di rumahnya dengan mengenakan pakaian santai seperti itu. Apa dia kira ini rumahnya? Benar-benar perempuan gatal, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu!" ucap Tamara sambil menatap kepergian Inara ke arah dapur.


.


.


.


Dari arah dapur Inara terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tamu sambil membawa secangkir teh pesanan Tamara. Dengan langkah kaki yang perlahan Inara mulai membawa cangkir teh tersebut. Hanya saja Tamara yang melihat kedatangan Inara saat ini, lantas langsung tersenyum dengan seketika.


Ditatapnya karpet bulu kesayangan Kikan yang tertata cantik di lantai ruang tamu. Ketika kaki kanan Inara menginjak karpet tersebut, dengan sengaja Tamara menarik karpet tersebut dan membuat tubuh Inara langsung terhuyung dengan seketika saat itu.


Suara gelas yang pecah beserta air teh yang nampak menggenangi karpet, lantas langsung membuat suasana hening terjadi di sana. Inara berhasil selamat dan tidak sampai terjatuh karena memegang dengan erat pegangan sofa yang berada tak jauh dari posisinya berada. Di genggamnya area perutnya dengan erat menggunakan tangan satunya yang bebas ,sedangkan yang lainnya lagi berpegangan pada gagang sofa seakan mencoba untuk melindungi anaknya.


"Aku selamat! Kita selamat nak..." ucap Inara dalam hati sambil mengusap area perutnya.


"Oh astaga dasar wanita kampung! Apa yang kau lakukan dengan karpet mahal putri ku? Tidakkah kau tahu jika karpet ini sangatlah mahal?" pekik Tamara yang tentu saja mengejutkan Inara dengan seketika saat itu.


Inara yang mendengar perkataan dari Tamara barusan tentu saja langsung menatap ke arah karpet tersebut. Ada sebuah perasaan yang bersalah ketika ia melihat karpet bulu milik Kikan nampak basah karena ulahnya barusan.

__ADS_1


"Sa...saya benar-benar minta maaf Bu... Saya.. Saya akan membersihkannya." ucap Inara sambil mulai bergerak mendekat ke arah pecahan cangkir tersebut.


"Asisten yang tak becus, jika Kikan mengetahui hal ini ia pasti akan sangat marah dan menyuruh Alvaro untuk memecat mu. Lagi pula mana ada asisten yang memakai pakaian santai seperti mu ha?" ucap Tamara yang mulai mencecar Inara habis-habisan.


Inara yang mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Tamara, sama sekali tidak mendengarkan perkataannya dan tetap fokus membersihkan pecahan cangkir tersebut. Hanya saja Tamara yang mendadak bangkit dan dengan sengaja menyenggol tubuh Inara saat itu, membuat tangannya yang sedang sibuk mengangkat dan membersihkan pecahan cangkir tersebut lantas tergores terkena serpihan cangkir itu.


Inara meringis menahan rasa sakit di area telapak tangannya dan langsung menjatuhkan kembali beberapa pecahan cangkir yang semula sudah ia pungut dan Inara letakkan di tangan yang satunya.


"Aw..." pekik Inara kesakitan.


"Ups sorry aku bahkan tidak sengaja menyenggol mu, lebay sekali sih!" ucap Tamara sambil berlalu pergi begitu saja menuju ke area dapur dan meninggalkan Inara seorang diri di sana.


Setelah kepergian Tamara dari sana Inara mulai mengambil satu tisu dan membalut lukanya sambil kembali berusaha untuk membersihkan pecahan cangkir tersebut dari sana.


"Sabar Ra... Lagi pula kamu tidak punya hak untuk marah di sini, memang ini yang pantas kamu dapatkan sebagai perusak rumah tangga orang, beruntung saja bu Tamara tidak mengetahui tentang hal ini." ucap Inara pada diri sendiri sambil bangkit dan menuju ke arah dapur untuk membuang serpihan cangkir yang pecah.


**


Dapur


Inara yang baru saja sampai di area dapur dan membuang pecahan cangkir tersebut, lantas di kejutkan dengan keadaan dapur yang sudah acak-acakan dengan posisi lemari pendingin yang terbuka dengan lebar.


"Ap..a yang terjadi Bu..." ucap Inara dengan raut wajah yang terkejut membuat Tamara langsung menghentikan gerakannya dengan seketika.

__ADS_1


"Bersihkan ini semua! Bukankah hal ini juga tugas dari seorang asisten?" ucap Tamara dengan nada yang ketus menatap tajam ke arah Inara.


Bersambung


__ADS_2