Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Terlalu banyak


__ADS_3

Inara yang tak lagi melihat keberadaan Alvaro di kamarnya, lantas menghela napasnya dengan panjang. Sebuah amplop berwarna coklat di atas nakas lantas mengundang perhatiannya saat itu dan membuat Inara langsung melangkahkan kakinya begitu saja menuju ke arah nakas.


Di bukanya amplop tebal tersebut dengan perlahan dan langsung membuat Inara terkejut begitu melihat segepok uang dengan pecahan seratus ribuan, dimana di sana tertulis kisaran uang dengan angka nol sebanyak tujuh.


"Mengapa banyak sekali? Apa yang harus aku beli dengan uang sebanyak ini?" ucap Inara dalam hati sambil menatap uang tersebut dengan tatapan yang bingung.


***


Kamar utama


Kikan yang baru saja bangun dari tidurnya, lantas langsung menatap bingung ke arah pintu kamarnya ketika mendengar suara ketukan pintu yang terus berulang di sana. Kikan yang penasaran siapa yang mengetuk pintu kamarnya, lantas mulai bangkit dari tempat tidurnya dan mulai melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang berada di luar.


Ceklek..


"Inara, ada apa?" tanya Kikan kemudian ketika melihat raut wajah aneh milik Inara.


"Mbak apakah mas Alvaro ada?" tanya Inara kemudian.


"Sepertinya sudah berangkat tadi pagi, aku dengar ia ada kunjungan lapangan hari ini. Memangnya ada apa Ra?" ucap Kikan sambil menguap karena masih mengantuk.


Mendengar perkataan Kikan yang mengatakan jika Alvaro sudah berangkat, tentu saja membuat dirinya langsung menghela napasnya dengan bingung. Entah bagaimana ia harus mengembalikan uang tersebut karena Inara takut jika Alvaro salah dalam memberikan amplop untuknya.


"Ini mbak, mas Alvaro sepertinya salah memberikan amplop untuk ku. Ini terlalu banyak jika hanya untuk waktu satu bulan ke depan mbak." ucap Inara kemudian sambil menunjukkan amplop tersebut.


"Coba sini biar aku lihat!" ucap Kikan kemudian sambil meminta amplop tersebut.


Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Inara memberikan amplop itu kepada Kikan. Dengan raut wajah yang mengernyit Kikan mulai membuka amplop tersebut dan langsung melihat uang tunai senilai 10 juta rupiah di dalamnya.

__ADS_1


"Ini memang punya mu Ra, mas Alvaro hanya bingung memberikan mu nominal berapa jadi ia memutuskan untuk memberikan mu sepuluh juta. Apakah ini masih kurang? Aku masih punya beberapa uang tunai jika kamu mau." ucap Kikan sambil menunjuk ke arah dalam.


Sedangkan Inara yang malah mendengar Kikan akan memberikannya tambahan tentu saja langsung menggeleng dengan keras, membuat Kikan mengernyit dengan seketika begitu melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Inara saat ini. Bukankah seharusnya Inara senang jika mendapatkan jatah bulanan yang banyak? Mengapa ia malah menolak?


"Jangan mbak ini bahkan terlalu banyak." ucap Inara.


Setelah mengatakan hal tersebut Inara kemudian membuka amplop tersebut dan mengambil beberapa lembar uang kemudian memberikan sisanya kepada Kikan. Melihat hal tersebut tentu saja langsung membuat Kikan tercengang karena baru kali ini ia melihat sosok perempuan yang tidak terlalu tertarik dengan uang.


"Tapi itu Ra..." ucap Kikan hendak protes namun keburu di potong oleh Inara, membuat Kikan tidak lagi bisa berkomentar apa-apa ketika melihat tingkah Inara.


"Ini sudah cukup mbak, lagi pula kalian berdua sudah menyediakan kebutuhan ku dengan melimpah di sini, jadi aku tidak lagi memerlukan ini mbak." ucap Inara lagi dengan tersenyum simpul, membuat Kikan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar hal tersebut.


"Iya sudah aku akan mengatakannya kepada Alvaro nanti." ucap Kikan pada akhirnya hanya bisa pasrah.


"Terima kasih banyak mbak..." ucap Inara sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.


"Emmm mbak... Bisakah sama meminjam telpon duduknya? Saya ingin menelpon Ibu saya." ucap Inara dengan nada yang ragu takut jika Kikan tidak mengijinkannya.


"Tentu saja Ra, kenapa kamu harus ijin dulu untuk menggunakannya? Apakah kamu ingin menggunakan ponsel milik ku biar lebih mudah?" ucap Kikan kemudian menawarkan.


"Tidak perlu mbak, lagi pula di sana tidak ada sinyal jadi aku rasa akan sulit jika menghubungi Ibu dengan menggunakan ponsel. Tapi terima kasih banyak ya mbak atas tawarannya..." ucap Inara lagi namun kali ini dengan senyuman yang mengembang di wajahnya kemudian kembali melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.


"Ah pantas saja dia tidak memiliki ponsel, tapi mengapa Alvaro tidak memberinya ponsel? Apakah Alvaro melupakannya?" ucap Kikan bertanya-tanya sambil menatap kepergian Inara dari sana.


***


Ruang keluarga

__ADS_1


Setelah menghubungi kantor kepala desa di sana, saat ini Inara nampak menunggu Banyu memanggilkan Ibunya. Sudah lama sekali Inara tidak mengobrol bersama dengan Ratih membuatnya begitu merindukan sosok Ratih saat ini. Sampai kemudian ketika Inara sedang menunggu sebuah suara di seberang sana, seulas senyum nampak mengembang di wajah Inara ketika mendengar Ibunya berbicara.


"Inara?" panggil Ratih dengan suara yang serak.


"Ibu aku benar-benar merindukan mu Bu..." ucap Inara kemudian dengan senyuman yang mengembang.


"Ibu juga, bagaimana keadaan mu di sana? Apakah Alvaro memperlakukan mu dengan baik? Apakah keluarganya juga baik kepadamu?" ucap Ratih dengan manik mata yang berkaca-kaca namun tentu saja tidak akan bisa dilihat oleh Inara saat ini.


"Iya Bu, mereka semua baik bahkan mbak Kikan begitu baik dan menyayangiku." ucap Inara dengan senyuman yang tak henti-hentinya luntur dari raut wajahnya.


"Siapa Kikan?" ucap Ratih kemudian penasaran.


Inara yang mendengar nama Kikan di sebut oleh Ratih, tentu saja membuat Inara langsung tersadar jika ia baru saja keceplosan dan mengatakan tentang Kikan.


"Ah mbak Kikan itu... Em... Anu saudaranya mas Alvaro Bu..." ucap Inara kemudian mencoba untuk mencari alasan agar Ratih tidak curiga kepadanya.


"Ah seperti itu rupanya, Ibu benar-benar lega ketika mendengar hal tersebut. Ibu harap kamu selalu mendapatkan kebahagiaan nak..." ucap Ratih kemudian yang lantas membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Inara begitu mendengar hal tersebut.


"Tantu saja Bu, aku tutup dulu telponnya lain kali aku sambung lagi." ucap Inara lagi sebelum nantinya Ibunya akan membahas sesuatu yang lainnya.


"Jaga dirimu baik-baik nak Ibu menyayangi mu." ucap Ratih kemudian.


"Iya Bu.. Ibu juga." ucap Inara sebelum pada akhirnya memutus sambungan telponnya.


Setelah sambungan telpon tersebut terputus, helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Inara. Hari ini bahkan sudah lewat satu bulan lebih Inara tinggal di rumah ini, tapi entah mengapa Inara tetap saja merasa asing dan juga tidak enak. Terlebih lagi terhadap Kikan karena tanpa sengaja malah tiba-tiba hadir di tengah-tengah biduk rumah tangga keduanya tanpa ada yang mengundangnya untuk datang.


"Aku berharap Ibu tidak terlalu terkejut ketika mengetahui jika putrinya menjadi istri kedua."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2