Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Pilih salah satu


__ADS_3

"Alvaro menggugat cerai aku, apa Mama puas sekarang?" ucap Kikan dengan nada yang kesal.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Tamara terperanjat, bagaimana bisa ia sama sekali tidak tahu akan hal ini? Tamara yang seakan tidak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya, lantas menggamit tangan Kikan dan menghadapkannya tepat ke arahnya.


Ditatapnya manik mata Kikan dengan tatapan yang intens saat itu, membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Kikan.


"Jangan mengingatkan ku dan terus mencari tahu Ma, cukup Mama mengerti sampai di sini saja." ucap Kikan dengan nada penuh penekanan seakan tidak menginginkan Tamara bertanya lebih lanjut lagi.


"Tapi.. Apa kau sudah gila Ki? Ini bukanlah permasalahan kecil, bagaimana bisa kamu memutuskannya secara sepihak? Apa ini karena wanita itu?" ucap Tamara dengan raut wajah yang kesal.


Mendengar hal tersebut Kikan lantas memalingkan mukanya dan kembali menghela, membuat Tamara yang hanya mendapati kediaman putrinya semakin tidak mengerti akan tingkah Kikan saat ini.


"Jangan terus menghela karena itu tidak akan membantu apapun, ayo sekarang pergi ke Perusahaannya dan kita tanya apa mau Alvaro sebenarnya. Jangan hanya diam seperti ini Ki!" ucap Tamara lagi namun Kikan yang mendengar hal tersebut hanya menatap sekilas ke arah Tamara.


"Apa Mama tidak mengerti juga? Yang dia mau hanya Inara.. Hanya Inara, jadi berhenti membuat ku seakan punya harapan dan peluang besar untuk memperbaiki segalanya. Aku sudah benar-benar lelah, apa Mama tidak bisa melihat situasinya?" ucap Kikan dengan nada yang terdengar frustasi dan berhasil membuat manik mata Tamara membulat dengan seketika.


"Kau itu benar-benar bodoh, jika kau tidak ingin memperbaiki segalanya maka Mama yang akan bertindak. Apa kau pikir Mama akan membiarkan Putri Mama tertindas seperti ini? Tidak akan pernah! Sampai kapanpun tidak akan pernah, jadi jangan harap Mama akan diam saja ketika melihatmu seperti ini." ucap Tamara dengan nada penuh penekanan dan tidak bisa di bantah sama sekali.


"Terserah apa kata Mama, aku tidak perduli entah Mama mengobrak-abrik kantornya atau apapun itu karena aku sudah benar-benar lelah Ma, aku pergi ke atas dulu Ma..." ucap Kikan sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Tamara dengan berjuta pemikirannya saat ini.


Tamara yang melihat kepergian Putrinya, hanya bisa menatap punggung Kikan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tangannya benar-benar mengepal dengan erat. Perasaan marah, hancur, dan juga kecewa tentu saja terasa begitu mengakar di hatinya. Membuatnya tidak lagi bisa memaafkan Alvaro atas apapun yang ia perbuat saat ini kepada Kikan.


"Kau belum tahu aku Al, aku adalah seorang Ibu yang akan berbuat apapun untuk Putri ku. Jika kamu berani melukai hatinya maka bersiaplah untuk menerima setiap hal yang kau perbuat kepada Kikan." ucap Tamara dengan tatapan yang tajam lurus ke arah depan.

__ADS_1


***


Supermarket


Di area parkiran Supermarket terlihat jelas mobil yang di kendarai oleh Agam berhenti sejenak di sana. Helaan napas terdengar berhembus jelas dari mulutnya saat itu. Perkataan Tamara akan segala hal yang menimpa Kikan benar-benar membuat pikirannya sangat kacau saat ini.


Sambil memasang raut wajah suram, Agam mulai menuruni mobilnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam area Supermarket.


"Mbak berikan aku rokok ******** 1" ucap Agam pada seorang karyawan Supermarket tersebut.


"Baik Pak silahkan." ucap kasir tersebut sambil mulai memberikan satu kotak rokok ke arah Agam.


Mendapati hal tersebut Agam lantas mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya kepada kasir tersebut. Disaat ia tengah menunggu kembalian, sebuah suara yang tak asing lantas terdengar dengan jelas di telinganya saat itu. Membuat Agam langsung berbalik badan dengan seketika begitu mendengar suara tersebut.


"Apa kamu mau aku temani Ra? Nanti kita bisa ke kasir sama-sama." ucap Alvaro sambil mengusap lembut rambut Inara saat itu.


"Tidak perlu, hanya sebentar saja." ucap Inara sambil mulai melangkahkan kakinya dengan berlarian menuju ke arah lemari pendingin.


"Jangan lari-lari Ra nanti kamu jatuh..." ucap Alvaro sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Inara saat ini.


Mendapati sebuah pemandangan yang sangat tidak mengenakan untuk Agam saat itu, membuatnya memutuskan untuk mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Alvaro berada saat ini.


"Apakah ini yang kau lakukan di luar?" ucap Agam dengan nada yang begitu dingin sambil menyentuh pundak Alvaro saat itu.

__ADS_1


***


Di luar area Supermarket


Terlihat keheningan terjadi di antara keduanya, Alvaro benar-benar tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan mertuanya di tempat ini. Diliriknya sekilas ke arah belakang seakan mencoba untuk mencari tahu keberadaan Inara di dalam sana.


"Jangan terlalu khawatir Al, bukankah barusan kamu sudah mengirim pesan untuk Inara. Aku harap Inara tidak akan ke sini dan menghampiri ku atau Papa akan benar-benar murka nantinya." ucap Alvaro dalam hati sambil sesekali melirik ke arah dalam Supermarket.


Melihat gerak-gerik menantunya yang seperti itu membuat Agam lantas menghela napasnya dengan panjang. Setelah mengetahui jika ia berada di sini, Alvaro langsung menyeretnya keluar dan berakhir di tempat ini.


"Tidakkah harusnya kamu mengatakan sesuatu?" ucap Agam kemudian yang lantas membuat Alvaro menoleh dengan seketika sambil menghela napasnya dengan panjang saat itu.


"Hukum saja aku Pa, aku tidak akan menyangkal apapun karena memang aku yang melakukannya. Tapi aku mohon jangan salahkan Inara akan semua hal yang terjadi kepada rumah tangga ku. Semua ini murni karena kesalahan ku, aku juga tidak akan menyalahkan Kikan karena semua ini benar-benar adalah kesalahan ku." ucap Alvaro dengan nada yang terdengar menyesal membuat helaan napas kembali terdengar dari mulut Agam saat itu.


"Jika kamu sudah tahu letak kesalahan mu, lalu untuk apa kamu tetap berjalan jauh dan meninggalkan Kikan?" ucap Agam dengan nada yang datar.


"Aku jelas tahu jika menyalahkan Kikan saat ini pasti akan terdengar hanyalah sebuah alasan semata, apalagi mengingat aku dan juga Kikan telah bersama selama bertahun-tahun lamanya. Tapi jauh dari lubuk hati ku yang terdalam, aku sangat-sangat menyesal akan apa yang telah terjadi kepada Rumah tangga kami. Terlalu banyak hal yang di tutupi oleh Kikan selama ini dan hal itu menjadikan boomerang yang tiba-tiba menghantam ku, tepat setelah kedatangan Inara dalam hidup ku. Jujur aku sudah coba untuk berdamai dan memperbaiki segalanya, namun sifat Kikan yang emosian dan tidak mau mendengarkan orang lain menjadikan hubungan kami kian merenggang." ucap Alvaro mencoba untuk menjelaskan segalanya.


"Jika memang seperti itu maka pilih lah salah satu, jangan menggantung putri ku sementara kamu asyik berduaan dengannya. Bukankah itu adalah sikap yang pengecut?" ucap Agam yang masih tidak terima dengan perkataan Alvaro saat ini.


"Sebenarnya kami memutuskan untuk bercerai Pa"


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2