Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Aku minta maaf


__ADS_3

"Apa ini tentang Kikan?" tanya Bella kemudian.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Alvaro dengan raut wajah yang bingung.


"Sebenarnya ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui tentang Kikan dan aku rasa kamu juga harus mengetahuinya." ucap Bella kemudian yang lantas membuat Alvaro langsung mengernyit menatap ke arah Bella dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Apa maksud perkataan mu Bell? Aku sama sekali tidak mengerti." ucap Alvaro dengan tatapan yang mengernyit.


Mendapat pertanyaan tersebut dari Alvaro tentu saja langsung membuat Bella menghela napasnya dengan panjang. Sudah cukup lama Bella menyimpan rahasia ini dan Bella rasa Alvaro juga berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sebenarnya kemandulan Kikan hanyalah sebuah hasil rekayasa semata, Kikan tidaklah mandul dan aku bisa bersaksi untuk hal itu." ucap Bella dengan raut wajah yang yakin.


Bagai petir yang menyambar di siang bolong, pernyataan Bella saat ini benar-benar telah menghancurkan hatinya. Satu kata yang mungkin akan merubah segalanya dalam hidup Alvaro detik itu juga. Perasaannya benar-benar hancur ketika mengetahui jika sebenarnya Kikan tidaklah mandul.


Yang saat ini menjadi pertanyaan dan langsung memenuhi isi kepalanya adalah. Alasan terbesar mengapa Kikan membohongi dirinya dan berpura-pura mandul. Lagi pula apa untungnya?


"Jika kamu mau, aku bisa memberikan mu hasil tes sesungguhnya, aku..." ucap Bella namun terhenti dengan seketika begitu melihat tangan Alvaro yang mengangkat tepat dihadapannya seakan mengatakan agar Bella menghentikan perkataannya sekarang juga.


"Hentikan Bel.. Ku mohon hentikan!" ucap Alvaro sambil mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bella.


"Tapi Al..." ucap Bella hendak berusaha untuk melanjutkan perkataannya, namun Alvaro sudah berlalu pergi begitu saja meninggalkannya.


Ditatapnya punggung Alvaro yang nampak mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan UGD dengan perlahan kemudian menghela napasnya dengan panjang.


"Aku sudah mencoba untuk memperingatkan mu beberapa tahun yang lalu, tapi kamu yang dibutakan oleh cinta nyatanya sama sekali tidak menggubris perkataan ku. Jika sudah menjadi seperti ini, apakah kamu akan mendengarkan perkataan ku barang sekali saja Al?" ucap Bella dengan tatapan yang sendu menatap lurus ke arah kepergian Alvaro saat itu.


***

__ADS_1


Sementara itu di jalanan Ibukota


Mobil yang di kendarai oleh Abi dan juga mobil yang dikendarai oleh Arin terlibat aksi saling kejar-kejaran di jalanan tersebut. Situasi yang lenggang membuat mobil keduanya sama-sama menggunakan kecepatan tinggi dan tidak ada yang mau mengalah sama sekali.


Abi yang tak ingin melepaskan Arin tentu saja semakin menambah kecepatan mobilnya dan mengejar laju kendaraan di depannya.


Sampai kemudian ketika mobil yang di tumpangi oleh Arin sampai di persimpangan jalan, mobil itu mendadak menerobos lampu merah begitu saja. Dengan kecepatan yang tinggi lantas membuat mobil Arin sama sekali tidak bisa di kendalikan dan berakhir dengan di hantam oleh sebuah dam truk yang saat itu melaju tepat di bagian sebelah kanan.


Bruak ....


Sebuah tabrakan yang beruntun tak lagi bisa terhindarkan saat itu juga. Membuat Abi yang sedari tadi ikut melajukan mobilnya dengan kencang, mendadak langsung menginjak pedal remnya dengan kuat dan membanting stir ke arah kiri, guna menghindari sebuah motor yang mendadak melayang karena terhantam salah satu badan truk.


hhhhh


Hembusan napas terdengar berhembus dengan kasar ketika Abi berhasil melewati ambang kematian. Abi yang berhenti secara mendadak benar-benar terkejut ketika mendapati sebuah motor melayang begitu saja hampir mengenai mobilnya.


Beberapa menit Abi hanyut dalam perasaan yang bersyukur, ia lantas tersadar jika di hadapannya saat ini benar-benar kacau. Tabrakan beruntun menyebabkan kemacetan yang panjang di area persimpangan jalan lampu merah.


Abi yang teringat akan mobil yang sedari tadi ia kejar, lantas mulai membawa langkah kakinya keluar dari dalam mobilnya dan berlarian menuju ke arah dimana terjadinya kecelakaan tersebut.


Abi berlari membelah kerumunan semakin ke arah tengah jalanan tersebut. Mobil yang sedari tadi ia kejar kondisinya saat ini benar-benar dalam keadaan ringsek, dimana tak jauh dari posisinya berada sebuah potongan kepala nampak terlihat berada di tengah-tengah jalan dengan bersimbah darah.


Ada sebuah perasaan terkejut dalam diri Abi saat itu, ketika ia mengenali dengan jelas siapa pemilik potongan kepala walau dalam kondisi yang bersimbah darah saat ini.


"Arin!" pekik Abi ketika mendapati jika itu adalah potongan kepala milik Arin salah satu karyawan Beauty yang baru saja di pecat siang tadi karena sebuah insiden.


***

__ADS_1


Ruang UGD


Setelah mendapat informasi dari Bella yang mengatakan jika Kikan sebenarnya tidak lah mandul lantas membuat Alvaro terlihat begitu lesu. Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan masuk ke dalam ruangan tersebut Alvaro menatap kosong ke arah depan. Membuat Inara yang memang sudah dalam keadaan yang sadar, lantas langsung mengernyit begitu mendapati tingkah aneh dari Alvaro saat ini.


Ditatapnya raut wajah Alvaro yang begitu terlihat lesu dengan tatapan yang bertanya, membuat sebuah pemikiran buruk lantas mendadak terlintas di benaknya saat ini.


Inara yang melihat raut wajah Alvaro yang seperti itu berpikir jika bayi di dalam kandungannya tidaklah selamat, membuat Inara langsung mengusap area perutnya yang masih datar itu dengan spontan begitu mendapati langkah kaki Alvaro yang kian mendekat ke arahnya saat ini.


"Apa dia tidak selamat mas?" tanya Inara kemudian dengan raut wajah yang penuh dengan rasa ketakutan.


Sedangkan Alvaro yang memang tengah fokus memikirkan masalah rumah tangganya, lantas hanya mengangguk saja meski ia tidak terlalu mendengar pertanyaan dari Inara dengan jelas saat itu.


"Iya, sepertinya memang tidak bisa di selamatkan lagi." ucap Alvaro dengan lirih sambil mulai mendudukkan pantatnya pada kursi tunggu dan terdiam dengan tatapan yang lesu.


Mendengar hal tersebut jawaban Alvaro yang begitu nyambung dengan pertanyaannya, membuat Inara semakin merasa terpukul karena mengira jika bayi dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan lagi.


"Ba...bagaimana bisa ini semua terjadi... Aku.. Aku bahkan sudah berusaha untuk menjaganya..." ucap Inara mulai menangis.


"Entahlah aku juga tidak tahu bagaimana bisa ini terjadi?" jawab Alvaro seperti layaknya orang yang linglung.


"Aku.. Hik.. Aku benar-benar minta maaf mas.. Aku sungguh tak bermaksud.. Aku sudah berusaha untuk menjaganya, hiks.. hiks.." ucap Inara dengan tangis yang sesenggukan, membuat Alvaro yang mulai tersadar dari lamunannya ketika mendengar tangisan Inara langsung menoleh dengan seketika.


"Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?" tanya Alvaro yang seperti tidak bersalah sama sekali.


"Bayi kita... Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjaga bayi kita..." ucap Inara kembali sambil terus menangis tersedu.


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2