
"Sebenarnya kami memutuskan untuk bercerai Pa" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu ragu
"Apa?" ucap Agam yang tak percaya akan sesuatu yang baru saja ia dengar.
Alvaro yang seakan tahu jika Agam pasti akan terkejut akan berita ini, lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Entah apalagi yang akan ia jelaskan kepada Ayah mertuanya itu. Namun semuanya harus benar-benar jelas saat ini, setidaknya ia tidak akan meminta pembelaan dari Agam. Melainkan memberitahukan yang sebenarnya mungkin itu akan lebih dari cukup, ketimbang Agam harus mengetahuinya setelah keduanya resmi bercerai nantinya.
Agam yang mendengar sebuah pernyataan dari Alvaro barusan, tentu saja terkejut bukan Main. Ia jelas tahu antara Alvaro dan juga Kikan keduanya sama-sama saling mencintai, tapi setelah kedatangan Gadis itu. Entah mengapa semuanya menjadi berubah, membuat Agam yang tidak percaya akan hal tersebut, lantas menatap Alvaro dengan tatapan yang kesal.
"Apa lagi kali ini? Apa kamu masih punya kejutan yang lain selain hal ini?" ucap Agam sambil bangkit dari kursinya saat itu.
"Aku..."
Disaat situasi tengah menegang saat itu, sebuah suara yang sama sekali tidak Alvaro inginkan muncul saat itu. Lantas mulai terdengar di telinga keduanya dan langsung membuat Agam dan juga Alvaro menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Syukurlah kamu disini, Mas apa kamu melihat ponsel ku? Mengapa aku tidak menemukannya di manapun?" ucap Inara yang sama sekali tidak tepat waktunya.
Agam yang mendengar suara gadis yang sama sekali tidak ingin ia dengar saat itu, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya. Di tatapnya Inara dari atas hingga bawah dengan tatapan yang menelisik.
Deg..
Sebuah perasaan aneh yang mendadak Agam rasakan tepat ketika ia melihat Inara, membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Agam jelas tahu wajah Inara seperti sosok yang tak asing selama ini berada di pikirannya. Entah Ini adalah sebuah kebetulan, atau memang sebuah takdir yang sama sekali tidak ia inginkan kedatangannya. Lantas membuat Agam langsung terdiam dengan seketika sambil menatap ke arah Inara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Ratih..." ucap Agam tanpa sadar yang tentu saja membuat Inara mengernyit ketika mendengarnya.
Sosok Inara yang begitu mirip dengan seseorang yang membuatnya berpaling dari Amara beberapa tahun yang lalu. Mendadak kembali hadir dalam versi lebih muda, Agam terdiam di tempatnya apa yang ia lihat bisa jadi bukanlah kenyataannya.
__ADS_1
Agam yang takut jika ini lagi dan lagi hanya ilusinya saja, kemudian mulai menggelengkan kepalanya perlahan dan kembali menatap ke arah Inara. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat bingung Alvaro dan juga Inara saat itu.
Sampai kemudian sebuah tepukan tangan di pundak yang berasal dari Alvaro, lantas langsung membuyarkan segala pemikiran Agam saat itu dan memutus kontak pandangan matanya terhadap Inara.
"Apa ada sesuatu Pa?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak ada, sepertinya lain kali kita sambung pembicaraan kita. Aku harap ketika kita bertemu selanjutnya aku akan mendengar hal baik dari mu." ucap Agam kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi tanpa menunggu jawaban apapun dari Alvaro saat itu.
"Tapi Pa.." ucap Alvaro namun terputus ketika melihat Agam sudah melangkahkan kakinya berlalu pergi dari hadapannya.
Inara yang melihat hal tersebut tentu saja merasa bersalah dan menatap kepergian Pria paruh baya tersebut dengan tatapan yang sendu.
"Harusnya tadi aku menahan diri ku untuk tidak menghampiri mas Alvaro." ucap Inara dalam hati ketika melihat raut wajah kecewa Alvaro saat ini.
"Aku minta maaf Mas..." ucap Inara kemudian yang lantas membuat Alvaro langsung menoleh menatap ke arah sumber suara.
"Tidak-tidak ini bukan salah mu.. Aku sungguh lupa jika kamu menjatuhkan ponsel mu di mobil tadi." ucap Alvaro kemudian sambil mengusap pundak Inara dengan lembut.
"Apakah ada sesuatu, ah harusnya aku mengambilnya dulu sebelum turun tadi." ucap Inara yang semakin merasa bersalah karenanya.
"Sudahlah, lagi pula semua sudah terjadi bukan? Apa kamu sidah membayar belanjaannya?" ucap Alvaro kemudian yang lantas di balas Inara dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu sebaiknya kita pulang saja, hem?" ucap Alvaro lagi sambil menuntun Inara agar mulai bergerak dari sana.
"Tapi nanti.." ucap Inara yang masih merasa tidak enak.
__ADS_1
"Sudah tak apa..." ucap Alvaro sambil kembali menarik tangan Inara saat itu.
**
Sementara itu di dalam mobil
Agam yang baru saja melihat seseorang yang mirip kenalannya setelah sekian lama tak pernah berjumpa, lantas hanya bisa diam mematung sambil menatap lurus ke arah depan. Ditatapnya Inara yang sedang di gandeng Alvaro dengan erat menuju ke mobilnya. Entah perasaan apa yang menghinggapi dirinya, tapi yang jelas wajah Inara benar-benar mengingatkannya kepada seseorang.
Diusapnya raut wajahnya dengan kasar kemudian menarik napasnya dalam-dalam, tepat di saat mobil milik Alvaro terlihat mulai meninggalkan plataran Supermarket saat itu. Pikirannya kali ini benar-benar sangat kacau, tidak hanya tentang perceraian putrinya dan juga Alvaro. Melainkan tentang gadis berwajah mirip dengan seseorang yang selalu mengisi hatinya beberapa tahun yang lalu.
"Bagaimana bisa takdir mempermainkan ku dengan sebegini rupa? Dosa apa yang aku lakukan hingga Kikan harus merasakan semua penderitaannya? Mengapa harus dia yang merebut kebahagiaan Putri ku saat ini?" ucap Agam dengan raut wajah yang kesal saat itu.
Agam kembali terdiam sambil menyandarkan kepalanya pada kursi pengemudi. Setelah dipikir-pikir ia sudah cukup lama tidak bertemu dengan Ratih tepat setelah hubungannya di ketahui oleh Tamara saat itu. Membuat helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulutnya ketika ia kembali teringat akan wajah ayu khas gadis desa yang hanya dimiliki oleh Ratih. Wanita yang beberapa tahun lalu ia temui dan membuat hatinya tertambat hingga saat ini.
"Apa kabar dengan Ratih? Aku harap ia selalu baik-baik saja." ucap Agam sebelum pada akhirnya mulai melajukan mobilnya meninggalkan area Supermarket.
***
Kediaman Ratih
Hacuh... Hacuh...
Suara Ratih yang bersin terdengar cukup keras di ruangan tersebut. Entah apa yang terjadi namun hidungnya saat ini terasa begitu gatal meski ia tidak sedang sakit flu ataupun demam.
"Mengapa hidung ku gatal sekali? Apakah ada seseorang yang tengah membicarakan ku? Ada-ada saja..." ucap Ratih sambil kembali melangkahkan kakinya bersiap untuk pergi ke dapur dan mulai memasak karena lapar.
__ADS_1
Bersambung