
Rumah sakit
Di ruangan Bella, terlihat Bella saat ini tengah mendengus kesal. Entah mengapa meski sudah di rujuk ke Dokter kandungan, Alvaro tetap saja membawa Inara cek kandungan kepadanya. Entah apa tujuannya sebenarnya namun yang jelas Bella sudah mulai lelah terus mengatakan hal tersebut kepada Alvaro.
"Mengapa kau selalu saja kembali kemari? Bukankah beberapa waktu yang lalu aku merekomendasikan mu Dokter kandungan?" ucap Bella dengan taut wajah yang di tekuk kesal.
"Entahlah, aku juga bingung kenapa aku harus terus datang ke tempat mu." ucap Alvaro dengan raut wajah yang sedikit lesu, membuat Bella langsung terdiam ketika mendengar jawaban dari Kafin barusan.
Inara terdiam melirik ke arah Bella yang terlihat merubah ekspresi raut wajahnya tepat ketika mendengar jawaban dari Alvaro barusan. Sampai kemudian ia yang menyadari sesuatu, lantas terlihat bangkit dari tempat duduk di meja konsultasi membuat keduanya langsung saling pandang antara satu sama lain.
"Bolehkah aku menggunakan toiletnya sebentar?" ucap Inara kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Bella saat itu.
Setelah mendapat izin dari Bella, tanpa menunggu waktu lama lagi Inara langsung membawa langkah kakinya menuju ke arah toilet yang berada tak jauh dari tempat praktek Bella saat itu. Sepertinya Inara memang harus memberikan keduanya waktu untuk berbagi cerita bersama, lagipula keduanya teman lama jadi sudah sepantasnya mereka ingin membagi sesuatu. Mengingat keputusan besar yang baru saja di ambil oleh Alvaro kemarin.
Bruk...
Suara pintu yang tertutup tepat ketika Inara masuk ke dalam toilet, lantas membuat suasana menjadi hening dengan seketika. Ditatapnya raut wajah Alvaro yang begitu sendu saat ini, membuat rasa penasaran yang ada dalam diri Bella semakin terpanggil ketika mendapati raut wajah Alvaro yang seperti itu.
"Apa ada sesuatu? Mengapa raut wajah mu aneh sekali?" ucap Bella dengan penasaran.
__ADS_1
Entah mengapa Bella merasa kedatangan Alvaro yang lagi dan lagi kemari, bukan hanya sekedar untuk mengantarkan Inara cek kandungan. Melainkan untuk menceritakan suatu permasalahan yang mungkin bersangkutan dengan dirinya dan juga Kikan.
Helaan napas kasar terdengar jelas berhembus dari mulut Alvaro saat itu, membuat raut wajah Bella semakin terlihat kebingungan karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Alvaro. Selain hanya raut wajahnya yang terlihat aneh bagi Bella saat itu.
"Aku memutuskan untuk bercerai dengan Kikan." ucap Alvaro pada akhirnya, membuat Bella lantas sedikit mengernyit ketika mendengar hal tersebut.
"Ya sudahlah.. Aku yakin kamu hanya butuh waktu untuk penyesuaian, lagi pula kamu pasti sudah memikirkan sisi positif dan negatifnya bukan? Jadi aku rasa cukup jalani saja dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting." ucap Bella dengan nada yang begitu santai.
Mendengar nada bicara Bella yang begitu santai, tentu saja membuat Alvaro tidak mengerti. Bukankah sebagai sahabat yang berada di tengah-tengah, Bella seharusnya memarahinya atau bahkan memakinya? Tapi yang Bella lakukan hanya mengiyakan perkataan Alvaro tanpa mengatakan hal lain, selain menasehatinya hal-hal kecil yang seakan-akan ia menyetujui tentang perceraian ini.
"Kau mendukung apa yang aku lakukan? Apa kau yakin? Aku bercerai dengan Kikan loh? Bagaimana kamu bisa sesantai ini?" ucap Alvaro dengan raut wajah kebingungan yang seakan-akan tidak mengerti tentang perkataan dari Bella barusan.
"Jika kamu bercerai memang apa masalahnya? Lagi pula ini adalah keputusan yang kamu ambil, bukan? Lalu mengapa kamu masih bertanya kepadaku? Benar-benar aneh!" ucap Bella sambil meletakkan gelas tersebut tepat di depan Alvaro saat itu.
Sedangkan Alvaro yang mendengar perkataan dari Bella barusan, lantas mendengus dengan kesal. Bagaimana bisa Bella malah bersikap begitu santai dengan apa yang terjadi kepada dirinya? Disaat ia bahkan hampir tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya.
"Ya ya ya kau selalu benar dalam segala hal dan aku selalu salah dalam segala hal!" ucap Alvaro kemudian dengan nada yang kesal, membuat raut wajah Bella mendadak menjadi datar dengan seketika.
"Jika memang seperti itu mengapa kamu tidak memilih ku? Bukankah aku jauh lebih baik dalam segala hal?" ucap Bella kemudian yang lantas membuat Alvaro mengernyit ketika mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Bella saat itu.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari tepat ketika Bella mengatakan hal tersebut, Inara yang memang sudah keluar dari kamar mandi langsung terkejut dengan seketika. Ia tidak menyangka jika Bella akan mengatakan hal tersebut kepada Alvaro, membuatnya tanpa sadar langsung menukik dengan keras.
"Apa?" ucap Inara yang tentu saja langsung membuat Bella dan juga Kafin langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
Suasana mendadak me jadi hening sesaat tepat ketika Inara tanpa sadar mengungkapkan rasa keterkejutannya barusan. Sampai kemudian sebuah suara tawa yang menggema dengan keras di ruangan tersebut, lantas terdengar dan langsung membuat Alvaro dan juga Inara menatap ke arah sumber suara dengan seketika.
"Hahahaha ada apa dengan raut wajah kalian berdua? Apakah kalian lupa jika hari ini adalah bulan Apri? April mop... Itupun kalian tak tahu hahahaha!" ucap Bella sambil tertawa dengan keras.
"Yang benar saja, kau membuat aku terkejut akan perkataan mu. Lagi pula dunia akan kiamat jika memang kita berdua menikah. Tingkah mu yang petakilan seperti itu tentu saja akan membuat ku sakit kepala karenanya, jika harus melihat mu tiap hari sepanjang hidupku!" ucap Alvaro dengan diiringi gelak tawa menghiasi wajahnya saat itu, namun sayangnya malah berhasil membuat Bella cemberut karenanya.
"Sialan kau! Lihat saja jika nanti aku menikah.. Akan aku pastikan suami ku akan mendapatkan beribu-ribu kasih sayang dariku. Dan tentunya aku berdoa agar suami ku tidak akan seperti dirimu." ucap Bella dengan nada yang kesal.
"Ya ya ya aku percaya akan hal itu ha ha ha..." ucap Alvaro kemudian.
Perkataan Bella memang terdengar begitu sepele dan juga seperti candaan. Namun bagi Inara yang notabenya adalah seorang perempuan, perkataan Bella kepada Alvaro tadi bukanlah hanya sebuah candaan semata. Seakan Inara merasa seperti terselip sebuah perasaan atau bahkan makna tertentu yang entah terjadi sejak kapan. Tapi yang jelas Inara yakin bahwa perkataan Bella sebelumnya bukanlah main-main.
"Ada apa sebenarnya di antara mereka berdua? Aku rasa kisah mereka tidak hanya sampai di sini. Apa Bella juga akan menjadi saingan ku dalam mendapatkan hati mas Alvaro?" ucap Inara dalam hati sambil menatap keduanya secara bergantian.
Bersambung
__ADS_1