Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Hanya seorang asisten


__ADS_3

"Sudah ku bilang untuk tidak perlu khawatir, lagi pula...." ucap Kikan namun terpotong ketika mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya.


Sebuah suara yang tentu saja langsung mengejutkan Kikan saat itu. Apalagi ketika Kikan menyadari siapa pemilik suara tersebut. Baik Inara dan juga Kikan yang mendengar panggilan tersebut di tengah hiruk pikuk pengunjung di Mall tersebut perlahan-lahan terlihat mulai berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.


"Kikan!" ucap sebuah suara yang saat ini berada tepat di belakang keduanya.


"Mama..." ucap Kikan kemudian dengan ragu membuat Inara yang berada di sampingnya tentu saja langsung terkejut begitu mendengar Kikan memanggil wanita paruh baya tersebut dengan sebutan Mama.


Tamara yang melihat putrinya nampak begitu gugup saat ini kemudian terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada dengan tatapan yang intens. Ada sebuah rasa penasaran dalam dirinya ketika ia melihat Inara saat ini tengah berdiri di samping Kikan dengan membawa beberapa barang belanjaan keduanya.


"Tumben kamu belanja gak mengabari Mama? Biasanya kamu selalu mengajak Mama, oh ya siapa dia? Mengapa Mama belum pernah melihatnya sama sekal?" ucap Tamara kemudian yang langsung mencerca beberapa pertanyaan kepada Kikan, membuat Kikan menjadi mati kutu begitu pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Tamara saat itu.


"Em dia... Dia...." ucap Kikan yang terjeda cukup lama, membuat Tamara lantas semakin curiga ketika melihat gerak-gerik aneh putrinya.


Kikan sendiri bahkan bingung hendak memperkenalkan Inara sebagai apa kepada Tamara saat ini. Jika Kikan mengatakan yang sejujurnya tentu saja Tamara akan sangat marah kepadanya, mengingat apa yang dilakukan Kikan dengan meminta Alvaro menikah lagi adalah sebuah tindakan bodoh yang pernah ia pilih dalam kehidupan rumah tangganya.


Sampai kemudian Inara yang mulai memahami segala situasinya saat ini kemudian malah maju memperkenalkan dirinya sendri, namun bukan sebagai istri kedua seorang Alvaro melainkan sebagai seseorang dengan status yang lain.


"Perkenalkan Bu saya Inara asisten pak Alvaro yang baru, saya ditugaskan Bapak untuk menemani bu Kikan berbelanja saat ini." ucap Inara dengan mencoba tersenyum seramah mungkin.


Mendengar penjelasan dari Inara barusan tentu saja langsung membuat Tamara mengernyit dengan seketika, sedangkan Kikan langsung menatap ke arah Inara dengan tatapan yang bertanya akan perkataan Inara barusan yang tiba-tiba. Namun Inara yang seakan tahu maksud tatapan dari Kikan barusan hanya membalasnya dengan senyuman yang simpul, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Kikan saat itu.


"Oh hanya seorang asisten rupanya." ucap Tamara kemudian dengan tatapan yang menelisik ke arah Inara dari atas hingga bawah, membuat Inara hanya bisa tersenyum menanggapi tatapan dari Tamara saat ini.


**

__ADS_1


Counter makanan


Setelah puas berbelanja ketiganya kemudian memutuskan untuk mengisi perut mereka saat itu. Karena Inara memperkenalkan dirinya sebagai seorang asisten, alhasil semua barang belanjaan milik Kikan dan juga Tamara semua di limpahkan kepada Inara untuk ia bawa dalam satu kali genggaman, membuat tangan Inara kini terasa begitu pegal dan juga kesemutan karenanya.


Ketika sampai di counter makanan disaat keduanya sudah duduk di salah satu meja yang ada di sana. Inara yang sudah mulai pegal membawa barang belanjaan keduanya, lantas meletakkannya dengan perlahan ke kursi kemudian hendak mengambil duduk di sebelah Kikan, namun terhenti ketika mendengar sebuah suara dingin yang berasal dari Tamara saat itu.


"Berhenti di sana! Apa yang kau lakukan dengan duduk bersama kami?" ucap Tamara dengan nada yang ketus namun berhasil membuat Inara mengernyit dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.


"Saya..." ucap Inara kebingungan ketika mendapat pertanyaan tersebut.


"Sudahlah Ma, lagi pula Inara pasti juga lapar bukan? Jadi biarkan saja dia makan bersama dengan kita." ucap Kikan kemudian mencoba untuk menenangkan sekaligus membujuk Ibunya.


"Kikan, bagaimana kamu bisa mengatakan hal tersebut dengan santai? Bukankah Mama sudah mengajarkan mu agar tidak makan dalam satu meja bersama para pekerja? Yang ada mereka semua nanti melunjak karena merasa setara dengan bos!" ucap Tamara dengan nada yang ketus membuat Inara langsung menelan salivanya dengan kasar ketika mendengar hal tersebut.


"Pantas saja bu Kikan tidak mau makan semeja dengan bi Lastri ternyata ini alasannya." ucap Inara dalam hati masih sambil posisi setengah duduk.


"Tidak apa mbak.. Eh maksud saya Bu, biar saya duduk di meja sebelah." ucap Inara kemudian yang lantas membuat senyuman tipis terlihat dengan jelas di wajah Tamara saat itu.


"Tapi Ra..."


"Saya sungguh tak apa Bu.." ucap Inara lagi kembali meyakinkan Kikan sebelum pada akhirnya berlalu pergi dan bergeser ke meja sebelahnya, membuat Kikan lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang ketika melihat Inara pindah ke meja sebelah.


***


Malam harinya di kamar utama

__ADS_1


Kikan yang baru saja selesai bebersih kemudian terlihat melangkahkan kakinya naik ke arah ranjang, dimana Alvaro terlihat masih sibuk mengotak-atik laptopnya mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.


"Em Yang.. Apakah menurut mu Inara akan marah kepadaku karena kelakuan Mama tadi?" tanya Kikan tiba-tiba yang lantas menghentikan gerakan Alvaro saat itu.


Alvaro yang mendengar pertanyaan tersebut kemudian lantas menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas.


"Tak perlu khawatir aku yakin Inara pasti akan mengerti, biar aku yang akan memberinya penjelasan nanti." ucap Alvaro kemudian sambil mengusap punggung Kikan saat itu.


"Sungguh Yang?" tanya Kikan kemudian seakan tak percaya.


"Hem.. Sekarang pergilah tidur karena hari sudah kian larut." ucap Alvaro kemudian sambil mengecup puncak kepala Kika. sedangkan tangannya menepuk pundak Kikan secara perlahan agar Kikan bisa tidur dengan nyenyak.


.


.


.


.


Setelah memastikan Kikan sudah tidur, Alvaro kemudian mulai turun dari ranjang dengan gerakan yang hati-hati. Diselimutinya tubuh Kikan dengan perlahan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk melihat keadaan Inara. Entah mengapa Alvaro yakin jika mertuanya tadi benar-benar telah menyusahkan Inara, Alvaro bahkan sangat hapal betul akan sifat dan watak mertuanya, membuat Alvaro langsung mempercepat langkah kakinya hendak menuju ke arah kamar Inara.


Dengan langkah kaki yang perlahan Alvaro mulai terus membawa langkah kakinya melintasi area lantai dua dan menuju ke arah kamar Inara yang berada tak jauh dari kamar utama. Sampai kemudian ketika pandangan Alvaro menangkap sebuah cahaya lampu yang masih menyala di area bawah, lantas membuat Alvaro mengintip dari atas akan sumber cahaya tersebut.


"Ah sudah ku duga..." ucap Alvaro ketika melihat ke arah bawah dan mendapati Inara di sana seorang diri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2