Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Aku benar-benar tidak bisa


__ADS_3

"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Alvaro kemudian dengan nada yang bingung.


Penampilan Inara benar-benar berbeda dari biasanya. Bibir yang semula berwarna merah muda alami dan juga natural, saat ini berganti dengan warna merah menyala dan juga riasan tebal yang semakin mempertegas raut wajah Inara saat ini. Wajah ini benar-benar terlihat begitu santai walau Inara tahu akan kedatangan Alvaro yang mendekat ke arahnya.


Inara yang mendapat pertanyaan dari Alvaro bukannya menjawab, malah bangkit dadi tempat duduknya kemudian mengambil langkah mendekat secara perlahan ke arah dimana Alvaro berada. Dibukanya secara perlahan Kimono yang membalut lingerie di tubuhnya kemudian Inara membuangnya begitu saja ke lantai. Membuat Alvaro yang melihat hal tersebut lantas semakin di buat kebingungan akan sikap Inara saat ini.


Inara terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Alvaro berada dan menggenggam tangan Alvaro dengan erat membawanya menuju ke arah ranjang. Inara menuntun Alvaro untuk duduk di atas ranjang kemudian memegang wajah Alvaro dengan perlahan.


Alvaro yang mengetahui ini sudah tidak benar, lantas mulai menghentikan gerakan tangan Inara dan menatap manik mata gadis itu dengan tatapan yang intens.


"Apa yang telah terjadi sebenarnya Ra? Jangan bermain gila seperti ini! Katakan kepadaku ada apa?" ucap Alvaro dnegan raut wajah yang tidak suka.


Alvaro benar-benar tidak suka dengan Inara yang saat ini, seorang Inara yang memiliki image gadis polos dan juga ceria mendadak menjadi garang dan juga se*i, membuat Alvaro begitu bingung akan sikap Inara saat ini.


Inara yang mendapat pertanyaan dari Alvaro bukannya langsung menjawab malah tersenyum dengan tipis dan menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Aku hanya menjalankan tugas ku dan mas lakukanlah tugas kamu sebagai seorang suami, bukankah lebih cepat hal itu akan lebih baik bagimu?" ucap Inara sambil mendorong tubuh Alvaro yang lantas membuat Alvaro langsung dalam posisi terlentang di atas ranjang.

__ADS_1


Alvaro terkejut ketika Inara melakukan hal tersebut kepadanya, ini sama sekali bukan Inara yang Alvaro kenal. Rasanya Alvaro benar-benar merasa banyak hal yang berbeda dalam diri gadis itu walau hanya beberapa jam saja. Alvaro yang melihat tangan Inara terus bermain dan mencoba untuk merangsangnya, lantas membuat Alvaro menarik tangan Inara dan langsung membalikkan posisi tubuhnya sehingga saat ini Inara berada tepat di bawah Alvaro.


Inara yang mendapati semuanya berbalik tentu saja takut dan juga terkejut, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya sebisa mungkin agar Alvaro tidak mengetahuinya.


"Katakan kepadaku apa yang terjadi kepadamu atau aku tidak akan melepaskan mu sama sekali!" ucap Alvaro namun kali ini dengan nada yang sedikit meninggi dan mengejutkan Inara saat itu.


"Bukankah kamu menginginkan seorang keturunan? Maka lakukan! Lagi pula aku adalah istrimu, jadi lakukan dengan cepat agar aku bisa segera pergi dari sini, apa kamu tidak mengerti juga?" ucap Inara dengan raut wajah yang memerah karena menahan kesal.


Kata-kata Alvaro yang mengatakan hanya memanfaatkannya untuk sebuah keturunan semata benar-benar membekas di ingatannya, membuat Inara begitu membenci sosok Pria yang semula ia kagumi itu. Kata-kata Alvaro benar-benar melukai hatinya, bagaimana bisa Alvaro mengatakan hal tersebut dengan begitu mudahnya padahal Inara benar-benar menghormati dan mengaguminya. Namun nyatanya semua hanyalah sebuah ilusi semata yang tak pernah Inara bisa gapai secara nyata.


Mendengar perkataan Inara barusan tentu saja membuat Alvaro terkejut seketika. Alvaro bahkan tidak menyangka jika Inara mengetahui segalanya tanpa harus ia menjelaskan segalanya kepada Inara secara langsung.


Inara mengedipkan kelopak matanya beberapa kali yang terasa begitu panas karena manik matanya yang berair. Kemudian menghela napasnya dengan panjang seakan mencoba membenahi hatinya yang tengah berantakan saat ini.


"Itu tidaklah penting mas yang terpenting saat ini lakukan saja tugas mu aku siap lahir dan batin, lakukan saja mas sekarang daripada kamu menyuruh ku untuk menanam benih, aku lebih memilih untuk kamu buahi secara langsung." ucap Inara sambil menutup matanya dengan spontan.


Entah apa yang dipikirkan oleh Inara saat ini, namun yang ada dipikirannya adalah lebih baik Inara di buahi secara langsung dari pada harus melalui jalur medis seperti yang dikatakan oleh Alvaro ketika pembicaraannya dengan Kikan di bawah tadi.

__ADS_1


Alvaro tertegun akan sikap yang diambil oleh Inara saat ini, padahal Alvaro melakukan hal tersebut agar tidak meninggalkan jejaknya di area sensitif milik Inara. Namun nyatanya Inara malah memberikannya secara sukarela, membuat Alvaro sama sekali tidak mengerti akan jalan pikiran Inara saat ini.


Alvaro terdiam menatap ke arah Inara yang saat ini terlihat sedang menutup matanya dengan rapat sambil mencengkram seprei dengan erat. Hanya dengan melihatnya saja Alvaro jelas tahu jika Inara tengah merasa takut saat ini, membuat Alvaro lantas menjadi tidak tega kepadanya.


"Aku tidak bisa melakukan ini, Inara terlalu berharga jika harus ku gagahi tanpa sebuah perasaan, aku benar-benar tidak bisa!" ucap Alvaro dalam hati sambil menatap ke arah Inara dengan tatapan yang menelisik.


Hanya saja ketika Alvaro hendak bangkit dari posisinya dan meninggalkan Inara pergi dari sana, sebuah bayangan bagaimana Kikan menangis setiap malamnya lantas membuat Alvaro menghentikan gerakannya. Ditatapnya kembali Inara yang saat ini masih memejamkan matanya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Alvaro saat ini sampai ketika ia hendak berlalu pergi Alvaro malah melihat sosok Kikan pada wajah Inara. Yang lantas membuat Alvaro terbuai sejenak apalagi ketika melihat lingerie berwarna merah melekat di tubuh Inara. Benar-benar membuatnya begitu tergoda.


Sampai kemudian tanpa berpikir panjang Alvaro yang mengira jika itu adalah Kikan, lantas mulai menjelajahi area leher Inara dengan gerakan yang perlahan namun sangat sensual, membuat suara desa**n Inara keluar tanpa Inara bisa menahannya.


Mendengar suara desa**n yang berbeda tentu saja membuat Alvaro langsung menghentikan gerakannya karena tersadar jika yang berada di bawahnya sekarang bukanlah Kikan melainkan Inara istri keduanya. Alvaro yang menyadari hal tersebut lantas langsung bangkit dari posisinya sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar.


"Aku benar-benar tidak bisa melakukannya, aku benar-benar tidak bisa, jadi aku harap kamu tidak memaksa diriku!" ucap Alvaro sambil mulai mengambil langkah mundur dan berlalu pergi dari sana menuju ke arah kamar mandi.


Entah bagaimana perasaan Inara saat ini tapi yang jelas begitu menyakitkan dan tidak bisa digambarkan bagaimana rasa sakit itu sendiri.


"Apa aku hanya boneka mu saja mas? Sepertinya aku yang terlalu bodoh karena mengira Alvaro adalah sosok pangeran berkuda yang menyelamatkannya dari para bandit kejam, namun nyatanya aku benar-benar salah!" ucap Inara sambil menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup dengan rapat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2