
"Aku sudah tahu..." ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu santai.
Sedangkan Chris yang mendengar perkataan dari Alvaro barusan, tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung. Chris bahkan benar-benar tidak mengerti akan maksud dari perkataan Alvaro barusan, jelas-jelas sebelumnya Alvaro benar-benar terlihat emosi ketika mendapati jika Chris berada di dalam Apartemennya.
Namun setelah beberapa menit berada di dalam dan menenangkan Inara saat itu, mendadak Alvaro mengatakan jika ia telah mengetahui semuanya. Bukankah hal tersebut benar-benar membingungkan?
"Apa?" ucap Chris yang tidak mengerti akan perkataan Alvaro barusan.
"Aku tahu jika Inara tidak akan mengkhianati ku, namun ketika melihat kalian berdua tadi bersama tentu saja membuat ku sangat marah sehingga tidak bisa mengontrol emosiku. Aku memaafkan mu untuk kali ini, aku harap kamu tidak mengulanginya lagi. Kamu boleh pergi sekarang." ucap Alvaro kemudian dengan nada yang datar, membuat Chris yang mendengar hal tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang.
"Terima kasih karena telah mempercayainya, aku harap kamu tidak menyianyiakan wanita seperti dirinya, aku permisi..." ucap Chris yang mulai mengerti akan situasinya.
Alvaro yang mendengar perkataan dari Chris barusan hanya menatap tidak suka ke arahnya. Sedangkan Chris yang ditatap sama sekali tidak terlihat risih karenya. Sesuai dengan perkataanya barusan, Chris kemudian terlihat melangkahkan kakinya ke arah sofa dan langsung menggendong tubuh Alika saat itu. Dengan langkah kaki yang perlahan Chris mulai membawa langkah kakinya keluar dari unit Apartment tersebut.
Setelah kepergian Chris dari sana Alvaro nampak mengusap raut wajahnya dengan kasar. Sambil mencoba mengatur napasnya secara perlahan, Alvaro terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur. Dibukanya sebuah lemari kecil yang terletak di sudut dapur dan mengambil sebotol wine di sana.
Entah mengapa melihat Inara dan juga Chris membuat hatinya begitu cemburu karenanya. Alvaro tahu jika ia tidak menyukainya hal tersebut, namun ia tidak pernah semarah ini. Biasanya ia selalu bisa berpikir dengan jernih dalam melihat segala situasinya.
Saat ini untuk pertama kalinya Alvaro meminum kembali wine tersebut dengan sekali tegukan. Sudah lama sekali Alvaro tidak minum-minum seperti ini, biasanya ia akan minum jika ia sedang ada masalah atau bahkan pikirannya yang tidak tenang. Masalah yang menimpanya kali ini benar-benar membuatnya begitu gelisah dan juga kecewa bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Sambil meremas gelasnya dengan kuat Alvaro nampak menatap tajam ke arah depan.
Pyak....
Gelas tersebut pecah tepat ketika Alvaro menggenggamnya dengan sangat kuat. Entah tangan Alvaro yang terlalu kuat, atau memang gelas tersebut yang begitu tipis. Namun karena hal tersebut membuat darah segar nampak menetes di area telapak tangannya saat ini.
Alvaro terdiam di tempatnya rasa sakit yang saat ini berada di tangannya, nyatanya sama sekali tidak membuatnya kesakitan. Perubahan sikap Kikan dan segala hal yang mulai terbongkar secara perlahan, lebih melukai hatinya ketimbang rasa sakit di tangannya saat itu.
"Mengapa semuanya bisa jadi seperti ini?" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu serak.
**
Kediaman Alvaro
Kikan nampak meringkuk di atas ranjang dengan ukuran king size yang terletak di kamarnya saat itu. Disaat-saat seperti ini ia benar-benar merindukan sosok Alvaro di sisinya. Setetes air mata nampak menetes mengalir membasahi bantal miliknya saat itu. Meski Kikan tidaklah sebaik itu, namun nyatanya ia tetap saja perempuan yang memiliki hati rapuh dan juga bisa menangis.
"Aku merindukan mu Al... Tidak bisakah kau datang kepadaku saat ini? Aku benar-benar merindukan mu! Aku benci akan kehadiran j**ang itu, dia telah merebut segalanya dari ku hiks hiks... Aku merindukan mu Al..." ucap Kikan dengan tangis yang sesenggukan meratapi segala nasib buruk yang menimpa dirinya.
Di saat perasaan kesepian benar-benar memenuhi hatinya, sebuah suara pintu yang terbuka dari arah luar lantas langsung mengejutkan Kikan saat itu. Sedangkan Kikan yang mendengar suara pintu terbuka saat itu, tentu saja langsung bangkit dari posisi tidurnya dan menatap ke arah sumber suara, untuk melihat siapa yang lancang membuka pintunya tanpa ijin.
__ADS_1
"Alvaro?" pekik Kikan yang terkejut akan kehadiran seseorang yang baru saja memenuhi isi kepalanya saat itu.
Kikan yang mendapati kedatangan Alvaro, lantas langsung bergegas bangkit dari posisinya kemudian berlari mendekat ke arah Alvaro. Dimana saat ini Alvaro tengah berdiri di ambang pintu dengan menatap lurus ke arahnya saat itu.
"Al... Akhirnya kamu datang! Aku benar-benar merindukan mu Al..." ucap Kikan dengan raut wajah yang bahagia sambil memeluk tubuh Alvaro dengan sangat eratnya kala itu.
Alvaro yang dipeluk seperti itu oleh Kikan hanya terdiam di tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Sampai kemudian Kikan yang baru menyadari sebuah bau menyengat menempel pada tubuh Alvaro, lantas begitu terasa ketika ia memeluk tubuh Alvaro saat itu. Mendapati hal tersebut, tentu saja membuat Kikan mulai membuatnya melepas secara perlahan pelukannya dan menetap ke arah Alvaro dengan tatapan yang mengernyit.
"Kamu mabuk Al? Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini, terakhir kali kamu mabuk beberapa tahun yang lalu tepat ketika aku di vonis tidak bisa memiliki keturunan saat itu. Apakah kamu..." ucap Kikan dengan raut wajah yang kebingungan, namun Alvaro yang mendengar hal tersebut lantas tersenyum dengan tipis.
Alvaro yang mendengar setiap kata keluar dari mulut Kikan saat itu, lantas langsung menarik tangan Kikan dan mengarahkannya ke arah dinding. Disudutkan nya tubuh Kikan di sana, membuat Kikan lantas langsung menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang semakin bingung. Kikan benar-benar tidak mengerti akan apa yang tengah terjadi kepada Alvaro saat ini.
"Kamu tanya ada apa? Apakah semua hal yang terjadi sama sekali tidak membuat mata mu terbuka dengan lebar? Apa katamu barusan? Di vonis mandul? Jangan salah dalam penempatan kata-kata Ki, bukannya kata yang tepat seharusnya kau yang memvonis dirimu sendiri? Cih segalanya benar-benar terasa begitu menggelikan." ucap Alvaro dengan senyuman yang meremehkan Kikan saat itu.
Kikan yang mendengar setiap perkataan dari Alvaro barusan, tentu saja langsung terkejut. Kikan bahkan sampai menggigit bibir bagian bawahnya dengan spontan karena tidak tahu lagi harus berpendapat apa di saat-saat seperti ini.
"Sebaiknya kamu pergi! Aku tidak menyukai dirimu yang sekarang." ucap Kikan pada akhirnya sambil sedikit mendorong tubuh Alvaro agar sedikit menjauh darinya.
"Ada apa dengan mu Ki? Bukankah kau begitu terobsesi dari ku hingga memalsukan segalanya untuk bisa berada dekat dengan ku? Apakah hati ku hanya mainan untuk mu?" pekik Alvaro dengan nada yang berteriak.
__ADS_1
Plak...
Bersambung