
"Bagaimana bisa aku sampai di sini?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang kebingungan.
Sadar ada sesuatu yang terjadi semalam, lantas membuat Alvaro mulai bangkit dari posisinya secara perlahan. Dengan gerakan yang cepat Alvaro terlihat mengambil satu-persatu bajunya dan memasangnya dengan cepat.
Disaat Alvaro tengah sampai dalam rasa penasaran sekaligus bertanya-tanya. Sebuah suara yang berasal dari ambang pintu, lantas langsung menghentikan gerakannya dengan seketika.
"Apakah begitu menyenangkan bermain dengan ku semalam Al?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alvaro berbalik badan menatap ke arah sumber suara.
"Apa yang kamu katakan, jangan memancing ku Ki ini bahkan masih pagi." ucap Alvaro sambil mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah sumber suara.
"Kamu melakukannya tapi kamu juga yang menyangkalnya. Apakah area leher dan juga dada ku ini, sama sekali tidak bisa memberikan mu sebuah bukti atas perbuatan mu semalam?" ucap Kikan yang lantas membuat sorot mata Alvaro langsung menatap ke arah leher dan juga dada milik Kikan.
Kikan yang memang saat itu dalam posisi memakai dress dengan model terbuka di bagian atas, lantas membuat Alvaro tidak perlu meminta untuk Kikan mengganti bajunya hanya untuk memastikan perkataan Kikan barusan.
Alvaro yang melihat tanda merah di sekitaran sana tentu saja langsung tertegun, begitu banyaknya tanda cinta di sana hingga membuat Alvaro langsung memijat pelipisnya yang terasa begitu berdenyut saat itu.
"Setiap saat bahkan setiap waktu kamu selalu mengatakan jika aku telah berubah, aku telah menyembunyikan sifat asli ku bahkan masih banyak lagi lainnya. Namun kenyataannya kamu yang berubah Al! Kamu telah berubah, aku tidak tahu bagaimana cara wanita itu merubah sudut pandang mu, tapi Alvaro yang sekarang bukanlah Alvaro yang ku kenal. Kamu dan dia jelas dua orang yang berbeda." ucap Kikan pada akhirnya sambil menunjuk ke arah Alvaro dengan berulang kali.
Sepertinya Kikan sudah terlanjur sakit hati karena sikap Alvaro semalam yang terlalu memaksanya. Kikan benar-benar tidak menyukai sikap Alvaro semalam yang menyerangnya layaknya seekor singa kelaparan.
__ADS_1
Kikan jelas tahu bagaimana sikap Alvaro ketika mabuk, namun yang semalam terjadi tentu saja sudah kelewatan untuknya. Kikan benar-benar membenci Alvaro yang sekarang.
"Aku membenci mu Al.. Aku benar-benar membenci mu." ucap Kikan lagi namun kali ini dengan nada yang penuh penekanan.
Alvaro yang saat itu berusaha untuk mengingat segala kejadiannya, melihat Kikan terus-terusan menunjuk dirinya dengan tidak sopan lantas mulai menggenggam dengan erat tangan Kikan saat itu.
"Berhenti menghardik diriku, biarkan aku mengingat segala hal yang telah ku perbuat. Kau bahkan mengerti bagaimana kondisi ku ketika sedang mabuk, namun kamu malah tetap saja seenaknya mencerca ku dengan setiap kata yang aku sama sekali tidak mengerti. Lagi pula jika untuk berhubungan badan, bukan kah kamu masih istri ku? Lalu apa masalahnya?" ucap Alvaro dengan nada yang kesal sambil menghempaskan tangan Kikan begitu saja.
Kikan yang mendengar perkataan Alvaro yang terlalu santai, tentu saja hanya bisa terbengong menatap ke arah manik mata Pria yang saat ini terlihat begitu sangat membencinya.
"Masalahnya karena kamu yang memperlakukan ku selayaknya binatang? Apa kamu benar-benar tidak mengingatnya? Atau mungkin... Kamu hanya berpura-pura mabuk agar bisa menjamah ku!" ucap Kikan dengan nada yang berteriak, membuat Alvaro yang mendengar tuduhan tersebut lantas mengernyit dengan seketika.
"Kamu sudah benar-benar gila, apa kamu pikir aku senang melakukan hal itu kepadamu? Sama sekali tidak!" ucap Alvaro sambil membawa langkah kaki keluar dari area kamar.
"Apa katamu? Kamu tidak senang? Bukankah dulu kamu begitu memuja ku? Seorang Alvaro menjilat ludahnya sendiri! Benar-benar menggelikan." ucap Kikan sambil berusaha menyusul langkah kaki Alvaro ketika itu.
"Terserah apa katamu, entah itu menjilat ludah sendiri atau mungkin menyesali pilihannya. Terserah seperti apa kau ingin menilai ku, tapi yang jelas aku benar-benar telah lelah terus-terusan seperti ini!" ucap Alvaro sambil terus melangkahkan kakinya menuruni satu-persatu anak tangga.
Mendengar kata lelah keluar dari mulut Alvaro saat itu, lantas membuat langkah kaki Kikan terhenti dengan seketika. Perasaan amarah dan juga kesal berkumpul menjadi satu memenuhi hatinya saat ini. Mendapati hal tersebut lantas membuat Kikan tidak lagi bisa berpikir dengan jernih, hingga tanpa sengaja mengucapkan sebuah kata yang mungkin akan membuatnya begitu menyesal setelah menyadarinya.
__ADS_1
"Jika memang kamu lelah, maka ceraikan aku Al!" pekik Kikan kemudian dengan nada yang lantang, membuat langkah kaki Alvaro lantas terhenti dengan seketika.
Deg
Jantung Alvaro lantas berdetak dengan kencang begitu mendengar kata perpisahan keluar dari mulut Kikan saat itu. Satu persatu kenangan terasa mulai berputar dan memenuhi kepalanya saat itu, membuat sebuah perasaan hampa dan juga menyesal lantas berkumpul menjadi satu.
Alvaro yang mengira semuanya masih bisa untuk diperbaiki, lantas sedikit terkejut ketika mendapati perkataan tersebut keluar dari mulut Kikan saat itu. Ditatapnya raut wajah Kikan yang memerah seperti sedang menahan amarahnya.
Mendapati hal tersebut membuat Alvaro menyadari satu hal, yaitu sebuah kenyataan jika hubungan keduanya tidak lagi bisa di selamatkan. Dalam pikiran Alvaro saat ini, mungkin keputusan untuk berpisah adalah jalan tengah yang terbaik bagi keduanya di saat perasaan lelah dan juga amarah mulai memenuhi hati keduanya.
"Jika memang itu yang kamu inginkan maka aku akan melepas mu Ki... Sesuai dengan permintaan mu, aku pastikan akan segera mengirim surat cerai tersebut kepada mu secepatnya." ucap Alvaro sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Kikan yang terpaku di tempatnya saat itu.
Kikan diam membeku di tempatnya menatap kepergian Alvaro dengan tatapan yang tidak biasa. Perkataan tersebut benar-benar tidak sengaja ia ucapkan saat itu. Kikan yang terlalu emosi akan sikap Alvaro yang menganggap enteng perlakuannya semalam, lantas membuat Kikan tanpa sadar mengucapkan hal tersebut dengan lantang.
Kikan menutup mulutnya dengan rapat ketika ia baru menyadari setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Diusapnya rambutnya yang tergerai panjang saat itu dengan kasar, kemudian menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa yang telah aku lakukan? Bagaimana bisa aku malah meminta cerai dengan begitu mudahnya kepada Alvaro? Kau benar-benar sudah gila Ki! Kau benar-benar bodoh!" ucap Kikan pada diri sendiri sambil terus merutuki segala kebodohannya yang tanpa sengaja mengatakan hal yang sama sekali tidak ia inginkan.
Bersambung
__ADS_1