
Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai
Mobil yang dikendarai oleh Alvaro terlihat berhenti di area depan. Alvaro mencengkram erat stir mobilnya dan menatap sekilas ke arah bagian dalam gedung tersebut.
Bayangan demi bayangan apa yang telah di lalui oleh Inara 2 hari ini, benar-benar mempengaruhi pikirannya. Membuat Alvaro tidak lagi bisa hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun juga.
"Aku tidak akan membiarkan seorang pun lolos setelah menyakiti Inara!" ucap Alvaro sambil mulai membawa langkah kakinya turun dan masuk ke dalam bangunan tersebut.
.
.
.
Tak tak tak
Suara langkah kaki terdengar menggema jelas di ruangan tersebut, membuat Chris yang mengetahui dengan pasti jika itu adalah Alvaro nampak tersenyum dengan simpul.
"Kau datang? Aku tahu jika kau pasti akan datang, untuk itu aku menyerahkan bagian terakhir kepadamu!" ucap Chris sambil melempar sebongkah kayu yang sudah berlumur darah milik Karan saat itu.
"Cih... Kalian berdua bisanya main keroyokan!" ucap sebuah suara yang berasal dari Karan saat itu.
"Tutup mulut mu! Apa kau pikir kau bisa lolos hanya dengan bersilat lidah seperti itu? Aku bahkan sudah membiarkan mu untuk beberapa waktu, tapi untuk yang satu ini aku tidak bisa hanya tinggal diam begitu saja." ucap Alvaro sambil membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Karan berada saat ini.
Karan tersenyum mendengar perkataan dari Alvaro barusan dan menatapnya dengan tatapan yang mengejek, membuat Alvaro yang mendapati hal tersebut semakin memuncak emosinya.
"Kau bahkan sudah membunuh Arin adik ku! Jika hanya membunuh tikus kecil seperti ku, bukankah itu akan sangat gampang.. Tuan muda?" ucap Karan dengan tawa menggema, membuat Alvaro langsung dengan spontan melayangkan pukulannya saat itu juga.
Bugh... Brak...
***
Kediaman Agam
Setelah beberapa hal yang tidak Kikan mengerti titik masalahnya. Malam ini tak ada makan malam seperti biasanya, baik Agam maupun Tamara tak ada satu pun yang terlihat saat itu. Membuat Kikan berakhir dengan makan seorang diri di meja makan.
Sebenarnya Kikan juga tidak berniat untuk pulang ke Rumah orang tuanya. Hanya saja ia merasa canggung untuk mengutarakannya saat itu dan memilih diam mengikuti kemanapun Agam menyuruhnya untuk pergi. Meski sebenarnya terbersit rasa penasaran dalam diri Kikan akan maslah kedua orang tuanya. Hanya saja ia merasa jika saat ini, bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
Malam itu Kikan yang terbangun karena merasa tenggorokannya kering, lantas mulai membawa langkah kakinya dengan malas menuju ke arah dapur.
Sambil beberapa kali menguap karena masih mengantuk, Kikan terus membawa langkah kakinya saat itu.
"Bukankah itu Mama? Mau kemana Mama malam-malam begini?" ucap Kikan yang tanpa sengaja melihat kepergian Tamara, yang terlihat mencurigakan saat itu.
Tak ingin hanya diam dan semakin penasaran, Kikan yang semula hanya berniat untuk mengambil air. Pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti kepergian Tamara, meski hanya menggunakan piyama tidurnya.
Dengan langkah kaki yang perlahan, Kikan terus mengikuti Tanara hingga ke arah parkiran.
Brum.. Brum..
Suara knalpot milik Tamara terdengar dan mengepul di area parkiran, membuat Kikan lantas menggaruk rambutnya yang tidak gatal ketika mendapati mobil tersebut sudah melaju meninggalkan kediamannya.
"Arg... Sial!" ucap Kikan sambil mulai bergerak masuk ke dalam mobilnya hendak mengikuti kepergian Tamara.
***
Area Rumah sakit
"Apa yang hendak Mama lakukan sebenarnya? Mengapa aku punya firasat buruk soal ini? Jangan bilang...." ucap Kikan yang seakan mencoba menerka-nerka apa yang terjadi.
Kikan yang seakan yakin dengan firasatnya saat itu, tentu saja langsung mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang. Namun ketika ia mencari dan tak menemukannya saat itu, Kikan baru menyadari jika ponselnya tertinggal di kamar.
"Bagaimana aku bisa melupakan ponsel ku?" ucap Kikan sambil mulai terlihat turun dari dalam mobilnya.
Kikan mengambil langkah kaki besar berlarian menuju ke arah pos satpam saat itu. Dengan napas yang terengah-engah, Kikan menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Tolong saya Pak!"
***
Ruang ICU
"Aku benci menjadi seorang penjahat, namun sepertinya untuk kali ini bahkan Tuhan juga merestui ku untuk melenyapkan anak haram seperti dirimu!" ucap Tamara sambil menekan area perut Inara bekas operasi cesar.
Inara nampak meringis namun dengan mata terpejam, tangannya mengepal seakan merespon rasa sakit yang diberikan oleh Tamara.
__ADS_1
Ada sebuah rasa dalam dirinya yang menyuruhnya untuk bangkit, ketika mendengar kata-kata dari Tamara barusan. Hanya saja sekuat apapun Inara mencoba, kelopak matanya sama sekali tidak bisa terbuka saat itu.
Tit tit tit...
"Aduh.. Ada apa? Apakah terasa begitu sakit? Ah keluar darah.. Maaf aku benar-benar tidak sengaja!" ucap Tamara sambil menarik tangannya saat itu.
Tamara bahkan benar-benar nampak bahagia ketika melihat detak jantung Inara yang bergerak begitu cepat.
"Ayo naik... Naik lagi ke atas.. Aku bahkan menunggu mu terkena serangan jantung!" ucap Tamara sambil tertawa dengan kecil saat itu.
Tamara yang puas tertawa, lantas menghentikan gelak tawanya dan melangkah semakin dekat lagi ke arah Inara saat itu.
"Untuk penutupan, aku akan memberikan mu satu motivasi... Kelak di kehidupan selanjutnya, jangan pernah mendekati keluarga ku meski kamu terlahir dalam bentuk apapun!" ucap Tamara sambil mengarahkan tangannya ke arah selang oksigen milik Inara saat itu.
Disaat tangan miliknya terus bergerak semakin dekat, tanpa ia sadari sebuah tangan mendadak melingkar di pergelangan tangan Tamara saat itu. Mendapati hal tersebut membuat Tamara lantas terkejut ketika mendapati kelopak mata Inara terbuka dengan sempurna, tepat ketika tangan milik Inara mencengkram erat pergelangan tangannya.
"Si...ngkirkan tangan mu itu dari ha..dapan ku!" ucap Inara dengan terbata sambil menghempaskan tangan Tamara dari sana.
"Kau... Bagaimana bisa?" ucap Tamara yang seakan terkejut dengan pemandangan tersebut.
Inara yang mendengar hal tersebut terlihat menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba untuk bangkit dari sana. Hanya saja Tamara yang takut jika ia akan ketahuan, lantas langsung berlarian dan mencengkram leher Inara dengan kuat saat itu juga.
"Aku tidak akan membiarkan mu hidup kembali! Setidaknya kau harus mati agar Kikan bahagia..." ucap Kikan sambil menekan leher Inara dengan kuat.
"Arggg lepas..kan... Akh...." ucap Inara sambil meronta dan berusaha menarik sesuatu di sekitarnya.
Brak... Tar...
Beberapa peralatan medis terdengar berjatuhan di ruangan tersebut, membuat situasinya semakin tidak terkendali. Tamara kini bahkan sudah tidak lagi memikirkan konsekuensi dari perbuatannya, lagi pula Inara sudah mengetahui dirinya dan ia yakin meski saat ini Tamara kabur, Alvaro tetap tidak akan memaafkannya.
Setidaknya jika melihat Inara mati, mungkin rasa sakit hati dan juga dendam dalam dirinya berangsur-angsur memudar.
"Kau harus mati bagaimanapun juga caranya!" ucap Tamara dengan manik mata yang kesetanan.
"Mama berhenti!"
Bersambung
__ADS_1