
Keesokan harinya
Terlihat Kikan tengah mengerjapkan kelopak matanya secara perlahan ketika mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Kikan yang seakan tahu jika itu adalah Alvaro tentu saja langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Ditatapnya area pintu kamar mandi dengan tatapan yang intens, membuat sebuah pemikiran lantas mendadak terlintas di kepala Kikan saat ini.
"Jika aku benar-benar ingin melakukannya, harusnya aku bisa memperbaiki segalanya mulai dari sekarang bukan? Lagipula tidak ada salahnya jika aku melakukannya mulai dengan hari ini." ucap Kikan kemudian dengan seulas senyuman yang mengembang di wajahnya saat itu.
Dengan langkah kaki yang perlahan dan juga senyum yang tak henti-hentinya hilang dari raut wajahnya, terlihat Kikan mulai melangkahkan kakinya menuruni ranjangnya dan langsung bergerak menuju walk in closet untuk mencari setelan jas yang bisa Alvaro gunakan untuk pergi ke kantor hari ini.
Sambil memilihnya dengan hati-hati Kikan kemudian nampak membawa satu setelan jas dengan warna abu-abu gelap menuju ke arah ranjang dan meletakkannya dengan perlahan di sana.
Cklek...
Sebuah suara pintu terbuka yang berasal dari area kamar mandi, lantas langsung membuat Kikan menoleh ke arah sumber suara. Dengan memasang raut wajah yang tersenyum dengan lebar Kikan menunggu keluarnya Alvaro saat itu.
"Al apa kamu..." ucap Kikan namun terhenti dengan seketika begitu melihat Alvaro keluar dari area kamar mandi sudah memakai setelan jas lengkap dan juga rapi.
__ADS_1
Melihat hal tersebut senyuman yang semula mengembang dengan jelas di raut wajah Kikan saat itu, lantas perlahan-lahan surut dengan tatapan yang bertanya menatap ke arah Alvaro saat ini.
"Apa ada sesuatu?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran begitu melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh Kikan barusan.
"Bukankah kamu sedang mandi? Mengapa kamu sudah memakai setelan jas?" tanya Kikan kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat Alvaro lantas mengernyit begitu mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Kikan barusan.
"Pertanyaanmu itu sungguh aneh, aku sudah mandi di bawah dan aku datang ke sini karena aku ingin membuang hajat, apakah ada masalah dengan hal itu?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang bingung akan sikap Kikan yang begitu aneh saat ini.
Kikan yang mendengar penjelasan tersebut tentu saja merasa semakin kebingungan, sedangkan Alvaro yang melihat Kikan hanya terdiam tanpa mengatakan sesuatu lagi lantas melewatinya begitu saja dan menuju ke arah almari untuk mengambil dasi setelan jas kerjanya.
"Aku bahkan sudah menyiapkan mu setelan jas kerja, mengapa kamu malah sudah berganti pakaian?" ucap Kikan kemudian yang lantas membuat Alvaro langsung berbalik badan menatap ke arah Kikan dengan aneh.
"Aku... Aku hanya ingin mencoba memperbaiki hubungan kita, apa itu salah Al?" ucap Kikan kemudian dengan raut wajah yang sendu.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu Ki, aku tahu kamu tidak biasa melakukan hal ini. Jadi berhenti dan lakukan saja urusan mu sendiri, aku sudah biasa melakukan segala halnya sendiri." ucap Alvaro sambil berusaha memasakan dasi di kerah bajunya.
Melihat hal tersebut lantas membuat Kikan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alvaro berada dan berusaha untuk memasangkan dasi tersebut. Hanya saja tangan Alvaro mendadak menepisnya dengan perlahan, membuat Kikan lantas langsung terkejut begitu mendapati reaksi dari Alvaro barusan.
__ADS_1
"Tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri, kamu sebaiknya turun dan pergi sarapan." ucap Alvaro dengan nada yang datar, membuat ekspresi raut wajah Kikan langsung berubah dengan seketika.
Pikiran Kikan saat ini benar-benar melayang melihat segala hal yang telah ia lakukan ternyata hanyalah sia-sia, nyatanya berubah tidaklah semudah yang ia bayangkan. Alvaro bahkan menolak segala hal yang ia lakukan pagi ini.
"Apakah aku dan Inara berbeda? Kamu bahkan memperlakukanku dengan Inara sangat berbeda!" ucap Kikan pada akhirnya yang lantas membuat gerakan Alvaro terhenti dengan seketika.
"Apalagi ini Ki? Stop, aku benar-benar sudah lelah mendengarkan hal ini. Kamu dan Mama terus saja mengatakan tentang sebuah perbandingan, tanpa sadar apa yang kamu katakan benar-benar membuatku muak!" ucap Alvaro kemudian yang kali ini masih dengan nada yang lembut memperingati istri pertamanya itu.
"Jelas saja berbeda, jangan pura-pura bodoh! Kamu bahkan tentu menyadarinya bukan? Di saat Inara memberikan segalanya kepadamu kamu menerimanya dengan secara sukarela, tapi di saat aku yang melakukannya bahkan hanya untuk memasangkan dasi saja kamu menolak ku. Apa kamu benar-benar tidak memperlakukan kami secara berbeda Al? Pikirkanlah baik-baik Al aku ini istrimu juga, mengapa kamu lebih memilih segala hal yang diberikan oleh Inara dibandingkan diri ku?" ucap Kikan pada akhirnya meluapkan segala unek-uneknya pagi itu.
"Kamu mengatakan berbeda hanya karena hal itu? Aku bahkan melakukan segala halnya sesuai dengan permintaan mu. Menurutmu apakah kamu juga tidak menyadarinya? Bukankah kamu sendiri yang memilih untuk tidak melakukannya selama ini? Lalu mengapa tiba-tiba kamu berubah dan melakukan segala halnya seolah-olah kamu benar-benar adalah istriku? Kemana saja kamu selama 10 tahun ini? Aku bahkan tidak pernah menuntut mu apapun, tapi kamu selalu menuntut diriku untuk mengikuti segala kemauan mu. Tidak hanya dalam hal ini bahkan segala hal Ki, apakah itu tidak cukup untuk mu? Aku benar-benar lelah selalu mengikuti semua perkataan mu. Aku ini suami mu bukan budak mu, jadi berhenti memperlakukan ku seperti itu!" pekik Alvaro dengan nada yang meninggi.
Alvaro benar-benar sudah lelah selama ini terus menuruti kemauan wanita itu, hari ini Alvaro mengungkapkan segalanya meski itu akan terasa sangat menyakitkan, namun Alvaro tetap harus mengatakannya.
Kikan yang mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Alvaro saat itu, lantas langsung melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah Alvaro hingga helaan napas milik Alvaro terasa menerpa keningnya saat itu. Ditunjuknya perlahan dada bidang milik Alvaro dengan kuat seakan menunjukkan jika Kikan tengah marah saat ini.
"Kamu telah berubah Al? Apakah semua perubahan ini karena Inara, aku kira dia gadis yang polos namun nyatanya tingkah lakunya sama seperti seorang pel**ur!" ucap Kikan tanpa sadar mengatai Inara sebagai gadis penghibur.
__ADS_1
"Kini kau menunjukkan watak asli mu Ki... Kau yang menggali dan kau sendiri yang ingin menutup lubangnya ketika lubang itu terlihat semakin melebar. Apa kamu menyesal telah menggalinya sendiri?" ucap Alvaro sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Kikan seorang diri di sana.
Bersambung