Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya!


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk meminta tolong kepada satpam, saat ini terlihat Kikan dan juga dua orang satpam tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana ruangan Inara berada.


Kikan benar-benar yakin jika Tamara saat ini pasti sedang merencanakan hal buruk kepada Inara. Meski Kikan begitu membenci Inara karena telah merebut Alvaro darinya, namun Kikan tentu tidaklah seburuk itu hingga mampu melihat Inara terluka. Sejak nasihat dari Agam merasuk ke dalam dirinya, sudut pandang Kikan terhadap Inara benar-benar telah berubah.


Setidaknya ia sudah benar-benar rela melepaskan Alvaro jika memang Alvaro lebih bahagia bersama dengan Inara.


Dengan langkah kaki yang bergegas dan juga penuh ke khawatiran, Kikan nampak terus membawa langkah kakinya menuju ke arah ruangan ICU.


Hanya saja ketika langkah kaki ketiganya sampai di depan pintu kaca ruangan ICu, anehnya pintu tersebut terkunci dari luar membuat ketiganya tidak bisa masuk ke dalam saat itu.


"Pak pintunya terkunci..." ucap Kikan sambil menatap ke arah kedua satpam tersebut.


Salah satu satpam mengangguk tanda mengerti dan langsung berlarian menuju ke arah pos untuk mengambil kunci cadangan.


"Tenanglah mbak, saya pastikan tidak akan terjadi apa-apa." ucap satpam tersebut berusaha untuk menenangkan Kikan.


Namun baru saja Satpam tersebut berbicara, sebuah suara benda jatuh cukup nyaring terdengar menggema dan mengejutkan keduanya.


Brak... Pyar...


"Tidak mungkin... Mama buka pintunya... Mama..." ucap Kikan sambil menggedor pintu kaca tersebut, membuat beberapa perawat mulai berdatangan ketika mendengar teriakan dari Kikan barusan.


Beberapa perawat dan juga dokter jaga mulai berlarian ke arah ruang ICU, ketika tak bisa melihat progres tentang keadaan Inara. Beberapa perawat nampak terkejut dengan apa yang sedang terjadi di sana termasuk Ratih yang baru saja datang dari kantin saat itu.


"Apa yang terjadi nak?" tanya Ratih dengan raut wajah yang bingung menatap ke arah Kikan.


"Saya.. Saya juga tidak tahu kenapa, hanya saja Mama saya mencoba untuk melakukan sesuatu di dalam sana." ucap Kikan dengan kebingungan.


"Apa?" ucap Ratih dengan bingung karena tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Kikan saat ini.

__ADS_1


Sampai kemudian seorang satpam yang sedari tadi pergi untuk mengambil kunci terlihat datang dan langsung berusaha membuka pintu kaca tersebut.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, begitu mengetahui pintu telah terbuka Kikan langsung berlarian masuk ke dalam di susul dengan yang lainnya.


Suasana di dalam sudah sangat berantakan, beberapa peralatan kedokteran nampak berhamburan di mana-mana. Sementara Tamara saat ini terlihat mencengkram leher Inara dengan kuat, dengan kondisi baju pasien Inara bagian perutnya yang sudah basah karena noda darah yang entah disebabkan oleh apa.


"Kau harus mati bagaimanapun juga caranya! Alvaro harus bersama dengan Kikan dan wanita itu harus merasakan rasa sakit akan kehilangan!" ucap Tamara dengan manik mata yang kesetanan.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat manik mata Kikan membulat dengan seketika.


"Mama berhenti!" pekik Kikan dengan keras, membuat gerakan tangan Tamara terhenti dengan seketika saat itu juga.


Uhuk uhuk uhuk...


"Ki...kan!" ucap Tamara dengan nada yang seakan terkejut dengan kehadiran Kikan di tempat ini.


Dua orang satpam tersebut, lantas langsung meringkus Tamara dan menyeretnya keluar dari tempat tersebut, sebelum menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.


**


Disaat situasi mulai mereda, beberapa perawat dan juga Dokter jaga yang kebetulan berada di sana, nampak berlarian hendak memberikan pertolongan kepada Inara saat ini.


"Inara!" ucap Ratih sambil berlarian hendak mendekat ke arah dimana Inara berada.


Seorang perawat nampak mendekat ke arah Ratih dan menghalanginya untuk melangkah semakin dekat lagi.


"Mohon maaf Bu, sebaiknya Ibu tunggu di luar biar kami melakukan pertolongan kepada pasien terlebih dahulu." ucap perawat tersebut sambil mengarahkan Ratih dan juga Kikan menuju pintu keluar.


***

__ADS_1


Ruang tunggu


Ratih yang saat ini tengah menunggu dengan raut wajah khawatir, nampak terus menatap ke arah pintu ruangan tersebut. Membuat Kikan yang melihat hal tersebut mulai melangkah dengan langkah kaki yang ragu.


"Bu.. Saya benar-benar minta maaf, saya benar-benar tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Mama saya kepada Inara, saya hanya...." ucap Kikan yang merasa bersalah atas perbuatan Tamara barusan.


Mendengar hal tersebut membuat Ratih langsung mendongak menatap ke arah sumber suara. Diusapnya pelan lengan Kikan saat itu kemudian tersenyum dengan tipis.


"Kamu tidak perlu minta maaf nak, semua ini bukan kesalahan mu melainkan Ibu.. Ya Ibulah yang bersalah di sini." ucap Ratih kemudian yang tentu saja membuat Kikan mengernyit dengan raut wajah yang bingung.


"Apa maksud Ibu sebenarnya?" ucap Kikan dengan raut wajah yang penasaran.


***


Bangunan tua terbengkalai


Brak... Bug bug...


Pukulan demi pulan terus Alvaro layangkan secara bertubi-tubi kepada Karan, hingga membuat kursi yang digunakan untuk mengikat Karan hancur karena terpelanting ke arah kanan dan juga kiri terbawa oleh Karan.


Alvaro benar-benar sangat kesal dengan apa yang dilakukan Karan kepada Inara, membuat serangannya semakin membabi buta saat itu.


Namun setiap serangan yang dilakukan oleh Alvaro, nyatanya tak pernah membuat Karan menyerah dan malah tersenyum simpul dengan mulut yang penuh darah.


"Kau pikir kau sudah menang dengan memukuli ku seperti ini? Cih tentu saja tidak! Aku akan tetap membalas dendam kepada mu, walau aku sudah meninggalkan dunia ini!" ucap Karan sambil tersenyum saat itu.


Mendengar hal tersebut membuat Alvaro lantas menghentikan gerakan tangannya. Dicengkeramnya dengan erat kerah baju Karan saat itu, dengan tatapan yang tajam manik matanya menatap lurus ke arah manik mata Karan saat itu.


"Asal kau tahu! Aku tidak pernah membunuh adik mu, dia tewas ketika mobilnya mengalami kecelakaan beruntun. Lagi pula aku mengejarnya bukanlah tanpa alasan, kau pikir aku segabut itu ha? Adik mu sendiri yang memancing pertikaian. Dia sudah menyakiti Inara dengan perlakuan yang tanpa alasan apapun mendasarinya, tidak hanya itu saja.. Dia bahkan sengaja menabrak Inara saat itu, beruntung Abi mengetahuinya dan kami selamat saat itu! Apa kau pikir aku membunuh adik mu tanpa alasan? Aku bahkan menyentuhnya saja tidak! Tapi kau... Coba kau pikir sendiri.. Apa yang telah kau lakukan pada Inara dan calon anak ku? Apakah otak mu itu sudah geser!" pekik Alvaro sambil mengangkat tangannya ke awang-awang hendak memukul kembali wajah Karan yang tak lagi berbentuk itu.

__ADS_1


"Tidak mungkin...."


Bersambung


__ADS_2