Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Tahu sejak awal


__ADS_3

Kamar


Seakan mendapat kesempatan dikala semuanya datang secara bertubi-tubi kepadanya. Lina mencoba untuk berpikir masa bodoh dan melakukan semua perintah dari Karan saat itu.


Sambil menarik napasnya dalam-dalam Lina mulai membawa secangkir teh, yang tentu saja sudah ia campur dengan serbuk dari Karan sebelumnya.


"Silahkan diminum dulu Bu..." ucap Lina kemudian yang lantas membuat Inara mendongak menatap ke arah sumber suara dengan seketika.


Inara yang mendapati hap tersebut terlihat bingung seakan tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


Ditatapnya secangkir teh yang semakin mendekat ke arahnya saat itu dengan raut wajah yang cemas. Sampai kemudian naluri hatinya yang tak menginginkan semuanya terjadi, tanpa sadar membuat tangan Inara menampik cangkir teh tersebut cukup kuat.


Pyar...


Gelas tersebut jatuh dan pecah begitu saja di lantai, membuat Alvaro dan juga Lina yang mendapati hal tersebut tentu saja terkejut bukan main.


"Ada apa dengan mu Ra?" ucap Alvaro yang seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Inara lakukan.


"Maafkan aku Mas, aku juga tidak tahu mengapa? Tangan ku mendadak bergetar dan tanpa sadar melakukan hal tersebut. Aku benar-benar minta maaf Sus..." ucap Inara dengan nada suara yang bergetar, sepertinya Inara sendiri juga terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Apa yang telah aku lakukan? Apa ini yabg disebut insting melindungi diri sendiri dari ancaman bahaya?" ucap Ibara dalam hati.


Alvaro nampak terkejut sambil menatap tak percaya ke arah Inara saat itu, sedangkan Lina sibuk membereskan kekacauan yang baru saja terjadi di sana.


"Tidak Bu... Jangan merasa bersalah, saya juga mengerti kondisi Ibu saat ini.. Saya permisi dulu untuk membuatkan minuman yang baru untuk Ibu." ucap Lina sambil bangkit dari posisinya tepat setelah membersihkan serpihan gelas yang berserakan barusan.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat manik mata Inara langsung membulat dengan seketika, membuatnya tanpa sadar menolak perkataan Lina barusan dengan kasar.


"Tidak! Kau tidak perlu melakukan itu!" pekik Inara dengan nada tinggi, membuat Alvaro semakin tidak mengerti akan sikap Inara yang aneh saat ini.

__ADS_1


Keheningan nampak terjadi di sana sepersekian detik. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Alvaro saat itu, lantas memecah keheningan di area kamar saat itu.


"Tidak perlu Sus terima kasih, sepertinya Inara hanya butuh istirahat untuk saat ini." ucap Alvaro pada akhirnya yang lantas di balas anggukan kepala oleh Lina saat itu.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." ucap Lina kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.


Tepat setelah kepergian Lina dari kamar keduanya, Alvaro menatap dengan raut wajah yang bertanya akan sikap Inara saat ini. Sedangkan Inara yang seakan tahu arti tatapan Alvaro barusan, hanya bisa menunduk tanpa berkata-kata.


"Sekarang katakan kepada ku.. Ada apa sebenarnya dengan dirimu? Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiran mu Ra?" tanya Alvaro dengan raut wajah yang penasaran, namun Inara malah hanya menggeleng dengan pelan saat itu.


"Ayolah Ra, aku kenal betul dirimu.. Jika memang ada sesuatu katakan saja kepadaku, aku akan mendengarkan mu." ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu lembut namun semakin membuat hati Inara bimbang saat itu.


"Tidak ada apa-apa Mas, kamu tak perlu khawatir..." ucap Inara mencoba untuk tetap tenang.


"Ra kamu kura aku tidak menyadarinya? Jika memang tidak ada apa-apa, kemana kamu semalam? Apa kamu bisa menjelaskannya?" ucap Alvaro pada akhirnya yang lantas membuat Inara mendongak menatap ke arah Alvaro saat itu.


"Bagaimana dia bisa tahu? Aku harus jawab apa pertanyaannya?" ucap Inara dalam hati yang semakin di buat bingung saat itu.


"Aku... Aku hanya tidak bisa tidur semalam, jadi aku memutuskan untuk mencari udara segar." ucap Inara mencoba untuk mencari alasan.


"Oh ya? Jika seperti itu... Mengapa kamu tidak membangunkan ku?" ucap Alvaro lagi yang seakan tidak percaya begitu saja perkataan Inara barusan.


"Mas kaki mu sedang sakit, aku tidak tega untuk membangunkan mu jadi aku memilih untuk pergi sendiri, ketimbang menyulitkan mu.. Lagi pula aku hanya pergi sebentar saja." ucap Inara lagi yang seakan mencoba untuk memberikan jawaban semaksimal mungkin.


"Jangan lakukan itu lagi Ra, bahaya keluar sendiri malam-malam. Apalagi kondisimu yang tengah hamil besar, apa kamu mengerti?" ucap Alvaro pada akhirnya yang tak lagi bisa menyalahkan Inara.


"Maafkan aku Mas, aku benar-benar minta maaf...." ucap Inara sambil memeluk tubuh Alvaro dari belakang dengan erat.


Sepertinya untuk kali ini Inara belum bisa untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Alvaro. Lagi pula semalam ia tak begitu jelas mendengarkan percakapan antara Karan dan juga Lina. Namun yang jelas ia harus tetap berhati-hati dan selalu waspada akan gerak-gerik Lina yang mencurigakan baginya.

__ADS_1


***


Satu minggu kemudian


Luka di kaki Alvaro perlahan-lahan mulai pulih dan hanya meninggalkan beberapa bekasnya saja. Beruntung tidak ada tulang yang retak ataupun patah, membuat Alvaro tidak perlu mendapat penanganan lebih lanjut lagi.


Pagi ini Inara sudah di tinggal semua orang pergi, Ratih memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat dan membeli beberapa barang. Sedangkan Alvaro pagi-pagi tadi sudah pergi ke kantor karena ada pertemuan yang tidak lagi bisa ia tunda.


Tinggallah Inara seorang diri bersama dengan Lina di Apartment, harap-harap cemas mulai menerpa hatinya tak kala mengetahui jika ia hanya tinggal berdua dengan Lina di sini.


Inara mulai membawa langkah kakinya perlahan mendekat ke arah dimana Lina berada saat ini.


.


.


.


Dapur


Inara yang melihat jika Lina sedang berada di dapur saat itu, lantas langsung membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Lina berada.


Inara sudah tidak bisa lagi menahannya, selama seminggu belakangan ini Inara sudah mencoba untuk menahannya. Namun ketika melihat kondisi Alvaro yang sudah berangsur-angsur pulih saat ini, Inara rasa ia sudah tidak bisa lagi berdiam diri seakan tidak terjadi apa-apa.


"Em sus... Aku rasa tugas mu sudah selesai, mas Alvaro sudah jauh lebih baik dan aku berterima kasih atas segala kerja keras mu selama ini." ucap Inara dengan nada yang terdengar begitu ragu.


Kletak...


Suara sendok yang di letakkan cukup keras di piring terdengar begitu jelas di area dapur, membuat Inara lantas menelan salivanya dengan kasar ketika mendengar suara barusan berasal dari Lina.

__ADS_1


"Aku tahu jika kamu sudah menyadarinya sejak awal, bukan?" ucap Lina sambil mulai berbalik badan secara perlahan menatap lurus ke arah dimana Inara berada saat ini.


Bersambung


__ADS_2