
Ruang konsultasi Dokter kandungan
Setelah mengatakan keluhannya dan menjalani pemeriksaan, kini Aruna dituntun untuk berbaring di atas ranjang pasien dan bersiap untuk melakukan USG. Seorang Dokter perempuan nampak mulai mengoleskan sebuah gel di atas perut Inara saat itu dan mulai menggeser sebuah alat di atas perut Inara secara perlahan.
"Usia kandungan yang sudai mencapai minggu ke tujuh ya Pak, sudah terlihat beberapa organ terbentuk dan juga berkembang di sini. Apakah kalian berdua ingin mendengar detak jantung bayi kalian untuk yang pertama kalinya?" ucap Dokter perempuan tersebut sambil tersenyum ramah ke arah keduanya secara bergantian.
"Apakah kami sudah bisa mendengar detak jantungnya Dok?" ucap Alvaro bertanya seakan nampak ragu ketika mendengar perkataan dari Dokter tersebut.
"Tentu saja Pak, biar saya tunjukkan seperti apa suaranya.." ucap Dokter tersebut sambil tersenyum dengan simpul.
Dokter tersebut yang ditanyai terus-menerus oleh Alvaro seperti itu, bahkan hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sepertinya Dokter tersebut sudah terlalu sering mendapat calon Ayah muda yang baru memiliki pengalaman untuk yang pertama kalinya.
Beberapa saat mengotak-atik peralatan yang Alvaro dan juga Inara sama sekali tidak tahu apa fungsinya. Sampai kemudian ketika sebuah suara debaran jantung yang mulai terdengar di ruangan tersebut, lantas membuat ketiganya langsung terdiam dengan seketika.
Deg.. Deg.. Deg...
Mendengar suara debaran kecil tersebut, entah mengapa lantas langsung membuat hati Alvaro terhanyut dengan seketika. Ini adalah pertama kalinya Alvaro mendengar detak jantung bayi kecil mungilnya. Entah akan jadi seperti apa wajah dari bayi kecil itu, namun yang jelas apapun dia dan bagaimanapun bentuknya Alvaro berjanji akan menyayanginya dengan sepenuh hati.
Alvaro yang benar-benar bersyukur karena pada akhirnya ia bisa mendapatkan seorang bayi meski terlahir bukan dari rahim Kikan, lantas menatap ke arah Inara dengan tatapan yang intens.
Alvaro nampak tersenyum sambil sedikit meneteskan air mata dari sudut matanya saat itu, kemudian menggenggam tangan Inara seakan seperti saling menyalurkan energi positif di sana. Membuat Inara yang mendapati Alvaro bertingkah laku seperti itu lantas hanya bisa tersenyum sambil menatapnya dengan tatapan yang penuh cinta.
"Terima kasih banyak Ra... Terima kasih...." ucap Alvaro kemudian sambil mengecup puncak kepala Inara saat itu, yang lantas di balas Inara dengan senyuman.
__ADS_1
.
.
.
.
Setelah menjalani pemeriksaan dan juga check up kandungannya, Inara dan juga Alvaro terlihat mulai membawa langkah kaki mereka menyusuri area lorong Rumah Sakit menuju ke arah Apotek untuk menebus resep dokter yang baru saja ditulis untuk Inara.
"Kamu duduklah di sini sebentar, aku akan menebus obat ini dan mengurus segalanya." ucap Alvaro kemudian sambil menuntun Inara untuk duduk di sana.
"Pergilah mas, tak perlu khawatir.. Aku akan menunggu mu di sini." ucap Inara dengan lembut membuat Alvaro yang mendapati jawaban tersebut, lantas mengusap lembut puncak kepala Inara saat itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Alvaro, kemudian langsung membawa langkah kakinya berlalu pergi dari Inara untuk mulai menebus resep Dokter yang ditulis untuknya. Sedangkan Inara yang memang tidak melakukan apapun, lantas mulai mengambil duduk tepat di ruang tunggu Rumah sakit tersebut.
Sambil menunggu Alvaro menebus resep dokter Inara nampak mengedarkan pandangannya ke area sekitar. Ditatapnya area lingkungan Rumah sakit tersebut yang saat itu terlihat begitu banyak orang yang berlalu lalang di sana hanya untuk sekedar bekerja, berobat atau bahkan hanya untuk menjenguk pasien di Rumah sakit tersebut. Membuat helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Inara saat itu.
Sejak kecil Inara yang bercita-cita ingin menjadi seorang Dokter, nyatanya tidak pernah bisa menggapai impiannya tersebut. Mengingat ia yang hanya seorang gadis desa dan terbatas akan biaya, membuat Inara harus mengubur impiannya dalam-dalam. Inara bahkan nampak tersenyum ketika kembali mengingat akan masa kecilnya yang bermain Dokter-dokteran di kampungnya dulu.
Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari sudut area yang tak jauh dari tempatnya berada, lantas membuat Inara mengernyit sekaligus penasaran akan apa yang sedang terjadi saat ini. Dengan langkah kaki yang perlahan Inara kemudian mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah sumber suara untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.
Seorang gadis kecil nampak menangis dengan ketakutan di sudut area ruangan tersebut, di mana di hadapannya terlihat dua orang perawat satu laki-laki dan satu perempuan tengah mengejarnya sedari tadi.
__ADS_1
"Ayo Alika saatnya kita minum obat, bukankah Alika ingin sembuh?" bujuk salah satu perawat seakan berusaha untuk membuat Alika meminum obatnya.
"Tidak mau... Kalian berbohong! Aku bahkan terus meminumnya tapi nyatanya tak kunjung sembuh juga.. Kalian menipu ku! Hua ....." pekik Alika dengan nada yang meninggi sambil menggeleng dengan keras.
Mendengar hal tersebut Inara yang sedari tadi memang penasaran akan sosok gadis kecil itu, lantas langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang intens sambil mencuri dengar akan pembicaraan yang terjadi diantara gadis kecil tersebut dan kedua perawat itu.
Perdebatan kecil terus terjadi di antara ketiganya, di mana gadis kecil itu yang sama sekali tidak ingin meminum obatnya, membuat Inara yang tidak tega akan gadis kecil itu. Lantas langsung mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana mereka berada.
"Putri kecil apa yang terjadi? Apakah mereka membuat mu susah?" ucap Inara kemudian yang lantas membuat ketiganya langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Dia memaksa ku untuk meminum obat! Aku tidak mau.. Aku tidak mau... Mereka terus mengatakan jika aku meminum obat aku akan segera pergi dari sini, namun nyatanya tidak lah seperti itu. Mereka telah menipu ku..." ucap Alika dengan raut wajah yang di tekuk.
Sedangkan Inara yang mendengar keluh kesah dari gadis kecil tersebut hanya bisa terdiam sejenak, seakan mencoba untuk memikirkan cara apa yang tepat dan juga ampuh untuk membujuk gadis itu agar mau meminum obatnya.
"Baiklah jika kamu tidak ingin meminumnya maka jangan meminumnya, bukankah hal itu sudah cukup untuk mengakhir segalanya?" ucap Inara kemudian dengan nada yang sangat santai, namun berhasil membuat kedua perawat tersebut langsung menoleh ke arah Inara dengan seketika.
"Tunggu sebentar, sepertinya apa yang kau lakukan barusan sama sekali tidak membantu pekerjaan kami, jadi saya rasa sebaiknya anda pergi dari sini dan biarkan kami bekerja sat ini!" ucap salah seorang perawat yang merasa kesal karena Inara malah merusak dan mengganggu pekerjaannya.
"Tenangkan dirimu dan ikuti saja perkataan ku..." ucap Inara dengan nada yang yakin.
"Tapi..."
Bersambung
__ADS_1