Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Jangan mas, itu kotor!


__ADS_3

Alvaro yang mendengar Inara tengah sakit, lantas langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke arah kamar Inara. Tanpa mengetuk pintu kamar Inara terlebih dahulu, Alvaro langsung memutuskan masuk ke dalam untuk melihat keadaan Inara saat ini.


**


Kamar Inara


Alvaro yang baru saja masuk ke dalam kamar Inara, lantas pandangannya terhenti kepada Inara yang tengah tidur dalam kondisi miring membelakanginya dengan menggunakan selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, membuat Alvaro yang melihat hal tersebut kemudian langsung membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Inara berada saat ini.


Dengan raut wajah yang khawatir Alvaro kemudian langsung memegang kening Inara untuk mengecek suhu tubuh Inara saat ini.


"Tidak panas, namun kenapa sangat berkeringat? Padahal AC di ruangan ini masih menyala. Apakah AC nya rusak?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang mengernyit dan bertanya-tanya.


Sampai kemudian Inara yang merasakan ada seseorang yang datang ke kamarnya, terlihat mulai membuka kelopak matanya dengan perlahan dan langsung berusaha bangkit dari tidurnya, begitu melihat Alvaro yang datang.


"Mas sudah pulang? Apakah saat ini sudah sore? Sepertinya aku tidur terlalu lama." ucap Inara dengan nada bicara yang serak khas orang bangun tidur, membuat Alvaro lantas langsung menatap ke arahnya begitu mendengar suara dari Inara barusan.


"Bagian mana yang sakit Ra? Kita pergi ke Dokter ya atau aku panggilkan Dokter untukmu." ucap Alvaro dengan nada yang lembut, membuat Inara lantas tersenyum dengan simpul menatap ke arah Alvaro namun dengan manik mata yang sayu.


Perkataan dan perhatian Alvaro benar-benar membuat hatinya berdesir saat itu.


"Tidak perlu mas aku hanya masuk angin biasa, apa kamu sudah makan? Aku bahkan belum menyiapkan makan malam untuk mu." ucap Inara hendak bangkit dari posisinya, namun langsung di tahan oleh Alvaro dengan seketika.


"Ini belum malam Ra, kamu istirahatlah lagi.. Aku hanya mampir sebentar tadi setelah selesai meeting di daerah sini dan mendengar dari Lastri jika kamu sedang sakit." ucap Alvaro mulai menjelaskan sambil mengarahkan Inara untuk kembali duduk di kasur.


Inara yang mendengar penjelasan dari Alvaro hanya manggut-manggut tanda mengerti. Sampai kemudian sebuah bau harum yang sama sekali tidak mengenakkan baginya mendadak membuat perut Inara mual saat ini. Ditatapnya Alvaro dengan tatapan yang menelisik seakan berusaha untuk mencari tahu asal sumber bau itu, apakah memang berasal dari Alvaro atau bukan.

__ADS_1


"Em mas.. Parfum apa yang kamu gunakan?" ucap Inara pada akhirnya membuat Alvaro langsung menoleh ke arah Inara dengan tatapan yang mengernyit karena Inara tiba-tiba membahas masalah Parfum.


Alvaro yang ditanya seperti itu tentu saja dengan spontan mencium baju dan juga tubuhnya. Memang benar ia menggunakan Parfum, namun tidak ada yang pernah protes akan aroma Parfum ini. Kikan bahkan menyukainya, membuat Alvaro terus memilih aroma Parfum ini untuk digunakan di tubuhnya.


"Aku memakai Parfum seperti biasa, apakah ada sesuatu yang salah Ra?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang kebingungan.


"Tidak ada hanya saja.... hoek.." ucap Inara namun belum sempat meneruskan perkataannya Inara malah langsung mual.


Inara yang ingin muntah ketika mencium aroma Parfum milik Alvaro, lantas langsung berlarian ke arah kamar mandi dan kembali muntah. Ini bahkan sudah kesekian kalinya Inara muntah, membuat muntahannya kali ini hanya berisi air saja karena memang ia belum mengisi perutnya sejak tadi.


Sedangkan Alvaro yang melihat Inara berlarian ke arah kamar mandi dan juga mulai muntah, lantas langsung ikut bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Di angkatnya rambut Inara yang tergerai sambil menepuk pelan area leher Inara, perasaan khawatir bahkan mendadak menyelimutinya ketika melihat Inara yang terus muntah seperti itu.


"Kita ke Dokter ya Ra... Jangan membuat ku khawatir.." ucap Alvaro sambil mengusap lembut punggung Inara.


"Aku hoek.. Aku.. hanya masuk angin mas, tapi bi..bisakah kamu menghilangkan aroma parfum itu? Aku benar-benar mual." ucap Inara lagi sambil terus memuntahkan isi perutnya.


"Bagaimana? Apakah masih tercium baunya?" tanya Alvaro kemudian setelah melempar pakaiannya.


"Masih sedikit tapi aku rasa sudah lebih baik." ucap Inara sambil bersandar pada dinding kamar mandi karena memang Inara sedari tadi memuntahkan segalanya di closet.


Alvaro yang melihat wajah pucat Inara tentu saja langsung tak tega, melihat mulut Inara yang basah karena muntahannya lantas langsung membuat Alvaro mengusapnya dengan tangan yang tentu saja membuat Inara terkejut karenanya.


"Jangan lakukan, itu kotor mas.." ucap Inara berusaha untuk menahan tangan Alvaro.


Namun Alvaro bukannya berhenti malah menepis tangan Inara dan meneruskannya mengusap mulut Inara dengan perlahan.

__ADS_1


"Apakah kamu bisa bangun?" tanya Alvaro kemudian sambil masih berusaha mengusap keringat Inara.


"Lima menit lagi mas, sebentar lagi aku masih lemes..." ucap Inara sambil memejamkan matanya secara perlahan mencoba untuk mengumpulkan tenaganya yang tersisa.


Sedangkan Alvaro yang melihat hal tersebut tanpa menunggu persetujuan dari Inara langsung menggendong tubuh Inara ala bridal style dan bersiap membawanya ke arah kasur.


"Apa yang mas lakukan?" ucap Inara dnegan raut wajah yang bingung.


"Membawa mu ke kasur." ucap Alvaro dengan singkat.


"Tapi mas..." ucap Inara hendak menolak namun langkah kaki besar Alvaro sudah membawanya keluar dari area kamar mandi.


Dengan perlahan Alvaro kemudian mulai meletakkan tubuh Inara di ranjang dan memasangkan selimut untuknya.


"Kamu tunggu di sini aku akan memanggilkan Dokter untuk mu." ucap Alvaro sebelum pada akhirnya berlalu pergi, yang lantas membuat Inara tidak lagi bisa menolak dan hanya melihat kepergian Alvaro begitu saja dari kamarnya.


***


Area meja makan


Alvaro yang teringat meninggalkan ponselnya di atas meja makan, lantas melangkahkan kakinya bergegas kembali ke area meja makan untuk mengambil ponsel miliknya. Membuat Kikan yang saat itu masih sibuk makan siang, lantas terkejut ketika melihat begitu Alvaro turun sudah dalam kondisi bertelanjang dada.


"Apa yang terjadi dengan pakaian mu?" tanya Kikan dengan raut wajah yang kebingungan.


"Inara tadi muntah ketika mencium aroma baju ku jadi aku memutuskan untuk melepaskannya." ucap Alvaro kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dan menelpon seseorang di sana, meninggalkan Kikan dengan tatapan yang tak biasa begitu mendengar perkataan dari Alvaro barusan.

__ADS_1


"Inara sakit? Mual? Apa jangan-jangan..."


Bersambung


__ADS_2