
Plak...
Sebuah tamparan dengan keras mendarat tepat di pipis sebelah kanan milik Alvaro, tamparan itu begitu terdengar nyaring dan menggema di ruang kamar milik Kikan saat itu. Hanya saja sayangnya sebuah tamparan yang begitu keras, nyatanya tidak bisa menyadarkan Alvaro dari pengaruh alkohol yang saat ini tengah menyerangnya.
Alvaro yang mendapat tamparan tersebut, lantas tersenyum dengan tipis seakan sama sekali tidak merasakan sakit meskipun tamparan itu terdengar begitu nyaring. Hal itu membuat Kikan yang mendapati Alfaro hanya bersikap biasa saja, lantas langsung menatapnya dengan raut wajah yang kebingungan. Tangan Kikan saat ini bahkan terasa begitu kebas, bagaimana bisa Alvaro hanya terdiam sambil menatapnya dengan senyuman yang tipis?
"Apa kau sudah puas Ki? Jika belum, ayo tampar aku! Lakukan apapun yang membuat mu bahagia... Apapun itu lakukan saja, jika perlu bunuh aku sekalian. Apa aku sebodoh itu hingga berhasil terjebak oleh gadis seperti dirimu? Penuh kamuflase dan drama yang tak berkesudahan, kau benar-benar telah mempermainkan perasaan ku. Katakan padaku sekarang! Apa kata cinta yang selalu kau ucapkan segalanya juga adalah sebuah kepalsuan?" ucap Alvaro dengan manik mata yang tajam namun juga berkaca-kaca.
Mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari Alvaro barusan, tentu saja membuat Kikan terkejut bukan main. Kikan mulai mengambil langkah kaki mundur seiring dengan langkah kaki Alvaro yang kian maju dan mendekat ke arahnya. Entah apa yang terjadi dengan Alvaro saat ini, namun bau alkohol yang menyengat tepat ketika Alvaro membuka mulutnya. Tentu saja membuat ia menjadi sadar jika saat ini Alvaro sedang dalam pengaruh alkohol.
Ya, sejak dulu Alvaro sama sekali tidak bisa tersentuh oleh minuman yang beralkohol. Jika sampai Alvaro mabuk, maka segala hal yang ada di pikirannya pasti akan keluar begitu saja. Pengaruh alkohol tersebut sangatlah kuat, sehingga membuat Alvaro sama sekali tidak sadar akan apa yang sedang ia lakukan saat ini. Meskipun kadar alkohol yang ia minum tidaklah tinggi dan harusnya tidak sampai membuat seseorang mabuk dengan separah ini.
"Kamu mabuk Al? Sebaiknya kamu keluar dari kamar ku sekarang juga! Aku tidak suka kamu dalam kondisi seperti ini." ucap Kikan kemudian sambil menunjuk ke arah pintu kamar utama.
Alvaro yang mendengar perkataan dari Kikan barusan, bukannya menurut lantas makin melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Kikan berada saat ini. Ditariknya tangan Kikan dengan kuat saat itu, membuat Kikan yang mendapati hal tersebut tentu saja terkejut karenanya.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku..." pekik Kikan yang seakan mulai tidak suka akan sikap dari Alvaro saat ini.
"Mengapa kamu takut? Apakah kamu takut jika tubuh mu rusak hanya karena mengandung anak ku? Apakah hamil sebegitu menyulitkan untuk mu? Hingga kau berakting jika dirimu mandul, katakan sekarang Ki! Apa mulutmu itu kini tidak bisa bicara ha?" pekik Alvaro kemudian sambil melempar tubuh Kikan di atas ranjang.
__ADS_1
Kikan jatuh tepat di atas ranjang dnegan ukuran king size dalam posisi yang terlentang, entah bagaimana ia bisa menyadarkan Alvaro saat ini. Namun hal tersebut akan sangat sulit kecuali pengaruh alkohol tersebut menghilang dengan sendirinya.
"Sebenarnya seberapa banyak yang kamu minum, hingga membuat mu seperti ini Al?" ucap Kikan dalam hati sambil berusaha bangkit dari posisinya saat itu.
Alvaro yang seakan sudah tertutupi akan perasaan berkecamuk yang selama ini menguasai hatinya. Tanpa memikirkan segala sesuatunya ia langsung berusaha mencumbu Kikan malam itu. Sedangkan Kikan yang mendapati perlakuan kasar dari Alvaro tentu saja berusaha sebisa mungkin melawan, namun sayangnya hal itu selalu saja berakhir dengan sia-sia karena tenaga Alvaro yang nyatanya lebih besar dari dirinya.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, lepas mmmmmm mmmmm..." ucap Kikan namun terhenti tepat ketika Alvaro mulai me***mat bibirnya dengan kasar saat itu.
Malam itu Alvaro benar-benar melakukan segalanya sesuka hatinya. Pikiran Alvaro saat ini hanya berisi pemikiran tentang kebohongan Kikan yang mengatakan jika dirinya tidak bisa hamil selama bertahun-tahun lamanya. Membuat Alvaro berpikir jika ia akan menuntaskan segalanya malam ini.
Penyatuan dilakukan Alvaro dengan kasar selama beberapa kali, membuat Kikan yang belum siap lantas meremas area seprei kasurnya dengan sangat erat. Setetes air mata menetes tepat pada sudut matanya, diiringi dengan erangan yang berasal dari mulut Kikan malam itu.
"Sa...kit Al sakit..." rintih Kikan sambil sesekali menggigit bibir bagian bawahnya tanpa sadar.
**
Unit Apartment Alvaro
Malam itu Inara yang terbangun karena rasa haus yang menyerang kerongkongannya, lantas membuat Inara mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah dapur untuk mengambil minum. Ditatapnya area sekitaran yang saat itu nampak begitu kosong, namun dengan lampu yang masih menyala dengan terang meskipun saat ini sudah lewat tengah malam.
__ADS_1
"Tumben masih terang? Apakah mas Alvaro lupa mematikan lampunya? Jika memang seperti itu, lalu kemana perginya mas Alvaro? Mengapa suasananya nampak begitu sepi saat ini?" ucap Inara dengan raut wajah yang kebingungan sekaligus bertanya-tanya." ucap Inara dengan raut wajah yang kebingungan.
Inara yang tak kunjung mendapati Alvaro berada diantara ruangan yang terletak di unit Apartemen tersebut, lantas terus membawa langkah kakinya menuju ke area dapur. Sampai kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika ia mendapati di sudut area dapur, terlihat beberapa botol dan juga gelas nampak berserakan di lantai. Sepertinya ada sesuatu yang baru saja terjadi di sana, hingga membuat beberapa gelas pecah di lantai dan juga berserakan.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa berantakan sekali di sini?" ucap Inara dengan raut wajah yang bingung sekaligus bertanya-tanya ketika mendapati pemandangan di hadapannya saat ini.
**
Keesokan paginya
Sinar mentari yang masuk melalui celah-celah ventilasi area kamar utama, lantas nampak menembus dan masuk ke dalam retina Alvaro yang saat itu masih terpejam. Mendapati hal tersebut kemudian mulai membuat kelopak mata Alvaro terbuka dengan perlahan.
Alvaro terlihat memijat pelipisnya dengan perlahan yang terasa begitu berdenyut. Sambil mengusap area tengkuknya yang terasa berat, Alvaro nampak mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran seakan berusaha untuk mencari tahu keberadaannya saat ini.
Sampai kemudian pandangannya lantas terhenti pada sebuah lukisan pernikahannya dengan Kikan yang terpajang dalam ukuran yang besar di dinding kamar utama saat itu.
"Bagaimana bisa aku sampai di sini?"
Bersambung
__ADS_1