Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Pemandangan yang tak diinginkan


__ADS_3

Di area hutan


Di tengah gelapnya suasana hutan malam itu, Chris dan juga Alvaro nampak berjalan dengan langkah perlahan menyusuri area hutan. Keheningan nampak terjadi di antara keduanya, entah mereka kehabisan topik atau memang mereka yang tidak terlalu akrab antara satu sama lain.


Keduanya nampak berkutat dengan pemikiran masing-masing. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Chris saat itu, lantas membuat Alvaro melirik sekilas ke arah sumber suara.


"Apa kau begitu mencintai Inara?" ucap Chris dengan tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Alvaro mengernyit dengan seketika.


"Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu, bukankah kamu bisa melihatnya sendiri tanpa perlu aku jelaskan?" ucap Alvaro dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Chris saat itu.


"Jika memang seperti itu, lalu siapa Kikan? Maaf bukannya aku ikut campur akan Rumah tangga kalian berdua. Hanya saja, aku sedikit penasaran dengan seseorang yang bernama Kikan. Jika boleh aku..." ucap Chris namun langsung di potong oleh Alvaro saat itu.


"Bagaimana kamu bisa mengenal Kikan?" tanya Alvaro dengan raut wajah yang penasaran.


"Sebenarnya..." ucap Chris hendak menjelaskan, namun lagi-lagi terpotong.


Sebuah suara beberapa derap langkah yang mulai terdengar di area sana, lantas membuat pembicaraan keduanya terputus dengan seketika.


Beberapa Pria yang berpakaian serba hitam nampak berlarian ke arah Chris dan Alvaro, tepat ketika senter yang mereka arahkan ke beberapa lokasi menyorot keduanya saat itu.


Chris sedikit menyipitkan kelopak matanya, ketika beberapa cahaya yang berasal dari lampu senter menyorot tepat ke arahnya saat itu.


"Pak Chris.. Apa anda baik-baik saja?" ucap seseorang yang ternyata adalah bawahan dari Chris.


"Apa kalian sudah menyediakan ambulans di atas?" ucap Chris begitu melihat orang kepercayaannya mendekat saat ini.


"Tentu Pak, silahkan lewat sini.. Saya sudah menyiapkan kendaraan untuk anda dan juga teman anda." jawabnya sambil memberikan kode pada yang lainnya untuk beralih membopong Alvaro saat itu.


Mendengar hal tersebut membuat Chris hanya mengangguk dengan pelan. Beberapa orang yang membopong Alvaro nampak mulai bergerak menuju ke arah yang di tunjuk bawahan Chris barusan.


Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Chris saat itu, tatkala kejadian beberapa tahun yang silam mulai terlintas kembali di benaknya saat ini.


"Andaikan dulu nasib mu sama seperti Alvaro, mungkin hingga kini aku akan tetap bersama dengan dirimu Anya." ucap Chris sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar, seakan mencoba untuk menarik dirinya dari ingatan masa lalu.


Sampai kemudian sebuah tepukan tangan di pundak Chris saat itu, lantas membuat Chris tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Apa anda baik-baik saja Pak?" ucap Bodyguard nya yang sedari tadi menatap setiap gerak gerik Chris saat itu.


"Aku baik-baik saja, sebaiknya kita pergi sekarang." ucap Chris pada akhirnya sambil terlihat mengangguk dengan pelan.


***


Sementara itu di area atas


"Bukan begitu Nona, saya hanya..." ucap Bodyguard tersebut namun terhenti ketika suara walkie talkie miliknya terdengar menggema saat itu.


Ssst sst


"Kucing.. Kucing ganti..."


"Rusa di sini ganti.." jawab Bodyguard tersebut, yang lantas membuat Inara terdiam di sana.


"Pak Chris sudah ketemu dan saat ini menuju ke atas dengan mobil jeep." ucap sebuah suara yang berasal dari walkie talkie tersebut.


Helaan napas lega terdengar berhembus dari mulut Inara saat itu, ia bahkan sudah hampir berlarian terjun ke bawah jika sampai terjadi apa-apa pada Chris. Setidaknya Pria itu sudah sangat membantunya, jika sampai terjadi sesuatu kepada Chris, bukankah Inara akan semakin merasa bersalah?


Mendengar perkataan Bodyguard tersebut hanya membuat Inara menghela napasnya dengan panjang. Pada akhirnya Inara tidak punya alasan lagi untuk tidak menuruti perkataan dari Bodyguard tersebut.


.


.


.


.


.


Cukup lama Inara menunggu tepat setelah perselisihan yang terjadi dengan keduanya. Sebuah suara mobil jeep yang terdengar mendekat saat itu, membuat Inara lantas begitu antusias menatap ke arah sumber suara.


"Aku berharap Alvaro ada bersama dengan Chris saat ini." ucap Inara dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


Beberapa perawat yang memang telah di panggil sebelumnya, nampak mulai berlarian mendekat ke arah mobil jeep tersebut berhenti. Membuat Inara yang mendapati hal tersebut ikut bangkit dari tempat duduknya.


Raut wajah bahagia terlihat jelas di sana, ketika mendapati sosok seseorang yang dinantinya sedari tadi nampak di papah menaiki brankar pasien saat itu.


"Sebentar, biarkan saya bertemu dengan istri saya sebelum ke Rumah sakit." ucap Alvaro yang lantas menghentikan langkah kaki para perawat.


"Saya mohon maaf Pak, hanya saja luka anda harus segera di tangani atau akan terjadi infeksi nantinya." ucap seorang dokter yang melihat beberapa pecahan kaca nampak masih menempel di kaki Alvaro saat ini.


"Saya mohon sebentar saja..." ucap Alvaro dengan nada yang memohon saat itu.


"Saya harap..." ucap Dokter tersebut namun langsung terpotong ketika sebuah suara serak seorang wanita nampak terdengar mendekat saat itu.


"Mas Alvaro.. Apa kamu baik-baik saja mas?" ucap Inara sambil menahan isak tangisnya saat itu.


"Apa anda istrinya?" tanya Dokter tersebut kemudian, yang lantas di balas Inara dengan anggukan kepala.


"Baguslah, kalau begitu ikut kami ke Rumah sakit agar kami bisa segera menangani luka suami anda." ucap Dokter tersebut, yang lagi-lagi ke.bali di balas anggukan kepala oleh Inara saat itu, sebelum pada akhirnya Dokter tersebut mengisyaratkan beberapa perawat untuk kembali mendorong brankar pasien tersebut.


"Apa kamu akan ikut Chris?" ucap Inara sebelum beranjak dari tempatnya.


"Aku akan menyusul kalian menggunakan mobil, kamu pergilah dulu bersama dengan mereka." ucap Chris yang lantas di balas anggukan kepala oleh Inara.


Pada akhirnya Chris dan juga Inara memutuskan berpencar. Dimana Inara ikut mobil ambulans sedangkan Chris menyusul keduanya menggunakan mobil pribadinya menuju ke Rumah sakit.


***


Sementara itu, disaat semua orang tengah sibuk berlalu pergi dari sana dan menuju ke Rumah sakit terdekat. Sebuah mobil asing terlihat terparkir tak jauh dari tempat kejadian.


Kikan yang semula hendak mengetahui kondisi terkini Alvaro ketika dinyatakan menghilang, lantas mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju ke lokasi kejadian.


Sayangnya semua kecemasan yang semula memenuhi hati dan juga pikirannya saat itu, mendadak menjadi sirna ketika ia melihat pemandangan romantis yang terjadi di antara Alvaro dan juga Inara saat itu.


"Cih, bukankah sia-sia aku datang kemari? Harusnya aku tidak usah perduli meski Pria itu telah mati sekalipun!" ucap Kikan sambil mencengkram dengan erat stir mobilnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2