
Alvaro yang tak mendapati Inara di ruangannya tentu saja panik bukan main. Diedarkan pandangannya ke arah sekitar seakan mencoba untuk mencari jawaban akan pertanyaannya sendiri. Sampai kemudian Ratih datang dan menghampirinya saat itu.
"Kemana Inara Bu? Bukankah tadi sesuatu terjadi di sini? Bagaimana..." ucap Alvaro namun langsung dipotong oleh Ratih yang seakan tahu, apa yang tengah dicari oleh Alvaro saat ini.
"Inara ada di ruangan menyusui, kamu tidak perlu khawatir Inara baik-baik saja.. Meski luka jahitannya robek tapi Inara adalah gadis yang kuat. Tenangkan lah dirimu nak..." ucap Ratih sambil menepuk pundak Alvaro dengan pelan, kemudian berlalu pergi dari sana.
Mendengar perkataan dari Ratih barusan membuat helaan napas lega terdengar dengan jelas keluar dari mulutnya. Alvaro benar-benar bersyukur Inara bisa selamat dan melewati masa kritisnya, hal tersebut membuat Alvaro lantas mengusap raut wajahnya dengan kasar saat itu.
"Syukurlah Inara baik-baik saja, aku benar takut kalau sampai.. Ah sudahlah lagi pula itu tidak terjadi bukan?" ucap Alvaro pada diri sendiri, sebelum pada akhirnya melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan menyusui.
***
Ruangan menyusui
Dengan hati-hati Inara nampak menggendong bayi mungil yang masih berwarna kemerahan itu. Tangisan bayi itu membuat air matanya berlinang tanpa bisa Inara cegah. Entah mengapa melihatnya seperti ini, membuat Inara tak bisa berhenti menangis.
Didekapnya bayi itu ke arah p4yud4r4nya agar ia bisa lebih mudah untuk menyusui, sambil mengusap lembut pipi gembul bayi tersebut Inara terlihat tersenyum bahagia saat itu.
"Kamu di sini Ra? Aku mencari mu sedari tadi? Apa kamu baik-baik saja?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Inara menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
Inara tersenyum melihat kedatangan Alvaro yang semakin melangkah mendekat ke arahnya saat itu.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatirkan aku mas. Lihatlah.. Bukankah dia sangat lucu?" ucap Inara dengan lembut sambil memperlihatkan bayi mungil tersebut.
"Iya dia sangat lucu.. Hidungnya benar-benar mirip dengan mu." ucap Alvaro sambil ikut mengusap lembut pipi bayi tersebut.
"Benarkan? Sebenarnya aku agak sedikit kesal karena hampir secara keseluruhan ia mirip dengan mu. Tapi aku rasa mungkin itu ada baiknya juga karena dengan begitu ia kelak pasti akan menjadi Pria tampan idaman semua wanita sama seperti Ayahnya." ucap Inara sambil menatap ke arah Putranya.
"Jadi kali ini kamu mengakui jika aku tampan? Ah bukan kah Ibu mu sangat manis nak?" ucap Alvaro dengan nada yang menggoda membuat Inara lantas mendengus dengan kesal karenanya.
"Jangan bercanda Ayah..." ucap Inara yang lantas membuat Alvaro langsung mengecup puncak kepala Inara saat itu.
__ADS_1
Hening sesaat sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Inara, mendadak membuat suasananya menjadi sedikit aneh.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan Karan Mas?" ucap Inara dengan tiba-tiba yang lantas membuat Alvaro terdiam seketika.
Raut wajah Alvaro nampak begitu datar saat itu, bayangan bagaimana kejadian yang baru saja ia alami terlintas dengan jelas di ingatannya. Alvaro mengusap puncak kepala Inara dengan lembut kemudian sebisa mungkin mencoba untuk tersenyum kala itu.
"Belum, apakah ada sesuatu Ra?" tanya Alvaro kemudian.
"Entahlah, aku hanya merasa semua ini adalah sebuah kesalahpahaman saja. Lina menceritakan segalanya kepada ku tentang Karan maupun juga Arin. Aku sangat menyesal ia memilih untuk mengorbankan dirinya demi cintanya. Aku tahu aku sangat egois karena anehnya aku malah merasa beruntung akan keputusan Lina yang melepaskan ku saat itu. Hanya saja... Aku benar-benar tidak siap jika harus melihat mu sedih karena kepergian kami berdua. Lagi pula anak ini sudah kamu nantikan sejak dulu, jika sesuatu terjadi kepadanya aku tidak tahu akan apa yang terjadi kepada mu nantinya." ucap Inara dengan raut wajah yang sendu.
"Apa yang kamu pikirkan Ra? Bagaimana mungkin aku hanya mengkhawatirkan anak ku saja. Bagi ku kalian berdua sama pentingnya, aku tidak menyangkal jika aku juga bersyukur akan keputusan yang Lina buat. Hanya saja kamu tidak boleh terus terkurung dalam rasa bersalah akan keputusan Lina saat itu. Aku rasa Lina pasti sudah memikirkannya matang-matang sebelum melakukan hal ini. Kamu berhak untuk hidup Ra.. Begitu pula Putra kita." ucap Alvaro berusaha untuk menenangkan Inara.
Alvaro jelas tahu jika saat ini Inara tengah bersedih sekaligus masih terkejut akan kejadian yang terjadi hari ini.
"Benarkah mas?" ucap Inara yang seakan tak percaya.
"Tentu saja" ucap Alvaro sambil tersenyum dengan simpul, membuat Inara sedikit merasa lega ketika mendengar perkataan dari Alvaro barusan.
***
Hari ini adalah sidang putusan perceraian keduanya di jatuhkan, sekaligus menjadi penanda bahwa hubungan keduanya telah berakhir hari ini.
Kikan nampak menghentikan langkah kakinya saat itu, membuat Alvaro yang mendapati hal tersebut lantas ikut berhenti dan menatap ke arah dimana Kikan berada.
"Apa ada sesuatu Ki?" tanya Alvaro kemudian.
Mendengar hal tersebut Kikan nampak tersenyum dengan simpul kemudian melangkah mendekat ke arah dimana Alvaro berada.
"Selamat atas gelar baru mu sebagai Ayah, aku harap hubungan kita tidak putus sampai di sini. Em.. Untuk yang terakhir kalinya, bolehkah aku menjabat tangan mu? Aku mohon..." ucap Kikan sambil mulai mengarahkan tangannya ke arah Alvaro saat itu.
"Jangan membuat perpisahan ini menjadi mellow drama Ki, meski kita sudah tidak lagi bersama tapi kita masih bisa tetap menjadi sahabat. Aku akan selalu ada di saat kamu membutuhkan, jangan menganggap aku orang lain melainkan sebagai seorang saudara. Berjanjilah kamu akan menjemput kebahagiaan mu Ki.. Berjanjilah..." ucap Alvaro sambil menyambut jabatan tangan Kikan saat itu.
__ADS_1
"Aku janji mulai hari ini akan hidup bahagia dan membuang jauh-jauh topeng yang aku gunakan, terima kasih banyak Al.. Terima kasih..." ucap Kikan sambil tersenyum dengan simpul.
***
Area parkiran
Setelah perpisahan yang terjadi antara Alvaro dan juga Kikan, Alvaro nampak melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana mobilnya terparkir saat itu. Sebuah deringan ponsel miliknya, lantas menghentikan langkah kaki Alvaro dengan seketika.
"Halo..." ucap Alvaro tepat setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Hari ini adalah sidang putusan dari nyonya Tamara Pak, sudah bisa dipastikan jika nyonya Tamara mendapat hukuman penjara seumur hidup. Apakah anda puas dengan ini Pak?" ucap sebuah suara yang berasal dari Abi di seberang sana.
"Sebenarnya aku belum puas dengan putusan ini mengingat apa yang telah dilakukan oleh mantan mertua ku kepada Inara. Hanya saja setidaknya aku masih punya hati dan tidak setega itu untuk meminta sebuah hukuman mati untuknya. Laporkan terus padaku perkembangannya, aku pergi dulu." ucap Alvaro kemudian sebelum pada akhirnya memutus sambungan telpon tersebut.
Setelah mengakhiri panggilan telponnya, Alvaro nampak mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam mobil.
"Halo Ayah? Apa semua baik-baik saja?" ucap sebuah suara yang berasal dari Inara dengan nada sengaja ia buat sedikit lebih cempreng.
Alvaro tersenyum mendengar sapaan hangat tersebut, kemudian mencium puncak kepala Inara dan pipi gembul Putranya itu.
"Apa kalian berdua menunggu lama? Maaf ya.. Ayah tadi masih harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu." ucap Alvaro sambil menatap gemas ke arah keduanya.
"Tidak perlu khawatir Mas, Putra kita sama sekali tidak rewel. Lihatlah! Meski Ayahnya sudah datang ia masih betah berenang dalam pulau impiannya." ucap Inara sambil mencium pipi Putranya saat itu.
"Syukur kalau begitu, setidaknya Ibu tidak kesusahan untuk menjaga adik." ucap Alvaro dengan tersenyum simpul.
"Mulai hari ini mari kita mulai semuanya dari awal Mas..." ucap Inara dengan tiba-tiba membuat Alvaro langsung mendongak menatap ke arah sumber suara dengan seketika.
"Ya, sebuah awal yang baru dan juga jalan kebahagian baru untuk ku, kamu dan juga Putra kita. Aku berjanji akan selalu ada untuk mu sampai kapan pun, bahkan hingga maut memisahkan kita. Mari kita mulai semuanya dari awal Ra dan melangkah bersama-sama menuju masa depan yang bahagia..." ucap Alvaro dengan raut wajah yang berseri.
"Tentu saja Mas..."
__ADS_1
...The end...
Terima kasih telah mengikuti kisah Inara dan juga Alvaro hingga menjemput akhir yang bahagia. Tidak ada satupun di dunia ini yang mengetahui akhir kehidupan kita, namun sebagai manusia kita perlu ber positif thinking dan menjalani setiap langkah yang kita ambil dengan rasa bersyukur dan juga kebahagian. Sampai jumpa di novel-novel author selanjutnya, see you.... 👋🏻