
Di depan pintu kamar Inara, terlihat Kikan dan juga Alvaro tengah menunggu dengan gelisah. Bella tengah memeriksa keadaan Inara di dalam dan ini sudah berlangsung cukup lama, membuat Alvaro kian gelisah karena tak kunjung mendapati Bella keluar dari sana.
Ceklek..
Suara pintu kamar yang terbuka dengan lebar saat itu, lantas langsung membuat Alvaro dan juga Kikan melangkah mendekat ke arah pintu masuk dengan raut wajah yang khawatir.
"Apakah kondisinya parah Bell? Haruskah kita membawanya ke Rumah sakit?" ucap Alvaro dengan raut wajah penuh khawatir, membuat Bella yang sadar ada sesuatu yang aneh di sini lantas hanya bisa memasang raut wajah yang mengernyit.
"Tenanglah Al dia baik-baik saja." ucap Bella mencoba untuk menenangkan Alvaro yang terlihat begitu panik.
"Sabar Al.. Bella juga mau menjelaskannya, bukan?" ucap Kikan kemudian yang lantas membuat Alvaro menghela napasnya dengan panjang.
Bella yang melihat situasinya aneh di sini hanya bisa menatap kedua orang itu tanpa bisa bertanya lebih dalam lagi akan masalah mereka. Bella bahkan sudah berteman lama dengan keduanya dan menjadi Dokter keluarga Alvaro sejak 5 tahun yang lalu. Tentu saja Bella akan langsung bisa merasakan jika ada sesuatu yang aneh dari keduanya.
"Kalian tak perlu khawatir, apa yang terjadi pada Inara umum dan juga wajar bagi Ibu hamil di trisemester pertama. Jadi akan ada hal lainnya yang mungkin akan mengikuti di masa-masa kehamilan awal seperti morning sick, mudah lelah, mual dan lain sebagainya. Jadi kalian harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi hal ini." ucap Bella menjelaskan detailnya kepada Alvaro dan juga Kikan.
Baik Alvaro dan juga Kikan yang sama sekali belum menyadari akan perkataan dari Bella barusan hanya manggut-manggut saja tanda mengerti. Sampai kemudian dalam sepersekian detik ketika keduanya baru menyadari apa yang baru saja dikatakan oleh Bella, membuat Kikan dan juga Alvaro lantas saling pandang antara satu sama lain.
"Hamil?" ucap Alvaro dengan spontan yang terkejut akan berita tersebut.
"Iya, jika kalian ingin tahu lebih detailnya lagi kalian boleh cek langsung ke dokter kandungan sekaligus berkonsultasi di sana." ucap Bella kemudian yang lantas semakin tidak mengerti ketika melihat reaksi keduanya yang aneh.
"Kamu akan menjadi seorang Papa, selamat sayang." ucap Kikan sambil memeluk dengan erat tubuh Alvaro.
__ADS_1
"Kamu juga selamat sayang karena akan mempunyai seorang anak, penantian mu selama ini tidaklah sia-sia." ucap Alvaro dengan tersenyum simpul sambil membalas pelukan erat dari Kikan.
Disaat Alvaro dan Kikan tengah berbahagia, lain halnya dengan Bella yang sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi di keluarga ini. Jelas-jelas yang hamil adalah Inara, namun mengapa malah Kikan yang mendapat ucapan selamat? Bella yang tidak tahu apapun hanya menatap kegirangan keduanya dengan tatapan yang aneh sekaligus penasaran, akan apa yang telah terjadi kepada rumah tangga temannya saat ini.
"Apakah ada sesuatu yang kalian berdua sembunyikan? Aku rasa ada sesuatu yang aneh di sini!" ucap Bella kemudian yang lantas membuat Alvaro dan juga Kikan melepas pelukannya dengan raut wajah yang Kikuk.
Bella menatap keduanya dengan tatapan yang menelisik seakan mencari tahu dari sorot mata keduanya. Sampai kemudian Alvaro terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan bersiap melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Inara saat ini.
"Antarkan Bella, aku akan melihat Inara sebentar." ucap Alvaro sambil mengambil langkah kaki seribu seakan hendak kabur dari Bella saat ini.
"Tapi aku..." ucap Bella namun terpotong ketika Kikan menarik tangannya dan membawanya pergi dari sana.
"Ayo turun ke bawah, kemarin Inara membuat puding susu enak sekali kamu harus mencicipinya." ucap Kikan sambil menarik tangan Bella agar mengikuti langkah kakinya turun ke bawah.
**
Kamar Inara
Inara yang tadinya hendak pergi tidur karena merasa tubuhnya lemas, lantas kembali terjaga ketika melihat Alvaro melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Melihat langkah kaki Alvaro yang mendekat, Inara kemudian lantas langsung berusaha bangkit dari posisi rebahannya.
"Jika masih pusing tak perlu bangun Ra, tiduran saja..." ucap Alvaro sambil membawa langkah kakinya terus mendekat ke arah dimana Inara berada.
"Ah tak apa mas, aku sudah lebih baik." ucap Inara dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Terima kasih ya Ra..." ucap Alvaro tiba-tiba yang lantas langsung membuat Inara mengernyit begitu mendengar hal tersebut.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Inara dengan raut wajah yang penasaran.
"Terima kasih karena telah mewujudkan impian Kikan selama ini." ucap Alvaro kemudian sambil mengambil posisi duduk di tepi ranjang Inara saat itu.
Inara yang mendengar perkataan dari Alvaro barusan awalnya sama sekali tidak mengerti apapun. Sampai kemudian tatapan Alvaro yang tertuju kepada perutnya yang rata saat ini, lantas membuat Inara menyadari satu hal yang ia lewatkan.
"Apa aku hamil?" ucap Inara sambil dengan spontan memegang area perutnya yang masih datar saat ini.
"Tentu saja... Selamat Ra kamu akan menjadi seorang Ibu." ucap Alvaro kemudian sambil memeluk tubuh Inara begitu saja.
Inara yang mendengar berita tersebut tentu saja terkejut bukan main, ini memanglah tujuannya selama ini agar bisa secepatnya hamil dan segera pergi dari kehidupan Kikan dan juga Alvaro. Hanya saja entah mengapa setelah semua itu terpenuhi dan di kabulkan, ada sebuah perasaan yang tak rela dalam diri Inara.
Bukan tentang bayi ini karena Inara tahu Kikan dan juga Alvaro pasti akan menyayangi anaknya seperti anak mereka sendiri. Hanya saja selama hampir dua bulan tinggal bersama keduanya di sini, membuat Inara merasa memiliki sebuah keluarga yang utuh. Dimana Inara mendapatkan kasih sayang dari Alvaro dan juga Kikan
Meski Inara hanyalah seorang istri kedua, namun Alvaro tidak pernah sama sekali membedakannya sedikitpun. Sedangkan Kikan memperlakukannya dengan sangat-sangat baik layaknya seorang adik sendiri.
Sebuah perasaan muncul tepat setelah Alvaro memeluk tubuhnya dengan erat. Bayangan bagaimana Alvaro mengatakan kepada Kikan di area kolam renang bahkan masih terngiang dengan jelas di kepalanya, bahwa Alvaro akan menceraikan Inara tepat setelah ia melahirkan putranya. Lalu jika seperti ini, bisakah Inara untuk bersikap egois?
Inara terdiam di pelukan Alvaro seakan tak berdaya akan takdir yang terus menyeretnya masuk ke dalam perasaan bermekaran yang ia rasakan akan setiap tindakan kecil yang diberikan oleh Alvaro kepadanya.
"Sanggupkah aku melepaskan semuanya?"
__ADS_1
Bersambung