
Dapur
Tamara yang saat itu ingin melihat isi lemari pendingin dan mengambil air dingin di sana, lantas sedikit mengernyit ketika melihat begitu banyak makanan dan juga cemilan di sana. Padahal biasanya Kikan tidak akan pernah menyimpan makanan sebanyak ini, mungkin mentok lemari pendinginnya hanya diisi dengan snack kesukaannya saja.
"Tumben sekali ada banyak makanan di sini? Apa semalam mereka telah makan besar? Mengapa tidak mengundangku?" ucap Tamara dengan raut wajah yang mengernyit.
Tamara yang melihat lemari pendingin di rumah Kikan begitu terlihat rapi dan juga penuh dengan makanan, membuat sebuah ide lantas langsung muncul di kepalanya saat ini. Dengan gerakan yang bergegas Tamara mulai memberantakan isi lemari pendingin mengambil makanan, mencomotnya sedikit kemudian melemparnya ke lantai. Hal itu terus dilakukan oleh Tamara secara berulang kali, hingga membuat keadaan kulkas menjadi berantakan, sedangkan lantai di sekitarnya penuh dengan makanan yang berserakan.
"Ap..a yang terjadi Bu..." ucap Inara dengan raut wajah yang terkejut membuat Tamara langsung menghentikan gerakannya dengan seketika.
"Bersihkan ini semua! Bukankah hal ini juga tugas dari seorang asisten?" ucap Tamara dengan nada yang ketus menatap tajam ke arah Inara.
Inara yang mendengar perkataan ketus dari Tamara barusan hanya bisa melongo sambil menatap ke arah sekitaran yang benar-benar sudah terlihat berantakan saat itu. Sedangkan Tamara yang melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Inara, hanya tersenyum dengan tipis kemudian melangkahkan kakinya ke arah wastafel untuk mencuci tangannya yang kotor terkena noda makanan.
Luka di tangan Inara saja belum terobati dan masih terasa begitu perih saat ini, namun Tamara malah kembali melimpahkan tugas yang membuat Inara tak habis pikir akan tingkah laku Tamara saat ini. Entah mengapa Inara seperti merasa jika Tamara sedang menaruh dendam kepadanya, yang Inara sendiri tidak tahu apa itu.
"Apa yang membuat mu diam? Lakukan sekarang juga! Apakah kata-kata ku terlalu sulit untuk dipahami?" pekik Tamara yang langsung membuyarkan segala lamunan Inara saat itu.
"Ba...baik Bu..." ucap Inara yang terkejut akan nada menukik tinggi milik Tamara barusan.
Inara yang sudah mengerti akan tugasnya saat ini kemudian langsung mengambil tempat sampah dan juga beberapa alat yang bisa ia gunakan untuk membersihkan beberapa kotoran yang telah dibuat oleh Tamara sebelumnya. Sedangkan Tamara yang melihat Inara mulai sibuk membersihkannya, kemudian melangkahkan kakinya dengan begitu saja melintasi area yang Inara bersihkan dan mengambil duduk tepat di area meja makan.
"Lakukan dengan benar, apakah kau tidak melihat di sana masih sangat kotor?" pekik Tamara lagi sambil menunjuk area lantai.
__ADS_1
Tamara benar-benar puas melihat dia bisa mengerjai Inara seperti itu, lagi pula sebagai seorang asisten memang tugasnya bukan untuk membersihkan dan juga disuruh-suruh?
Sambil memakan satu buah apel di tangannya, Tamara terus menjadi mandor untuk Inara dan selalu menyuruhnya membersihkan beberapa hal yang sama sekali seharusnya tidak perlu dilakukan oleh Inara. Sedangkan Inara yang terus menerima perintah dari Tamara tanpa henti, hanya bisa menurutinya tanpa protes sama sekali. Setidaknya hanya hal ini yang bisa Inara lakukan untuk menutupi rasa bersalah yang ada pada dirinya saat ini. Inara bukanlah bodoh sehingga ia tidak bisa menolak ataupun membantah perkataan dari Tamara.
Hanya saja rasa bersalahnya kepada Kikan yaitu putri Tamara, membuat Inara hanya bisa menuruti segala perintah dari Tamara saat ini tanpa bisa mengeluh atau melakukan tindakan yang mungkin akan membuat Tamara semakin marah kepadanya dan menimbulkan rasa bersalah yang semakin membesar dalam diri Inara.
.
.
.
.
.
Keringat dingin saat ini mulai membanjiri pelipis Inara saat itu. Entah mengapa pandangannya mendadak menjadi buram kemudian tak berapa lama kembali terlihat jelas, membuat Inara lantas langsung menggelengkan kepalanya dengan perlahan seakan berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. Inara memegang area perutnya yang sedikit terasa nyeri saat ini, membuatnya langsung menghentikan gerakannya detik itu juga. Inara mengelus perutnya dengan perlahan seakan mencoba untuk menenangkan janinnya saat ini.
"Kita bisa nak.. Mari kita lakukan dengan baik ya..." ucap Inara sambil mengusap area perutnya dengan perlahan.
Inara mengistirahatkan tubuhnya sejenak mencoba mengembalikan staminanya, mungkin hal ini di karenakan ia belum makan siang. Lagi pula kedatangan Tamara terlalu mendadak saat ini, membuat Inara tidak bisa berbuat apa-apa saat itu.
Tamara yang melihat Inara menghentikan gerakannya, lantas bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah Inara sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Mengapa kau berhenti ha? Ayo lakukan! Sebelah sini belum bersih, apa asisten seperti mu akan terus memakan gaji buta? Lakukan!" pekik Tamara dengan nada yang meninggi membuat Inara langsung terkejut dengan seketika.
"Maaf Bu, bisakah saya istirahat sebentar saja? Saya haus Bu..." ucap Inara kemudian sambil berusaha mengiba berharap Tamara akan membiarkannya kali ini.
"Kau ingin minum rupanya ya? Selesaikan dulu pekerjaan mu saat ini, baru setelah itu aku akan memberimu makan dan minum!" ucap Tamara dengan tersenyum sinis.
Sedangkan Inara yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang, Inara mengusap perutnya dengan perlahan kemudian tersenyum.
"Mari kita lakukan bersama ya nak? Ibu tahu kamu kuat.." ucap Inara dnegan lembut.
***
Sementara itu Alvaro yang ingin segera melihat keadaan Inara, lantas memutuskan untuk pulang lebih sore saat ini. Mobil yang dilajukan oleh Alvaro bahkan saat ini telah memasuki pelataran kediamannya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Alvaro terlihat menatap ke arah buah-buahan segar yang baru saja ia beli. Alvaro dengar jika Ibu hamil memerlukan makanan yang bergizi agar janinnya sehat dan juga cerdas, membuat Alvaro sengaja datang ke toko buah dan memilihnya sendiri untuk memastikan buah tersebut masih fresh.
Dengan seulas senyum yang mengembang, Alvaro mulai membawa langkah kakinya memasuki area kediamannya sambil membawa keranjang buah di tangannya. Hanya saja ketika langkah kakinya sampai di area ruang tengah, Alvaro malah melihat pemandangan yang membuat dirinya begitu marah saat itu.
Alvaro yang melihat hal tersebut, lantas menjatuhkan keranjang buah yang ada di tangannya begitu saja kemudian melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke area tengah.
"Apa-apaan ini? Apa yang Mama lakukan?" pekik Alvaro yang tentu saja langsung membuat Tamara dan juga Inara menoleh ke arah sumber suara.
"Mas..."
__ADS_1
Bruk...
Bersambung