Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Anak haram!


__ADS_3

"Diam lah sebentar Pah... Tunggu.. Bukankah dia?" ucap Tamara kemudian yang tanpa sengaja malah melihat seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui kembali.


Tamara benar-benar terkejut melihat Ratih berjalan memasuki sebuah ruangan di Rumah sakit ini, membuat Agam dan juga Kikan lantas langsung menoleh ke arah sudut pandang Tamara saat itu.


"Oh.. Dia adalah Ibu dari Inara, tadi aku sempat bertemu dengannya sebentar sebelum Mama menelpon ku." jawab Kikan dengan nada yang begitu santainya, namun berhasil membuat manik mata Agam dan juga Tamara membulat dengan seketika.


Sepertinya kenyataan yang berusaha Agam tutupi dari Tamara, pada akhirnya tetap harus terbongkar juga walau itu tanpa disengaja. Agam bahkan sudah berusaha membuat Tamara menjauh dari kejadian tadi pagi, berharap dengan begitu Tamara tidak mengetahui fakta bahwa Inara adalah putri kandungnya.


Hanya saja sepertinya nasib berkata lain, Agam yang mati-matian berusaha untuk menutupi. Nyatanya kenyataan tersebut malah terbuka lebar lewat Kikan sendiri.


"Apa katamu? Bagaimana mungkin?" ucap Tamara yang seakan tak percaya setelah mendengar perkataan dari Kikan barusan.


"Apanya yang apa sih Ma? Bukankah Mama bertanya tentang wanita itu? Ya aku jawab apa adanya lah." ucap Kikan yang tak mengerti akan ekspresi raut wajah keduanya.


"Jadi Inara adalah putri wanita itu? Pantas saja tingkahnya sama persis dengan Ibunya." ucap Tamara yang semakin membuat Kikan tak mengerti saat itu.


"Diam lah, memang sebaiknya aku membawa mu pulang tadi. Ayo kita pergi sekarang juga..." ucap Agam kemudian sambil menarik tangan Tamara saat itu.


"Apa-apaan sih Pa? Lagi pula aku datang ke sini untuk putri ku Kikan, apa urusannya dengan dia?" ucap Tamara dengan nada yang terdengar begitu sewot.


"Jangan pernah berkelit karena aku tahu dengan jelas, apa isi kepala mu saat ini!" ucap Agam dengan nada yang terdengar datar.


"Ada apa sebenarnya ini Ma? Pa?" tanya Kikan dengan raut wajah yang penasaran.


"Sebaiknya kamu juga pulang Ki, Papa akan menjelaskan segalanya di rumah." ucap Agam yang tidak ingin menerima penyangkalan saat itu.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa basa-basi lagi Agam terlihat menarik pergelangan tangan Tamara saat itu agar segera mengikuti langkah kakinya. Sedangkan Kikan yang mendapati hal tersebut hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan raut wajah yang bingung, sebelum pada akhirnya mulai mengikuti langkah kaki keduanya pergi dari tempat tersebut.


***


Ruangan ICU


Dengan langkah kaki yang perlahan, Alvaro nampak membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana brankar pasien milik Inara berada. Setetes air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya, namun sebisa mungkin Alvaro usap agar Inara tidak mengetahuinya.


Diusapnya dengan lembut tangan Inara yang nampak berwarna pucat saat itu dengan hati-hati. Entah mengapa hatinya terasa begitu hancur mendapati kondisi Inara saat ini.


Alvaro mencoba untuk tersenyum dikala suasana hatinya yang tengah hancur saat ini.


"Ra kamu pasti lelah ya? Untuk hari ini aku akan membiarkan mu tidur seharian penuh, tapi aku mohon bangunlah esok hari. Tidakkah kamu ingin melihat Putra kita Ra? Dia sangat tampan, sayang sekali aku tidak bisa membawanya ke sini dan bertemu dengan mu karena ia begitu mungil dan rapuh. Usianya yang belum genap sembilan bulan, membuatnya harus tinggal beberapa waktu di dalam inkubator. Ra aku..." ucap Alvaro namun tercekat.


Pikiran buruk benar-benar memenuhi kepalanya saat ini, perasaan takut kehilangan Inara telah memenuhi isi kepalanya. Membuat Alvaro tak kuasa menahan isak tangisnya.


"Tidak.. Tidak Ra jangan menangis... Air mata ku adalah air mata bahagia karena kelahiran anak pertama kita. Aku benar-benar bahagia Ra, jangan membuat ku menunggu terlalu lama ya.. Segeralah bangun dan kita akan jalan-jalan ke Dufan seperti permintaan mu, bukankah hal itu akan sangat mengasyikkan?" ucap Alvaro lagi sambil mengusap air mata yang keluar dari sudut mata Inara tadi.


"Aku mencintai mu Ra... Cepatlah sembuh..." ucap Alvaro sambil mengecup puncak kepala Inara saat itu.


Disaat situasi tengah mellow saat itu, sebuah deringan ponsel yang berasal dari milik Alvaro, lantas terdengar dan menggema di ruangan tersebut. Sambil bangkit dari tempat duduknya, Alvaro nampak berlalu pergi hendak mengangkat panggilan telpon tersebut.


"Halo..." ucap Alvaro yang terlihat berjalan keluar dari ruangan ICU.


"Aku sudah menemukan biang keladinya, datanglah ke sebuah bangunan tua yang tak terpakai di pinggiran kota. Keputusan ada di tangan mu, aku tak menyuruh mu untuk membalas dendam dengan cara yang kotor. Hanya saja jika untuk menyerahkannya ke polisi aku sama sekali tidak setuju." ucap sebuah suara yang ternyata adalah Chris.

__ADS_1


Mendengar perkataan Chris barusan, membuat Alvaro langsung terdiam sejenak. Ditatapnya Inara yang saat ini masih memejamkan matanya dari dinding kaca yang membatasi ruangan tersebut.


"Tunggu aku, aku pastikan akan datang ke sana!" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu dingin, sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan area ruang tunggu tersebut.


Dengan langkah kaki yang bergegas dan juga yakin, Alvaro nampak membawa langkah kakinya menuju ke arah parkiran. Alvaro bahkan sudah tidak lagi memikirkan akibat dari perbuatannya, bagi Alvaro.. Siapapun yang telah menyentuh orang yang ia sayangi, ia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya.


"Akan aku pastikan kau menerima apa yang telah kau perbuat kepada Inara ku!" ucap Alvaro pada diri sendiri sambil terus membawa langkah kakinya dengan lebar saat itu.


***


Malam harinya


Di area lorong Rumah sakit terlihat seorang wanita dengan menggunakan masker tengah berjalan perlahan menuju ke area ruang ICU.


Sambil menatap ke arah sekitar, wanita itu nampak mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan steril tersebut.


"Seulas senyum terlihat terbit dari wajah tersebut tepat ketika masker yang ia kenakan di buka begitu saja.


"Tidak anak tidak Ibu semua sama-sama merepotkan! Bukankah kau hanya tinggal m4ti saja? Mengapa masih mencoba untuk bertahan? Cih benar-benar menyebalkan." ucap wanita tersebut yang ternyata adalah Tamara.


Dengan langkah kaki yang lebar, Tamara mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana brankar pasien Inara berada dan mengambil posisi sedikit membungkuk.


"Sejak awal kedatangan mu aku sudah curiga karena wajah mu itu begitu mirip dengan seseorang. Apa kau tidak ingin bertanya mengapa aku sangat membenci mu? Tentu saja karena wajah mu yang begitu mirip dengan Ratih, wanita pelakor sekaligus perusak Rumah tangga orang!" ucap Tamara dengan menggebu-gebu.


"Aku benci menjadi seorang penjahat, namun sepertinya untuk kali ini bahkan Tuhan juga merestui ku untuk melenyapkan anak haram seperti dirimu!" ucap Tamara sambil menekan area perut Inara bekas operasi cesar.

__ADS_1


Tit tit tit...


Bersambung


__ADS_2