Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Seorang pembantu?


__ADS_3

Area dalam mobil


Mobil yang di kendarai oleh Alvaro terlihat berhenti tepat di bahu jalan ketika tak sengaja Inara melihat Angkringan pedagang nasi goreng di pinggir jalan. Alvaro yang melihat lokasinya tentu saja langsung mengernyit, bukan masalah tak suka atau apa hanya saja untuk masalah Inara dan calon anaknya, Alvaro sama sekali tidak ingin ceroboh dalam memilih makanan yang akan keduanya konsumsi.


"Ra sebaiknya kita cari makanan yang lain ya.. Jangan yang ini." ucap Alvaro berusaha membujuk Inara agar mengurungkan niatnya.


"Ayolah mas sekali saja, aku benar-benar ingin memakannya." ucap Inara dengan raut wajah tang memelas.


"Bukankah kemarin aku berhasil membuatkan mu nasi goreng, jika kamu menginginkannya kita buat di rumah saja yuk..." ucap Alvaro lagi.


"Ayolah aku benar-benar menginginkannya." ucap Inara lagi dengan tatapan yang memelas.


"Baiklah-baiklah, jika sampai kamu sakit perut aku benar-benar tidak tanggung jawab pokoknya." ucap Alvaro sambil menghela napasnya dengan panjang.


"Setuju!" ucap Inara dengan santainya kemudian mulai keluar dari dalam mobil dan berlarian menuju ke arah Angkringan tersebut.


"Perempuan itu benar-benar ya..." ucap Alvaro sambil menatap kepergian Inara yang sudah lebih dulu turun menuju ke arah Angkringan tersebut.


.


.


.


.


Setelah pesanan keduanya datang, Inara nampak makan dengan sangat lahapnya hingga membuat Alvaro hanya bisa menelan ludahnya ketika melihat hal tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat mas, ayo makan dan coba, kamu pasti akan langsung ketagihan..." ucap Inara dengan penuh semangat, membuat Alvaro hanya bisa tersenyum ketika mendengar perkataan Inara.


Alvaro yang melihat Inara begitu lahap pada akhirnya mencoba satu sendok nasi goreng tersebut kemudian memakannya lagi dan lagi.


"Rasanya tidak terlalu buruk..." ucap Alvaro kemudian sambil mulai memakannya secara perlahan, membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Inara saat itu.


Inara menelan makanannya dengan perlahan kemudian menatap ke arah Alvaro. Pria di hadapannya ini benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya. Setelah perdebatan dengan Kikan tadi Inara jelas tahu jika Alvaro tidak baik-baik saja, namun nyatanya Alvaro masih tetap bisa menemaninya makan sambil mengobrol dengan santai.


Inara yang mengerti akan kondisi Alvaro saat ini lantas mulai meletakkan piring nasi gorengnya di atas meja kemudian menggenggam tangan Alvaro yang satunya.


"Jika memang kamu butuh teman cerita aku siap mendengarnya mas, bukankah aku ini istri mu juga? Diantara kata suami dan istri bukan hanya sekedar sebagai status melainkan ada sebagai jembatan agar kita bisa saling berbagi suka dan duka. Jika kamu suami sedih, istri pasti juga akan ikut sedih begitu pula sebaiknya. Jika kamu enggan untuk berbagi dukamu, bagaimana sebuah hubungan bisa terjalin dengan baik?" ucap Inara dengan lembut, membuat Alvaro lantas mulai mendongak menatap ke arah Inara dengan tatapan yang intens.


Entah mengapa mendengar tutur kata lembut dari Inara benar-benar menyejukkan hatinya di kala kegundahan yang saat ini tengah melanda hatinya.


Alvaro menghela napasnya dengan panjang dan menatap ke arah manik mata Inara dalam-dalam, membuat Inara lantas tersenyum begitu mendapati tatapan dari Alvaro barusan.


Inara yang mendengar keluh kesah dari Alvaro lantas terdiam sejenak seakan mencoba untuk menimbang jawaban apa yang tepat untuk ia berikan kepada Alvaro saat ini.


"Kamu tahu? Tidak semua kehidupan Rumah tangga itu manis, aku dengar rasanya terkadang pahit namun juga terkadang asam. Tidak akan ada asap jika tidak ada api mas, aku yakin mbak Kikan punya alasan tersendiri ketika memilih untuk menutupinya dari mu. Mungkin mbak Kikan tidak mau membuat mu kecewa? Jangan terlaku menghakimi mbak Kikan mas.." ucap Inara sambil menggenggam dengan erat tangan Alvaro saat itu.


"Semoga saja apa yang kamu katakan itu benar.." ucap Alvaro kemudian dengan nada lirih yang di balas senyuman oleh Inara saat itu.


***


Keesokan harinya


Siang itu Inara yang tengah sibuk membuat beberapa hidangan penutup, lantas di kejutkan akan kehadiran Kikan yang mendadak berhenti tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Ra apa kamu senggang hari ini?" tanya Kikan dengan tiba-tiba.


"Aku tidak pernah sibuk mbak, apa mbak Kikan butuh sesuatu?" ucap Inara kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Ikutlah aku pergi arisan, aku benar-benar sedang malas pergi seorang diri." ucap Kikan kemudian yang tentu saja langsung mengernyit begitu mendengar ajakan dari Kikan barusan.


"Yang benar saja mbak, saya bahkan tidak pernah pergi di acara seperti itu. Bagaimana jika saya nanti tambah merusak segalanya?" ucap Inara berusaha menolak ajakan Kikan dengan lembut.


"Ini hanyalah sebuah acara makan-makan juga kumpul-kumpul berbagi cerita, bukan seperti acara arisan pada umumnya. Jadi kamu tak perlu takut ataupun khawatir. Mau ya ikut dengan ku?" ucap Kikan sekali lagi.


"Ba...iklah.. Aku akan ganti baju terlebih dahulu aku janji tidak akan lama." ucap Inara kemudian karena memang penampilan saat ini hanyalah mengenakan pakaian santai khas rumahan yang tentu saja tidak akan pantas jika di gunakan untuk pergi ke acara Arisan, setidaknya Inara berusaha untuk tidak mempermalukan Kikan.


Hanya saja ketika langkah kaki Inara hendak berlalu pergi dari sana, suara yang berasal dari Kikan lantas menghentikan langkah kakinya.


"Tak perlu ganti baju.. Ini hanya acara biasa jadi pakai itu saja..." ucap Kikan sambil menarik tangan Inara begitu saja.


"Tapi mbak..." ucap Inara hendak menolak namun sayangnya tidak bisa.


***


Di salah satu Resto tempat dilangsungkannya acara, terlihat Inara kini tengah duduk dengan tatapan yang begitu canggung. Apa yang dikatakan oleh Kikan benar-benar kebalikannya, ketika ia sampai di sana semua teman-teman Kikan berpakaian dengan indah dan juga cantik.


Disaat rasa kecanggungan dalam diri Inara begitu menyeruak, sebuah suara yang berasal dari seseorang lantas membuat Inara langsung mendongak dengan seketika.


"Untuk apa kau mengajak seorang pembantu ke acara kita? Apa kau sudah kehilangan akal Ki?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung membuat Inara terkejut ketika mendengarnya, sedangkan Kikan yang mendengar hal tersebut malah tersenyum dengan tipis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2