
"Tentu saja dengan sendok milik mu..." ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara terkejut ketika mendengarnya.
"Tapi mas..." ucap Inara hendak mengehentikan Alvaro.
Namun Alvaro sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap menyendokkan nasi goreng tersebut dan memakannya secara perlahan. Seulas senyum nampak terlihat terbit dari wajah Inara saat itu ketika melihat Alvaro begitu lahap memakan nasi gorengnya. Inara tahu jika Alvaro saat ini tanggah lapar, itulah sebabnya Inara sengaja meminta untuk dibuatkan nasi goreng berharap dengan begitu Alvaro bisa ikut makan bersama dengannya.
"Lihatlah nak.. Bukankah Ayah mu terlihat sangat menggemaskan?" ucap Inara dalam hati sambil mengusap perutnya secara perlahan.
Sedangkan Alvaro yang baru menyadari jika sedari tadi yang ia lakukan hanya makan dan makan tanpa memperhatikan Inara, lantas langsung meletakkan sendok tersebut dan tersenyum dengan garing ke arah Inara. Hal tersebut membuat tawa kecil lantas kembali terdengar memenuhi ruangan tersebut yang berasal dari keduanya.
"Aku minta maaf, kamu bahkan yang menginginkan nasi gorengnya tapi malah aku yang memakannya. Entahlah nasi goreng ini benar-benar sangat nikmat Ra, bagaimana bisa kamu mengajariku hingga berhasil seperti ini? Bahkan aku tidak pernah memasak menu apapun selain nasi goreng ini." ucap Alvaro dengan raut wajah yang sumringah menatap ke arah Inara saat itu.
"Aku hanya mengarahkannya saja selanjutnya kamu yang melakukannya, apakah kamu pernah mendengar sebuah kata-kata? Sebuah makanan itu akan terasa enak jika dibuat dengan penuh rasa cinta dan aku rasa kamu melakukan hal itu pada nasi goreng buatanmu." ucap Inara sambil tersenyum simpul, yang lantas langsung membuat Alvaro mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Cinta? Bukankah hal itu sama saja? Bi Lastri bahkan setiap hari melakukannya tapi masakannya dan masakanmu terasa sangat berbeda, apakah kamu juga bisa menjelaskan tentang hal tersebut?" ucap Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat seulas senyum lagi-lagi terlihat terbit dari wajah Inara saat itu.
"Masakannya memang lah sama, tapi yang membuatnya berbeda adalah rasa yang diciptakan dalam masakan tersebut. Jika bi Lastri memasak untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai asisten rumah tangga dan memasak untuk majikannya, sedangkan aku.. Aku memasaknya untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri dan juga teman bagi mbak Kikan. Tentu saja aku memberikan rasa yang berbeda dalam setiap hal yang aku tuang. Dengan kata lain yang dilakukan bi Lastri adalah sebuah kewajiban sedangkan yang aku lakukan adalah murni karena keinginan ku, itulah yang membuat perbedaan besar di sana. Dan juga soal cinta tentu saja berbeda antara aku dan juga bi Lastri." ucap Inara menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Inara barusan, lantas membuat Alvaro terdiam seketika. Ia jelas tahu apa yang dimaksud oleh Inara barusan. Jika memang sebelumnya Alvaro membuatkan nasi goreng dengan penuh cinta yang didedikasikan untuk Inara dan juga bayinya. Apakah cinta tersebut benar-benar murni? Atau hanya sebuah nafsu belakang yang mendasarinya hingga begitu tertarik kepada Inara?
Entah apa yang ada di pikiran Alvaro kali ini, namun yang jelas Alvaro tidak rela jika harus kehilangan Inara dan juga bayinya.
"Mengapa kamu diam? Apa kamu mengerti akan penjelasan ku?" ucap Inara kemudian yang langsung membuyarkan lamunan Alvaro saat itu.
"Ah ya, maaf aku benar-benar tidak fokus. Aku akan menyuapi mu... Bukalah mulutmu sekarang... Aaa." ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara menatapnya dengan aneh.
"Tidak perlu mas aku bisa makan sendiri, kamu makan lah sesukamu. Aku bahkan sudah kenyang dengan melihatmu makan." ucap Inara dengan senyuman yang begitu cantik terlihat menghiasi wajahnya.
"Ada apa mas? Mengapa kamu diam?" ucap Inara kemudian dengan raut wajah yang kembali bingung karena lagi-lagi Alvaro kembali terdiam sambil menatap ke arahnya.
"Tidak ada..." ucap Alvaro kemudian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak dengan senyuman yang garing, membuat Inara lantas menggelengkan kepalanya dengan pelan mendapati tingkah Aneh Alvaro saat ini.
**
Sementara itu tanpa keduanya sadari, Kikan yang tadinya hendak turun dan mengambil air minum karena gelas di teko airnya sudah habis. Lantas harus mendapati pemandangan yang menyesakkan dirinya. Sebuah pemandangan yang sama sekali tidak ingin Kikan lihat saat ini, membuat langkah kaki Kikan langsung terhenti seketika.
__ADS_1
Kikan benar-benar terdiam di tempatnya seakan membeku melihat Alvaro dan juga Inara tengah asik berduaan mengobrol sambil memakan nasi goreng di piring mereka. Satu piring berdua benar-benar terlihat sangat romantis dan juga sekaligus membuat tamparan besar di wajah Kikan saat itu.
Bayangan di mana masa-masa ketika ia masih pengantin baru benar-benar terekam dengan jelas di ingatannya. Entah mengapa yang Inara lakukan bersama dengan Alvaro merupakan kebalikan dari segala hal yang ia lakukan bersama Alvaro dulu.
Ketika Alvaro selalu memintanya untuk makan sepiring berdua bersama dengannya, dimana dengan satu sendok yang digunakan secara bergantian. Membuat Kikan selalu saja menolaknya dengan ketus, Kikan benar-benar tidak menginginkan hal itu karena bagi Kikan itu benar-benar terasa sangat menggelikan. Di mana kalian harus berganti sendok dengan pasangan kalian dan makan dalam satu piring, padahal di rumah banyak sekali piring yang nganggur di dapur.
Kini ketika melihat apa yang dilakukan Alvaro dan juga Inara malam ini, benar-benar telah membuka pintu hatinya. Bahwa ternyata Alvaro bukan tidak ingin mengotori piring atau bahkan berhemat dan tidak mau mengeluarkan uang. Yang ingin Alvaro lakukan adalah melakukan hal-hal kecil yang terasa begitu romantis yang mungkin akan membangkitkan selera dan juga gairah cinta mereka berdua.
Hanya saja sayangnya apa yang menjadi penyesalan Kikan saat ini sama sekali tidak bisa ia rubah atau ulang sedikit pun. Hubungannya dan juga Alvaro bahkan kian menjauh dan terasa begitu dingin. Setiap malamnya Alvaro tidak pernah tidur di kamar dan selalu bangun ketika Kikan tengah tertidur dengan pulas. Pembicaraan keduanya pun tak sehangat dulu lagi, namun anehnya saat ini Kikan malah melihat Alvaro tertawa bersama dengan Inara seakan tanpa beban lagi.
Kikan menghela napasnya dengan panjang, nyatanya sebagai seorang istri selama ini apa yang telah Kikan lakukan benar-benar tidak mencerminkan sebagai seorang istri. Yang Kikan sadari saat ini adalah nyatanya waktu 10 tahun sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Alvaro dan juga dirinya.
Setelah dipikir-pikir kegiatan hal-hal kecil seperti yang dilakukan oleh Alvaro dan juga Inara saat ini, nyatanya tidak pernah mereka berdua lakukan sekalipun. Kehidupan percintaan mereka benar-benar terasa bosan dan datar, yang hanya diisi dengan kehidupan pribadi masing-masing dan juga kehidupan ranjang. Hanya dua hal itu yang terus mereka lakukan selama 10 tahun ini, tanpa bisa merasakan hal-hal kecil dari sebuah ikatan pernikahan.
"Mengapa aku baru menyadarinya ketika Inara telah hadir di sisi Alvaro? Mengapa?" ucap Kikan dengan raut wajah yang sendu.
Bersambung
__ADS_1