
Rumah sakit
Di area ruang tunggu Rumah sakit terlihat Alvaro tengah menunggu dengan cemas, Alvaro benar-benar takut jika sesuatu terjadi kepada anak dalam kandungan Inara dan juga Inara saat itu, membuatnya tidak bisa duduk dengan tenang dan terus mondar-mandir seperti layaknya sebuah setrikaan.
"Semoga semuanya baik-baik saja... Semoga anakku dan juga Inara baik-baik saja." ucap Alvaro dalam hati sambil terus berdoa yang terbaik untuk Inara.
Ceklek...
Sebuah suara pintu yang terbuka dari arah ruang UGD, lantas membuat Alvaro langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah sumber suara, sedangkan dari arah dalam terlihat Bella nampak melangkahkan kakinya keluar dan mendekat ke arah di mana Alvaro berada.
"Bagaimana dengan keadaan keduanya? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Alvaro dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
Mendengar pertanyaan tersebut lantas langsung membuat Bella menghela napasnya dengan panjang kemudian menatap tajam ke arah Alvaro.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Apakah kamu ingin membunuh bayinya? Kamu bahkan tidak memberi si Ibu makan dan juga minum hingga ia mengalami dehidrasi." ucap Bella dengan raut wajah yang kesal membuat Alvaro semakin takut jika sesuatu terjadi kepada Inara saat ini.
"Jangan bercanda Bel.. Katakan lebih jelas lagi! Kau membuat ku semakin khawatir tau gak?" ucap Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Sudah ku katakan jika tekanan darahnya rendah jadi kamu harus bisa menjaganya agar tetap bisa stabil, Inara juga mengalami dehidrasi karena tidak memakan atau meminum sesuatu hampir seharian, beruntung bayinya masih bisa di selamatkan. Jika hal ini terjadi lagi kepadanya aku tidak yakin apakah bayi itu masih bisa bertahan atau tidak." ucap Bella kemudian menjelaskan segalanya.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat hati Alvaro melega seketika. Alvaro benar-benar takut jika sesuatu terjadi kepada keduanya tadi.
"Syukurlah... Kau benar-benar membuat ku takut!" ucap Alvaro sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Karena ini kandungan pertamanya, aku harap kalian bisa menjaganya dengan baik. Jangan biarkan dia bekerja terlalu keras, oke?" ucap Bella kemudian memperingati Alvaro yang langsung di balas Alvaro dengan anggukan kepala.
Ditatapnya raut wajah Alvaro dengan tatapan yang menelisik, Bella jelas tahu ada sesuatu yang terjadi pada kedua sahabatnya itu namun tidak ada satupun dari mereka yang mau menjelaskan segalanya kepadanya, membuat Bella malah nampak seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun saat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi Al? Jangan membuat ku seperti orang bodoh seperti ini." ucap Bella kemudian yang langsung membuat Alvaro menoleh ke arah Bella dengan seketika.
**
Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Bella saat itu, membuat Alvaro dan juga Bella berakhir duduk di taman. Alvaro menceritakan segalanya kepada Bella secara detail hingga kejadian pernikahan yang mendadak terjadi kepadanya di desa Inara saat itu.
Alvaro menghela napasnya dengan panjang kemudian menatap lurus ke arah depan, membuat Bella langsung menoleh ke arah samping ketika mendengar Alvaro menjeda kalimatnya saat itu.
"Aku tidak tahu harus berkomentar apa saat ini, yang jelas aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi kepada kehidupan rumah tangga kalian." ucap Bella kemudian dengan nada yang terdengar sendu.
"Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan Bel, yang saat ini coba aku lakukan hanya menuruti segala permintaan Kikan, hanya saja..." ucap Alvaro namun terhenti membuat Kikan lantas penasaran akan apa yang hendak di katakan oleh Alvaro selanjutnya.
__ADS_1
"Hanya apa?" tanya Bella kemudian.
"Hanya saja aku merasa seperti telah mengkhianati pernikahanku Bel, sedari awal menikah dengan Inara aku hanya ingin dan berniat untuk menuruti segala permintaan Kikan saat itu. Sampai kemudian aku bertemu dengan sosok Inara gadis yang polos, baik hati, ceria dan selalu berpikiran positif. Entah apa yang membuatku begitu terpukau dan juga kagum akan sosok gadis desa tersebut, yang jelas aku benar-benar merasa telah mengkhianati pernikahanku Bel. Apakah cinta ku kepada Kikan hanya bertahan dengan waktu yang singkat? Dulu aku merasa Kikan adalah satu-satunya pengisi hatiku, namun setelah Inara datang, Inara seakan membuka mata ku yang buta akan cinta dan mengajarkan ku akan arti cinta yang sesungguhnya." ucap Alvaro panjang kali lebar mengungkapkan segala isi hatinya membuat Bella langsung mengernyit dengan seketika.
"Aku benar-benar tidak tahu apa arti cinta, namun yang aku dengar cinta antara yang pertama dengan yang kedua akan selalu menjadi perbandingan. Jika kita mencintai seseorang sepenuh hati tanpa melihat baik buruknya orang yang kita cintai, maka setelah kita mendapatkan cinta kedua yang lebih tulus dan bisa mengajarkan kita arti cinta yang sesungguhnya, maka mata dan juga pikiran kita akan terbuka dengan lebar." ucap Bella kemudian dengan tersenyum tipis.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Alvaro langsung menatap ke arah Bella dengan tatapan yang bertanya. Padahal tadinya Alvaro mengira Bella akan memakinya karena telah menduakan Kikan, namun nyatanya Alvaro salah.
Bella bangkit dari tempat duduknya kemudian menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang intens.
"Aku tidak akan pernah ingin menyalahkan siapapun di sini, lagi pula ketika kamu memutuskan untuk menikahi Kikan saat itu, bukankah aku terus bertanya kepadamu? Aku bahkan selalu bertanya apakah kamu siap menerima segala sisi buruk dan baiknya Kikan? Dan saat itu kamu mengatakan jika kamu siap menerimanya dengan perasaan yang menggebu-gebu. Terkadang kita memang dibutakan oleh cinta, namun cinta terkadang juga menuntun kita ke arah jalan yang benar. Pikirkan segalanya dengan kepala dingin Al, aku tidak mau jika kamu menyakiti salah satunya. Aku melihat Inara adalah gadis yang baik, hanya saja bukan berarti Kikan tidaklah baik untuk mu. Pikirkan lah segalanya Al.. Aku pergi dulu.." ucap Bella dengan senyuman simpul.
Alvaro yang melihat kepergian Bella dari sisinya tentu saja langsung terdiam seketika, perkataan Bella benar-benar membuat dirinya tersadar. Bella memang tidak memarahinya atau bahkan memakinya karena telah menduakan Kikan saat itu, namun Bella seakan membuka pikirannya dengan lebar apa yang harus ia perbuat saat ini. Membuat helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus dengan kasar dari mulut Alvaro. Diusapnya raut wajahnya dengan kasar kemudian kembali menyandarkan tubuhnya pada bangku taman tersebut.
Alvaro bangkit dari kursinya dan menatap lurus ke arah depan.
"Biarlah waktu yang menjawab segalanya, aku yakin Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu yang salah kepada hamba-Nya." ucap Alvaro sebelum pada akhirnya memutuskan untuk berlalu pergi dan melihat keadaan Inara saat ini.
Bersambung.
__ADS_1