
"Untuk apa kau mengajak seorang pembantu ke acara kita? Apa kau sudah kehilangan akal Ki?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung membuat Inara terkejut ketika mendengarnya, sedangkan Kikan yang mendengar hal tersebut malah tersenyum dengan tipis.
"Iya nih tumben-tumbenan Kikan ngajak orang udik kemari, bukankah kamu paling anti sama yang namanya asisten rumah tangga dan sejenisnya?" ucap Silvi dengan tatapan yang mengejek ke arah Inara, membuat Inara semakin terdiam tak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini.
Lagi pula tidak akan mungkin jika tiba-tiba Inara bangkit dan mengatakan jika ia bukanlah pembantu, melainkan istri kedua dari seorang Alvaro. Entah apa yang akan terjadi jika ia mengatakan hal tersebut kepada semuanya. Membuat Inara pada akhirnya hanya bisa terdiam sambil tersenyum kecut menanggapi perkataan mereka semua.
"Sudahlah tak perlu dikhawatirkan, dari pada membahas yang tidak perlu sebaiknya kita mulai saja acara ini." ucap Kikan yang seakan-akan seperti mengiyakan perkataan yang lainnya bahwa Inara memanglah seorang art.
Mendengar jawaban dari Kikan barusan tentu saja langsung membuat Inara menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung, seakan cukup terkejut ketika mendengar jawaban dari Kikan yang seperti mengiyakan perkataan teman-temannya jika ia adalah seorang pembantu.
"Bagaimana bisa mbak Kikan tidak menyangkalnya? Tidak.. Mungkin aku hanya salah sangka saja, lagi pula apa salahnya tersenyum di depan teman-temannya? Hanya saja mengapa jawaban mbak Kikan begitu terkesan ambigu bagi ku." ucap Inara dalam hati sambil menatap ke arah yang lainnya.
**
Ruangan CEO
Setelah menyelesaikan pertemuan dengan beberapa klien penting, Alvaro terlihat mulai mengambil duduk pada kursi kebesarannya sambil menatap kosong ke arah depan seakan tengah mengistirahatkan segala pikirannya saat ini.
Sambil menghela napasnya dengan panjang Alvaro mulai melirik ke arah ponsel miliknya yang terletak di atas meja kerjanya saat itu.
"Apakah Inara sudah makan ya? Mengapa aku begitu penasaran? Tidak biasanya aku seperti ini..." ucap Alvaro sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Alvaro mengetuk-ketukan jari tangannya di meja seakan tengah berpikir, apakah ia harus menghubungi Inara atau tidak. Sampai kemudian ketika perasaannya sudah tidak lagi bisa tertahankan, membuat Alvaro pada akhirnya memilih untuk menghubungi Inara.
Hanya saja ketika Alvaro batu saja mengambil ponsel miliknya ia baru sadar jika ternyata Inara tidak memiliki nomor ponsel yang bisa ia hubungi.
__ADS_1
"Oh astaga, mengapa aku baru sadar jika Inara belum ku belikan ponsel sejak kedatangannya waktu itu bersama dengan ku. Kau benar-benar bodoh Al!" ucap Alvaro merutuki kebodohannya sendiri.
Sadar jika ia tidak bisa menelpon Inara saat ini, Alvaro kemudian tak lkehabisan akal dan mencoba untuk mendial telepon duduk di rumahnya berharap Inara akan mengangkat panggilan teleponnya saat itu.
Sampai kemudian ketika ia menunggu beberapa menit hingga panggilan teleponnya diangkat, tak lama setelah itu sebuah suara lantas terdengar di seberang sana hanya saja bukan Inara melainkan Lala art barunya.
"Halo dengan kediaman bapak Alvaro, ada yang bisa saya bantu?" ucap sebuah suara di seberang sana yang tentu saja langsung membuat Alvaro kecewa begitu mendengar suara tersebut
"Ini aku Alvaro, Inara kemana ya Bi? Bisa kamu sambungkan dengan Inara?" ucap Alvaro dengan nada yang begitu tegas, membuat Lala yang terkejut ketika mendengar suara dari atasannya sendiri lantas langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Em anu Pak maaf, Bu Inara sedang pergi bersama dengan Bu Kikan satu jam yang lalu." ucap Lala dengan nada yang ragu karena takut jika sampai ia salah bicara nantinya.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Alvaro mengernyit dengan seketika seakan tak percaya jika Kikan mengajak Inara keluar saat ini, bukankah situasinya sedang tidak terlalu baik di rumah?
"Halo Pak.. Apakah ada sesuatu hal lain yang anda butuhkan?" ucap Lala karena tidak lagi mendengar perkataan Alvaro selanjutnya.
"Apa kamu tahu kemana perginya mereka berdua?" ucap Alvaro kemudian bertanya.
"Em sepertinya tadi saya mendengar jika Bu Kikan mengajak Bu Inara ke acara arisannya, namun dimana tempatnya saya sama sekali tidak tahu." ucap Lala sambil mengingat-ingat percakapan Inara dan juga Kikan sebelumnya.
"Baiklah kalau begitu terima kasih Bi.." ucap Alvaro kemudian sebelum pada akhirnya menutup sambungan telponnya.
***
Resto
__ADS_1
Tawa riang dari beberapa teman-taman Kikan lantas terdengar nyaring dan membuat suasana semakin asyik. Hanya saja sayangnya hal tersebut tidak lah di rasakan oleh Inara, dimana ia terus saja tersudut dan dianggap tak pantas ada di sana oleh beberapa orang. Memang mereka tak menunjukkannya secara langsung, tapi dari tatapan mata dan juga perilaku mereka semua benar-benar membuat Inara tertekan ketika berada di sana.
Inara meremas baju bagian bawahnya sambil melirik sekilas ke arah Kikan yang saat ini tengah asyik mengobrol bersama dengan teman-temannya.
"Harusnya aku tidak ikut kemari, kau benar-benar bodoh Ra..." ucap Inara sambil kembali menunduk.
Disaat rasa canggung menghinggapi dirinya, sebuah suara dari salah satu teman Kikan lantas membuat Inara langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.
"Hei kamu pembantu! Belikan aku beberapa hal di daftar belanjaan ini, jangan kembali sebelum kamu mendapatkannya mengerti?" ucap salah seorang teman Kikan yang tentu saja langsung membuat Inara mengernyit begitu mendengar perintah tersebut darinya.
Mendapati hal tersebut Inara lantas langsung menoleh ke arah Kikan, seakan bertanya dan juga melihat reaksi Kikan ketika ia disuruh seperti ini. Namun Kikan yang seakan acuh tak acuh malah sama sekali tidak menanggapinya dan melengos begitu saja sambil menikmati makanannya, seakan tak ingin tahu dan tak ingin ikut campur akan hal ini. Inara menghela napasnya dengan panjang ketika mendapati sikap Kikan yang seperti itu.
Sambil menarik napasnya dalam-dalam pada akhirnya Inara menerima daftar belanjaan tersebut dengan ragu sambil mulai mengangguk ke arah teman Kikan.
"Baik.." ucap Inara sambil bangkit berdiri dari tempat tersebut dan berlalu pergi untuk membelikan beberapa barang belanja di supermarket, yang kebetulan terletak tepat di sebelah Resto tempat mereka berkumpul saat ini.
"Bukannya kau sedikit keterlaluan? Lagi pula dia kan art Kikan, bagaimana bisa kau menyuruhnya dengan sesantai itu?" ucap Ambar menceletuk.
"Santai saja, lagi pula Kikan sama sekali tidak masalah bukan? Aku hanya risih dia bergabung bersama dengan kita. Orang udik sepertinya sama sekali tidak pantas ada di sini!" ucapnya dengan tatapan yang sinis.
Sedangkan Kikan yang mendengar perkataan dari teman-temannya tersebut hanya tersenyum dengan tipis, seakan begitu menyukai tindakan yang dilakukan oleh teman-temannya.
"Setidaknya dengan begini kau bisa sadar diri dan tau dimana tempat mu Inara!" ucap Kikan dalam hati sambil menatap ke arah dinding kaca Resto, di mana tampak Inara yang mulai berjalan hendak menuju ke arah supermarket di sebelahnya.
Bersambung
__ADS_1