Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Berhenti!


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Abi sebelumnya, Inara yang sudah mempunyai perasaan tidak enak semakin dibuat gelisah karenanya. Hanya saja sebuah suara ketukan pintu berulang yang berasal dari luar, lantas membuat Inara penasaran.


Cklek...


Inara memutar bola matanya dengan jengah, ketika mendapati 2 sosok wanita yang sama sekali tidak ingin ia temui saat ini. Inara bahkan tidak berminat untuk beradu mulut atau bahkan berkelahi dengan dua orang dihadapannya saat ini, yang ada di kepalanya hanya pertanyaan tentang di mana Alvaro sebenarnya.


"Kamu.." ucap Kikan seperti hendak mengatakan sesuatu namun malah dipotong oleh Inara saat itu.


"Aku minta maaf karena tidak bisa meladeni kalian berdua saat ini, ada hal lebih penting yang harus aku kerjakan sekarang. Aku permisi..." ucap Inara sambil melewati Tamara dan juga Kikan begitu saja.


Mendapati hal tersebut membuat manik mata Kikan dan juga Tamara membulat dengan seketika. Perasaan yang semula sudah memanas, kini terasa semakin membara.


"Dasar j4l4ng!" ucap Kikan dalam hati yang seakan kesal dengan sikap Inara yang mengacuhkan mereka berdua.


Kikan yang terlalu kesal akan sikap Inara barusan, dengan spontan menarik rambut Inara yang tergerai dengan cantik saat itu. Inara merintih kesakitan ketika mendapati perlakuan Kikan saat ini, membuat langkah kakinya langsung berhenti dengan seketika.


"Jika mempunyai tamu, seharusnya itu kamu sambut! Bukan melarikan diri seperti ini." ucap Kikan dengan nada yang terdengar begitu ketus.


"Saya benar-benar minta maaf mbak, masalahnya saya harus mencari..." ucap Inara namun terpotong saat itu.


"Halah alasan, aku yakin dia hanya sedang berakting dan menghindari kedatangan kita berdua. Apa yang sekarang akan kau lakukan? Apa kau akan memanggil Alvaro untuk datang dan membantu mu kabur dari kita berdua?" ucap Tamara dengan nada yang terdengar menyindir saat itu.


"Aku mohon cobalah untuk mengerti, aku sedang ada urusan saat ini. Jika Nyonya dan mbak Kikan berkenang, kalian berdua bisa menunggu di dalam selagi saya keluar." ucap Inara dengan nada yang memohon.


"Kau benar-benar membuat ku muak!" ucap Tamara dengan nada yang meninggi saat itu.


Tamara yang sudah tidak tahan akan sikap sok polos Inara saat itu, mulai mengangkat tangannya dan hendak menampar Inara.


Hanya saja gerakan tangannya lantas terhenti di awang-awang, ketika seseorang datang dan membantu Inara saat itu.


Ketiganya nampak menatap ke arah pergelangan Tamara, yang saat itu nampak di pegang oleh seseorang di sana.


"Saya rasa perlakuan anda kepada Inara, bukankah terlalu berlebihan?" ucap sebuah suara yang ternyata adalah Chris.


Mendapati seorang Pria tampan mengenal Inara, tentu saja membuat Tamara dan juga Kikan saling pandang antara satu sama lain. Keduanya tidak menyangka jika ada kenalan Inara di gedung Apartment ini.

__ADS_1


"Lepaskan Chris, jangan terlalu emosi. Ada hal yang lebih penting dari ini, bisakah kau membantu ku?" ucap Inara kemudian.


"Apa ada sesuatu Ra?" tanya Chris dengan raut wajah penasaran sambil menghempaskan tangan Tamara begitu saja dan menganggap seakan keduanya tidak ada di sana.


"Ya, Abi menelpon dan mengatakan jika Alvaro tidak datang ke kantor, padahal aku yakin Alvaro sudah pergi sedari pagi dan mengatakan akan menghadiri sebuah pertemuan." ucap Inara dengan raut wajah yang gelisah.


"Tenanglah Ra, mungkin Alvaro hanya sedang terjebak macet saja." ucap Chris berusaha untuk menenangkan Inara.


"Aku rasa tidak, perasaan ku bahkan tidak enak sedari tadi." ucap Inara seakan berusaha meyakinkan Chris tentang feeling nya.


"Jangan terlalu lebai, mungkin dia sedang berduaan dengan perempuan lain di luar sana." timpal Kikan dengan entengnya, membuat Chris dan juga Inara langsung menatap ke arah sumber suara dengan seketika.


"Aku rasa tidak, apakah kau mau membantu ku? Jika kau sedang sibuk aku akan pergi sendiri." ucap Inara kemudian yang terlihat sudah tidak sabaran.


"Baiklah-baiklah aku akan ikut..." ucap Chris pada akhirnya sambil menahan Inara untuk tidak pergi sendirian.


"Lalu Alika?" tanya Inara kemudian.


"Dia sedang berada di sekolah, aku rasa aku masih punya waktu hingga ia pulang sekolah." ucap Chris yang langsung di balas Inara dengan anggukan kepala.


Disaat langkah kaki keduanya kian menjauh saat itu, Tamara dan juga Kikan yang merasa tidak dihiraukan saat itu, hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan tatapan yang kesal.


"Kita di campakkan begitu saja Ma? Apa Mama lihat sikap sombongnya itu? Benar-benar menyebalkan!" ucap Kikan dengan nada yang terdengar begitu kesal.


"Tidak hanya kamu, Mama bukan juga sangat kesal karenanya. Lagi pula, siapa pemuda itu? Bagaimana keduanya bisa saling kenal?" ucap Tamara dengan raut wajah yang penasaran, membuat Kikan lantas langsung menatap ke arah Tamara dengan raut wajah yang mengernyit saat itu.


"Mama benar, siapa sebenarnya Pria ini?" ucap Kikan kemudian sambil bertanya-tanya seorang diri, membuat Tamara lantas memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar hal tersebut.


"Benar-benar menyebalkan! Punya anak otaknya di taruh di dengkul ya begini nih jadi..." ucap Tamara dengan nada yang menggerutu kesal sambil membawa langkah kakinya meninggalkan unit Apartment


Mendengar hal tersebut lantas membuat Kikan menatap kepergian Tamara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Memangnya apa salah ku?" ucapnya dengan raut wajah yang bingung.


***

__ADS_1


Di sebuah mobil yang di kendarai oleh Chris


Terlihat Inara tengah menatap ke luar jendela dengan raut wajah yang gelisah. Pikirannya sekarang benar-benar tidak bisa fokus dan terus merasa tidak enak.


"Dimana kantor Alvaro Ra?" tanya Chris kemudian yang lantas membuat Inara menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Sepertinya ia ingin mengatakan hendak pergi ke cabang perusahaan yang ada di bogor. Apa kamu bisa mengantar ku ke sana?" ucap Inara dengan raut wajah yang memelas.


"Baiklah..." ucap Chris yang hanya mengiyakan permintaan Inara saja saat itu.


.


.


.


.


.


.


Area Tol


Mobil yang di kendarai oleh Chris melaju membelah jalanan tol yang saat itu nampak senggang. Keheningan yang melanda keduanya benar-benar terasa tidak mengenakan bagi Chris saat itu.


Sampai kemudian ketika mereka berdua melewati area tol kilometer 56, beberapa kerumunan pengemudi dan juga mobil patroli terlihat jelas di sana dan membuat Inara sedikit penasaran.


Entah mengapa ia merasa jika hatinya menuntunnya untuk melihat hal tersebut saat ini juga.


"Chris berhenti sekarang juga!" ucap Inara dengan tiba-tiba yang lantas membuat Chris mengernyit ketika mendengar suara tinggi Inara saat itu.


"Apa Ra?" ucap Chris dengan raut wajah yang bingung.


"Ku bilang berhenti!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2