Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Balas dendam?


__ADS_3

Setelah mendapat kabar jika Ratih ada di Ibukota saat ini, Alvaro dan juga Inara yang kebetulan baru pulang dari Rumah sakit pada akhirnya memutuskan untuk menghampiri Ratih di Stasiun saat itu.


Mobil yang dikendarai oleh Abi saat itu berhenti tepat di tepi jalan, dimana Abi melihat seorang wanita paruh baya tengah berdiri di sana seperti menantikan sesuatu.


Abi turun dari dalam mobil begitu pula Inara menghampiri wanita paruh baya tersebut yang tentu saja adalah Ratih.


"Ibu sudah lama menunggu? Aku benar-benar minta maaf, mas Alvaro meminta untuk rawat jalan jadi aku harus mengurusi beberapa hal terlebih dahulu." ucap Inara sambil melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah dimana Ratih berada saat itu.


Sedangkan Abi nampak mulai membawa beberapa barang milik Ratih ke dalam bagasi kemudian kembali masuk ke dalam mobil.


"Tidak apa nak, lagi pula Ibu belum lama kok. Ayo segera masuk, kasihan suami mu menunggu lama." ucap Ratih dengan tersenyum simpul yang lantas di balas Inara dengan anggukan kepala saat itu.


Setelah melakukan percakapan singkat keduanya lantas terlihat mulai masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan area Resto tersebut.


**


Tanpa keduanya sadari, disaat Inara dan juga Ratih sedang asyik mengobrol. Tak jauh dari keduanya berada saat itu, terlihat Agam saat ini terdiam mematung di tempatnya menatap ke arah dimana Inara dan juga Ratih berada.


Sebuah pemandangan yang mengejutkannya saat itu, benar-benar membuat Agam tak lagi bisa berkata-kata.


Mendapati hal tersebut sebuah pemikiran mendadak terlintas di benaknya begitu saja saat itu. Perkataan Ratih sebelumnya bahkan terus berputar di kepalanya saat ini. Entah hal tersebut hanyalah sebuah pemikirannya saja, atau memang kenyataannya. Namun yang jelas Agam perlu memastikan kebenarannya secepatnya juga.


"Maaf aku harus pergi, kedatangan ku kemari untuk menyusul Putri ku. Jadi aku harap kamu jangan berpikiran yang macam-macam, permisi..."


Putri ku...


Putri ku....


"Putrinya? Jika Inara memang Putri kandung Ratih, bukankah itu artinya Inara adalah Putri ku juga? Mengapa aku baru memikirkan kemungkinan ini? Bukankah seharusnya aku sudah sadar ketika pertama kali bertemu dengannya? Arg sial!" ucap Agam pada diri sendiri, sebelum pada akhirnya mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi menuju ke arah dimana mobil miliknya terparkir saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Parkiran


Bruk


Suara pintu yang tertutup cukup keras lantas mengejutkan Fatih kala itu, dimana saat ini ia tengah sibuk melihat beberapa agenda pekerjaan untuk Agam esok hari.


Fatih meletakkan ponsel miliknya di dashboard mobil, begitu mendapati Agam masuk ke dalam dengan raut wajah yang kesal saat itu.


"Apa kita langsung pulang ke Rumah Pak?" ucap Fatih bertanya dengan nada yang terdengar begitu ragu.


"Tidak, kita pergi ke Royal King saja sekarang!" ucap Agam kemudian yang lantas membuat Fatih langsung mengernyit karenanya.


Yang jadi masalah sebenarnya bukanlah perkataan dari Agam, melainkan permintaan Agam yang malah menyuruhnya untuk berkendara menuju ke Royal King barusan (salah satu tempat hiburan malam yang terkenal di Ibu kota).


Entah apa yang sedang ada dipikiran Agam, tapi yang jelas ia butuh tempat untuk menyegarkan pikirannya saat ini. Agam terlalu malas untuk pulang dan bertemu dengan Tamara karena hal itu hanya akan semakin menambah beban pikirannya saja.


"Lakukan saja perintah ku! Dan satu hal lagi coba kau cari tahu tentang hubungan Inara dan juga Ratih. Aku mau informasi ini secepatnya!" ucap Agam dengan nada yang datar, membuat Fatih tak lagi bisa mengelak akan perintah Agam barusan.


"Baik Pak..." jawab Fatih pada akhirnya, sebelum kemudian mulai membawa laju mobilnya ke tempat yang di minta oleh Agam sebelumnya.


***


Apartment Alvaro


"Apa tidak sebaiknya kamu di rawat saja di Rumah sakit nak? Ibu rasa kaki mu masih butuh penanganan khusus dari Dokter." ucap Ratih ketika kelimanya baru saja tiba di kediaman Alvaro.


"Tak perlu khawatir Bu, lagi pula aku sudah memiliki perawat jaga dan mereka ahli dalam menangani hal ini, jadi Ibu tidak perlu terlalu khawatir." ucap Alvaro berusaha menenangkan kecemasan Ratih saat itu.


"Benar Bu, jangan terlalu khawatir ya... Percaya kan saja segalanya pada mas Alvaro." timpal Inara kemudian.


"Sebaiknya kamu bawa Ibu ke kamar Ra, aku yakin beliau pasti lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh." ucap Alvaro kemudian yang lantas di balas Inara dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Inara yang seakan setuju dengan perkataan Alvaro barusan, lantas terlihat mulai membawa Ibunya menuju ke arah kamar sesuai dengan perkataan Alvaro barusan.


"Bi sebaiknya kita ke ruangan ku sekarang!" ucap Alvaro kemudian tepat setelah kepergian Inara dari sana.


Mendengar hal tersebut suster yang sedari tadi berdiri di belakang Alvaro, nampak mulai bergerak hendak mendorong kursi roda milik Alvaro. Hanya saja langsung di tahan oleh Abi saat itu, membuat suster itu langsung mengernyit dengan seketika.


"Kamu tidak perlu melakukannya, biar aku saja." ucap Abi sambil mengambil alih, membuat suster tersebut langsung terdiam dengan seketika.


Tanpa menunggu jawaban dari suster tersebut, Abi mendorong kursi roda Alvaro menuju ke arah ruang kerjanya saat itu dan meninggalkan suster tersebut seorang diri di sana.


***


Ruangan kerja Alvaro


Abi yang berhasil membawa Alvaro masuk ke dalam, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya tepat setelah menutup pintu ruangan tersebut.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat informasinya?" ucap Alvaro yang seakan fak sabar dengan informasi yang akan di sampaikan oleh Abi selanjutnya.


"Saya sudah mencari tahu tentang seseorang yang anda curigai beberapa waktu yang lalu. Entah ini hanyalah sebuah kecurigaan saja atau memang benar adanya, tapi asal anda tahu Tuan.. Karan adalah Kakak kandung dari Arin." ucap Abi pada akhirnya.


"Karan? Arin?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang bingung.


"Iya Pak, Arin adalah karyawan anda yang tewas karena kecelakaan waktu itu. Apa anda mengingatnya?" ucap Abi lagi yang lantas membuat manik mata Alvaro langsung membulat dengan seketika.


Sebuah kejadian yang tidak akan mungkin Alvaro lupakan, karena hari itu ia bahkan hampir kehilangan anaknya karena ulah Arin yang mendadak malah menyerang Inara dan hampir menabraknya.


"Lalu apa hubungan di antara keduanya? Bukankah Arin meninggal karena kesalahannya sendiri?" ucap Alvaro kemudian sambil memikirkan alasan yang tepat untuk mulai menyambung teka-teki tentang Karan saat ini.


"Tentu saja untuk balas dendam, jika anda menarik ke belakang dan menyatukan segalanya secara perlahan. Bukankah hal ini kemungkinannya hampir 99 persen Pak?" ucap Abi dengan nada yang yakin.


"Kau benar!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2