
"Berhenti! Apa kalian ingin menunjukkan adegan suami istri di depan ku?" ucap Tamara yang lantas membuat semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan yang bertanya.
Inara yang sama sekali tidak mengerti akan perkataan Tamara barusan tentu saja langsung menghentikan gerakannya. Inara menatap ke arah Tamara dengan tatapan yang bertanya, membuat Tamara lantas menghela napasnya dengan kasar ketika melihat raut wajah polos milik Inara saat itu yang terasa begitu menyebalkan untuknya.
Sedangkan Kikan yang mendengar perkataan Tamara kembali menohok, tentu saja langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Kikan benar-benar telah lelah mendapati orang tuanya yang terus-terusan memancing emosi di area meja makan saat itu, membuat selera makan Kikan benar-benar hilang dengan seketika.
"Ada apa lagi ini Ma? Kita bahkan hendak makan saat ini, apakah Mama benar-benar ingin memulai pertengkaran kembali?" ucap Kikan dengan nada yang terdengar ketus saat itu.
"Ayolah Ki, jangan terlalu bodoh dan acuh tak acuh seperti itu. Kau itu istri pertamanya harusnya yang melayani Alvaro itu adalah kau bukan dia, apa-apaan kau hanya terima jadi dan dia yang melayani suamimu? Apa kau mau suamimu diambil olehnya?" ucap Tamara dengan nada yang terdengar meninggi, membuat Alvaro lantas menggenggam dengan erat sendok di tangannya karena benar-benar kesal akan perkataan Tamara yang terus-terusan menyudutkan Inara saat itu.
"Berhenti membandingkan semua ini Ma, yang perlu kita lakukan saat ini adalah makan kemudian berlalu, bukan? Bahkan seperti itu saja sudah cukup." ucap Kikan kemudian dengan nada yang santai sambil mulai memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Tapi Ki....." ucap Tamara hendak kembali memprotes namun terpotong ketika mendengar suara gebrakan di meja makan saat itu.
Brak...
Suara gebrakan terdengar begitu keras di area meja makan membuat Tamara, Kikan dan juga Inara terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara gebrakan tersebut.
Alvaro nampak terdiam dengan raut wajah yang memerah menahan amarahnya. Perkataan mertuanya itu benar-benar terasa memekakkan telinganya.
"Jika memang Kikan ingin mengambilkan makanan ku silahkan. Berikan piringnya kepada Kikan Ra..." ucap Alvaro kemudian dengan nada penuh penekanan.
Inara yang mendengar hal tersebut hanya mengangguk dan menuruti perkataan Alvaro barusan dengan memberikan piring milik Alvaro kepada Kikan, namun sayangnya sebuah kata-kata menohok dari Kikan lantas membuat seulas senyuman yang tipis mulai terlihat pada raut wajah Alvaro saat itu.
__ADS_1
"Untuk apa aku mengambilkannya makanan? Bukankah setiap harinya Alvaro selalu menyiapkannya sendiri? Jangan terlalu memanjakannya Ra.. Biarkan dia usaha sendiri." ucap Kikan dengan nada yang santai seakan tanpa dosa sama sekali.
"Lihatlah Ma.. Bukankah Mama sudah mendengar sendiri jawabannya? Jadi aku tidak perlu lagi untuk mengatakan alasannya. Silahkan kalian lanjutkan makannya, aku sudah tidak berselera saat ini." ucap Alvaro kemudian sambil bangkit dari posisinya dan berlalu pergi dari sana meninggalkan area meja makan.
Sedangkan Kikan dan juga Tamara yang terkejut akan perkataan dari Alvaro barusan, hanya bisa menatap kepergiannya dengan tatapan yang tidak percaya.
"Ini semua salah Mama, tidak bisakah Mama makan dengan tenang?" ucap Kikan dengan raut wajah yang kesal tepat setelah kepergian Alvaro dari area meja makan.
"Mengapa jadi salah Mama, ini adalah kesalahan mu yang tidak pintar memanjakan suami mangkanya suami mu di manjakan oleh wanita lain. Apakah mata mu tidak terbuka dengan lebar saat ini? Kau itu bodoh atau apa?" pekik Tamara sambil melirik ke arah Inara yang hendak menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Inara yang mendengar hal tersebut lantas langsung menghela nafasnya dengan panjang kemudian meletakkan sendok dan garpunya secara perlahan. Inara kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke rah Tamara saat itu.
"Terima kasih atas makanannya saya sudah kenyang, saya permisi..." ucap Inara sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan keduanya.
Tamara yang melihat Inara berlalu pergi dari sana, tentu saja hanya menatap kepergian Inara dengan tatapan yang jengah, kemudian Tamara melirik ke arah putrinya yang saat ini tengah sibuk memakan makanannya tanpa memperdulikan sekitarnya sama sekali.
Setelah kepergian yang lainnya dari area meja makan, sebuah perasaan sedih dan juga khawatir mendadak menyelimuti hatinya. Setetes air mata menetes begitu saja dari sudut kelopak matanya, membuat Kikan menjadi begitu kesal dan langsung menyapu piring di hadapan dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang keras.
"Arggg benar-benar menyebalkan!" pekik Kikan dengan nada yang kesal.
***
Tengah malam
__ADS_1
Inara yang kelaparan tengah malam karena hanya memakan sedikit sebelumnya, lantas terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk memasak sesuatu di sana. Hanya saja sebuah cahaya yang berasal dari ruang kerja Alvaro saat itu membuat Inara mulai membawa langkah kakinya melipir ke arah sana.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu yang berasal dari Inara lantas langsung membuyarkan Alvaro yang tengah melamun saat itu. Alvaro yang mendengar suara ketukan pintu tersebut tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya begitu melihat Inara tengah berdiri di ambang pintu ruangannya.
"Kamu belum tidur Ra? Apakah ada sesuatu yang membuat mu tidak bisa tidur?" tanya Alvaro kemudian dengan nada yang lembut.
Inara benar-benar salut kepada Alvaro, meski ia semarah dan juga sekesal apapun dalam menghadapi masalahnya. Ia tetap bisa bertutur kata lembut terhadap perempuan.
Inara terdiam sejenak memikirkan apa yang hendak ia katakan kepada Alvaro saat ini. Sampai kemudian ingatannya terhenti pada saat makan malam dimana Alvaro belum memakan sama sekali makanannya. Inara yakin jika saat ini Alvaro pasti tengah lapar sama seperti dirinya yang tidak makan dengan benar tadi.
Alvaro melirik sekilas ke arah Inara yang hanya terdiam di depannya. Sampai kemudian senyuman yang lebar terlihat jelas di wajah Inara saat itu. Membuat Alvaro langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.
"Em aku lapar..." ucap Inara kemudian dengan nada yang terdengar ragu.
"Lapar? Apa kamu mau aku belikan sesuatu? Jika iya... Aku akan berangkat sekarang." ucap Alvaro kemudian sambil hendak masuk ke dalam dan mengambil jaket.
Hanya saja Inara yang melihat Alvaro hendak berlalu pergi dari sana, lantas mulai memegang lengannya membuat gerakan Alvaro langsung terhenti dengan seketika detik itu juga.
"Ada apa Ra?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Aku ingin nasi goreng dan itu harus buatan tangan mu." ucap Inara kemudian yang tentu saja langsung membuat Alvaro terkejut karenanya.
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung