
Royal King
Di salah satu tempat hiburan malam tepatnya di ruangan VVIP, terlihat Agam tengah menikmati minumannya dengan tenang di siang hari. Entah ada angin apa yang mendadak membuatnya ingin pergi minum di usia yang hampir menginjak 60 tahunan.
Agam memutar gelas di tangannya searah jarum jam kemudian menegak minuman itu perlahan. Hembusan napas kasar terdengar memenuhi ruangan tersebut yang menambah keheningan di area ruangan tersebut.
"Apa yang membuat semua takdir ini menjadi rumit? Jika memang ini karena salah ku, akan kah semuanya berakhir jika aku tidak pernah memulai hubungan tersebut? Bagaimana bisa selingkuhan Alvaro adalah Putri kandung ku yang lainnya?" ucap Agam sambil berdecak dengan kesal.
Satu persatu pikiran yang entah datang dari mana mulai bermunculan dan menghantamnya saat itu. Saking banyaknya membuat Agam terus meminum lagi dan lagi minuman yang ia tuang sendiri di gelasnya.
Sampai kemudian suara pintu yang terbuka dengan lebar saat itu, membuat Agam langsung melirik sekilas ke arah pintu masuk ruangan tersebut.
"Sudah cukup Pak, mabuk di siang hari bukanlah hal yang baik." ucap Fatih begitu melihat bosnya terus minum tanpa henti.
"Pergi kamu! Jangan merusak kesenangan ku saat ini! Aku benar-benar ingin bebas sekarang, lagi pula wanita tua cerewet itu pasti akan mengomel jika melihat ku pulang saat ini!" ucap Agam yang terdengar mulai melantur saat itu.
Agam menepis tangan Fatih yang hendak menghentikannya saat itu, membuat helaan napas lantas terdengar keluar dari mulut Fatih saat itu.
"Sudah ku bilang untuk jangan mengganggu ku! Apa kau ingin resign dari pekerjaan mu detik ini juga?" ucap Agam sambil menunjuk ke arah Fatih saat itu.
"Bukan seperti itu Pak, bukankah Bapak ingin mengetahui hubungan antara Ratih dan juga Inara? Saya sudah mendapatkan informasinya Pak..." ucap Fatih seakan mencoba untuk membujuk Agam saat itu.
Mendengar nama Inara dan juga Ratih di sebut barusan, membuat Agam langsung tenang. Ditatapnya raut wajah Fatih dengan tatapan yang menelisik seakan mencoba untuk mencari kebenaran di dalam manik mata pemuda itu. Sampai kemudian seulas senyum lantas terlukis dengan lebar pada raut wajahnya.
__ADS_1
"Kau sudah mendapatkannya? Hahaha kau benar-benar sudah mendapatkannya?" ucap Agam sambil bangkit dari posisinya saat itu.
Agam melangkahkan kakinya ke arah Fatih dengan sedikit sempoyongan, membuat Fatih bersiaga jian sampai Agam jatuh tepat di hadapannya.
"Iya benar Pak dan informasi tersebut saat ini tengah berada di mobil, jadi bukankah sebaiknya kita pergi dari sani dan melihat informasi tersebut?" ucap Fatih lagi membuat Agam langsung mengangguk dengan keras saat itu.
"Kau benar, ayo kita pergi sekarang..." ucap Agam sambil menarik tangan Fatih dengan kuat.
"Tentu saja Pak...." jawab Fatih sambil terus membawa langkah kakinya mengikuti kemanapun Agam pergi saat ini.
**
Apartment Alvaro
Beberapa gedung tinggi perkotaan terlihat jelas di sana dengan gambaran langit yang begitu cerah kala itu. Membuat helaan napas terdengar berhembus jelas dari mulut Lina.
Lina melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Alvaro yang nampak tertutup dengan rapat saat ini.
"Apa aku sudah melakukan sesuatu yang benar? Mengapa rasanya aku begitu gelisah?" ucapnya pada diri sendiri saat itu.
Lina yang nampak begitu cemas saat itu, lantas memilih mendial nomor seseorang di sana berharap dengan begitu hatinya akan sedikit lebih tenang.
"Halo..." ucap sebuah suara di seberang sana.
__ADS_1
"Apa menurut mu aku melakukan hal yang benar? Entah mengapa aku merasa mereka semua adalah orang-orang yang baik. Hanya saja mungkin Tuan rumah di sini agak sedikit ketus, tapi selebihnya aku rasa mereka bukanlah orang jahat seperti yang kamu katakan kepadaku tempo hari." ucap Lina dengan nada yang terdengar begitu lirih saat itu, sambil sesekali menatap ke arah sekitar untuk mengecek keadaan.
"Jangan bodoh kamu Lin, kamu bahkan hanya bertemu dengan mereka sekali. Bagaimana mungkin kamu menyimpulkannya secepat ini?" ucapnya lagi dengan nada yang sedikit tertahan kala itu.
"Meski aku belum mengenal mereka sekalipun aku sudah bisa menebaknya. Aku rasa aku benar-benar tidak bisa melakukannya, aku minta maaf..." ucap Lina pada akhirnya, membuat seseorang di seberang sana lantas mencoba untuk menahan emosinya.
"Dengarkan aku Lin, Arin meninggalkan karena ulah mereka.. Aku benar-benar tidak bisa hanya menerima kenyataan jika pembunuh adik ku masih bisa tertawa bahagia di atas penderitaan ku. Apakah kamu tidak menyayangi ku? Jika aku terus menyimpan luka dan juga dendam di dalam dada ku, lalu bagaimana aku melanjutkan hidup ku? Bukankah katamu kamu juga ingin membina Rumah tangga tanpa adanya luka di masa lalu? Aku mohon Lin, setidaknya jangan lakukan untuk ku tapi untuk Arin. Arin pantas mendapatkan keadilan..." ucapnya lagi dengan lebih mendramatisir, berharap dengan begitu Lina akan kembali menyetujui rencananya.
Mendengar hal tersebut Lina nampak terdiam sejenak, pikirannya saat ini benar-benar telah buntu. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang, tapi yang jelas semua ini salah baginya.
Lina menghela napasnya panjang sambil memijit pelipisnya dengan pelan. Menjalin hubungan tanpa sebuah kepastian memanglah menyakitkan. Hanya saja harga yang harus Lina bayar untuk sebuah kepastian dari Karan, bukankah itu terlalu mahal?
"Ku mohon Lin.. Aku janji setelah semua masalah kita selesai aku akan menikahi mu." ucap Karan lagi yang seakan tahu jika Lina tengah bimbang saat ini.
"Baiklah tapi hanya kali ini saja, kamu tahu aku bukanlah orang jahat ataupun kaki tangan seseorang. Aku melakukan ini karena Arin sudah ku anggap menjadi adik ku sendiri. Aku harap kamu mengingat hal itu!" ucap Lina pada akhirnya dengan tatapan lurus ke arah depan.
"Terima kasih banyak Lin.. Aku yakin Arin pasti akan bahagia di atas sana ketika ia mengetahui bahwa Kakak iparnya menyayanginya." ucap Karan dengan senyuman yang mengembang.
Sepertinya Karan terlalu percaya diri jika Lina akan kembali menuruti kemauannya, sehingga membuatnya selalu saja mendramatisir keadaan agar membuat Lina percaya dan menurutinya.
Lina hanya tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih dari Karan barusan. Sampai kemudian sebuah suara seseorang yang lantas mengejutkan Lina saat itu, membuatnya langsung berbalik badan sambil menyembunyikan ponsel miliknya di area belakang tubuhnya berharap dengan begitu ia tidak ketahuan.
"Suster Lina? Apa yang kamu lakukan?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung mengejutkan Lina dengan seketika.
__ADS_1
Bersambung