
Malam sebelumnya
Karan yang seakan tahu jika malam ini adalah malam terakhir Lina bekerja untuk Alvaro, lantas membuatnya tak bisa menahan lagi kesabarannya.
Sejak pagi tadi, Karan sudah berulang kali menelpon dan juga memberi pesan singkat kepada Lina. Hanya saja tak ada satupun yang Lina balas atau bahkan ia tanggapi. Sudah seminggu berlalu namun Lina sama sekali tak membawakan hasil apapun, membuat Karan semakin geram karena rencananya harus terus tertunda.
Sambil menanti kedatangan Lina menghampirinya saat itu, Karan nampak menatap ke arah langit-langit malam dengan raut wajah yang kesal. Entah mengapa melihat Alvaro dan juga Inara terus bahagia seakan tanpa beban sama sekali, membuat hatinya begitu terluka semakin dalam lagi.
"Kak.. Apa Kakak lupa janji Kakak?"
Suara Arin yang terlintas begitu saja dibenaknya, lantas membuat Karan langsung menggeleng dengan cepat. Entah apa yang sedang ia pikirkan sedari tadi, hingga tiba-tiba suara sendu milik Arin terdengar jelas di telinganya saat itu, membuat Karan lantas langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kakak tidak pernah melupakannya Arin, Kakak tidak pernah melupakannya." ucap Karan secara berulang kali.
Sampai kemudian sebuah tepukan yang berada tepat di pundaknya saat itu, lantas langsung membuat Karan berbalik badan dan menatap ke arah sumber tepukan tersebut.
"Apa kamu baik-baik saja? Aku melihat sepertinya kamu sedang tidak sehat..." ucap Lina namun terkejut ketika tiba-tiba Karan menarik tangannya dengan begitu erat.
"Apa kau sedang mempermainkan ku? Bukankah sudah ku katakan untuk melakukannya, mengapa kau tidak kerjakan ha?" pekik Karan dengan manik mata yang melotot tajam.
"Aku... Aku bisa jelaskan semuanya... Tenangkan dirimu terlebih dahulu Karan..." ucap Lina mencoba untuk mengendalikan suasana yang terasa tidak enak saat itu.
"Kau bilang tenang? Jika kau tidak bisa melakukannya maka katakan saja biar aku yang melakukannya sendiri!" ucap Karan sambil menghempaskan tangan Lina begitu saja.
Karan terlihat begitu emosi saat ini, sambil memunggungi Lina saat itu Karan mencoba menarik napasnya berulang kali. Membuat Lina yang mendapati hal tersebut nampak menggigit bibir bagian bawahnya tanpa sadar.
"Maafkan aku.. Bukan aku tidak menginginkannya, aku hanya tidak punya kesempatan untuk melakukan tugas ku. Alvaro dan juga Inara selalu saja bersama, keduanya bagaikan perangko dan amplop yang tidak bisa di pisahkan antara satu sama lainnya." ucap Lina mencoba untuk mencari alasan agar Karan tidak marah kepadanya.
"Harusnya kau itu bisa lebih pintar dari ku! Apa kau sebodoh itu? Aku tidak mau tahu lakukan malam ini juga, bunuh wanita itu untuk ku!" ucap Karan dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
"Tapi aku..."
"Lakukan atau kita putus, hanya itu pilihan mu! Aku harap kau membuat keputusan yang bijak." ucap Karan sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Lina saat itu.
"Karan....
****
Dapur
"Aku tahu jika kamu sudah menyadarinya sejak awal, bukan?" ucap Lina sambil mulai berbalik badan secara perlahan menatap lurus ke arah dimana Inara berada saat ini.
Mendengar hal tersebut rasa takut mulai menyapa Inara secara perlahan, namun ia tidak boleh hanya pasrah dan menyerah pada keadaan seperti ini. Setidaknya Inara harus melawan dan memperjuangkan segalanya.
"Ya, aku tahu segalanya. Hal itu lah yang menjadi alasan ku untuk menghindari mu, apa kau pikir aku akan pasrah begitu saja ketika mendapati mu hendak membunuh ku?" ucap Inara tak mau kala.
Lina tersenyum dengan tipis mendengar perkataan Inara barusan, membuatnya melirik ke arah saru set pisau yang berada tak jauh dari tempatnya berada.
"Kau tahu? Karena mu aku putus dengan kekasih ku! Ku pikir dengan mengulur waktu aku akan menyelamatkan dirimu, tapi nyatanya menyelamatkan mu malah membuat hubungan ku hancur. Aku benar-benar membenci mu!" ucap Lina dengan histeris membuat Inara cukup terkejut ketika mendengarnya.
"Ini semua salah Lin, dia bukanlah yang terbaik untuk mu. Seseorang yang terbaik untuk mu tidak akan menyesatkan mu pada perbuatan buruk, kamu telah di tipu selama ini." ucap Inara mencoba untuk menasehati Lina saat itu.
"Diammmmmmmmm!" teriak Lina sambil mulai mengambil satu pisau dari sana.
Namun Inara yang melihat gerakan tangan Lina barusan, lantas melempar gelas itu hingga tepat mengenai tangan Lina dan membuat pisau itu terlempar begitu saja.
Prank.....
Mendapati sebuah kesempatan berada di depan matanya, Inara langsung mengambil langkah kaki seribu dari sana meninggalkan area dapur. Membuat Lina yang mendapati hal tersebut tentu saja berdecak dengan kesal karenanya.
__ADS_1
"Berhenti di sana ku bilang!" pekik Lina sambil mengambil pisau yang lain pada tempat pisau.
Kejar-kejaran antara keduanya tak bisa lagi di hindarkan, sambil memegang perutnya saat itu Inara terus berlarian menuju ke arah pintu hendak meminta pertolongan pada seseorang.
Hanya saja sebuah lemparan pisau yang asal oleh Lina, lantas mengenai kakinya saat itu dan langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Akhhhhhh aw...." rintih Inara sambil memegangi kakinya yang terlihat mulai mengeluarkan darah segar di sana.
"Menyerah lah saja.. Dengan kondisi mu yang hamil besar kau tidak akan bisa lolos dari ku!" ucap Lina dengan kesetanan membuat Inara kian memundurkan rubuhnya saat itu.
"Lin ini salah... Ini benar-benar salah..." ucap Inara dengan nada yang terdengar begitu lirih namun masih bisa di dengar oleh Lina saat itu.
Mendengar hal tersebut Lina nampak mengusap keringat dingin yang membasahi rambut Inara saat itu, sebenarnya ia sama sekali tidak ingin melakukan hal ini kepada Inara. Namun ia juga tidak bisa hidup tanpa Karan, tidak ada pilihan lain selain melakukannya saat ini atau tidak sama sekali.
"Ayo bangun dan ikut aku sekarang!" ucap Lina sambil menodongkan pisau kecil ke arah Inara saat itu.
"Tidak!" ucap Inara menolak dengan keras.
Akan tetapi Lina yang tak menerima penolakan, lantas menarik lengan Inara dengan kasar. Membuat Inara mau tidak mau bangkit dari tempatnya saat itu.
"Apapun yang terjadi kau harus ikut dengan ku!" ucap Lina sambil mulai menyeret Inara keluar dari sana.
***
Dari arah lorong Apartment terlihat Chris tengah melangkahkan kakinya perlahan menuju unit Apartemennya, sebuah deringan ponsel miliknya mendadak terdengar dan membuatnya dengan spontan berbalik badan dan melipir ke sebelah untuk menerima panggilan telpon tersebut.
Disaat Chris mengambil posisi memunggungi area lorong, tanpa ia sadari Lina dan Inara lewat di belakangnya begitu saja. Inara yang seakan tahu jika itu Chris lantas melepas gelang tangan miliknya, berharap dengan begitu Chris akan membantunya.
"Chris tolong aku..." ucapnya dengan nada yang terdengar begitu lirih.
__ADS_1
Bersambung