
"Sekarang katakan Ki, apa alasan mu berpura-pura mandul dan tidak bisa memiliki keturunan?" ucap Alvaro kemudian yang tentu saja langsung mengejutkan semua orang di sana.
"Kau berpura-pura mandul Ki? Apa yang kamu pikirkan ha?" pekik Tamara yang seakan ikut terkejut akan pertanyaan yang keluar dari mulut Alvaro saat itu.
Sedangkan Kikan yang mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Alvaro barusan tentu saja langsung terkejut bukan main. Sebuah rahasia yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun pada akhirnya terbongkar juga hari ini.
"Sebaiknya kita bicarakan ini di atas Al!" ucap Kikan sambil mulai melangkahkan kakinya hendak berlalu pergi dari sana.
"Bukankah semua orang ingin mendengar semuanya? Mengapa kamu malah ingin membicarakannya berdua dengan ku Ki? Apa kau takut semua keburukan mu terbongkar di sini?" ucap Alvaro dengan tatapan yang meremehkan kepada Kikan, membuat langkah kaki Kikan langsung terhenti dengan seketika.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan dan ayo naik ke atas sekarang Al..." ajak Kikan sambil menarik tangan Alvaro agar segera berlalu pergi dari sana.
Namun Alvaro yang mendapat tarikan tangan tersebut lantas menghempaskannya begitu saja, membuat Kikan langsung berbalik badan dengan seketika begitu mendapati perlakuan tersebut dari Alvaro saat ini.
"Jika kamu ingin mengatakan alasannya maka katakan di sini sekarang juga biar semua orang mendengar mu. Bukankah hal itu yang dikatakan oleh Mama mu?" ucap Alvaro kemudian dengan nada yang menyindir.
Mendengar hal tersebut membuat Kikan langsung menggigit bibir bagian bawahnya tanpa sadar. Ditatapnya Tamara dengan tatapan yang tajam karena ide gilanya itu membuatnya terjebak dalam jurang yang penuh dengan rasa malu. Entah bagaimana Kikan bisa menjelaskan segalanya kepada Alvaro tapi saat ini ia sudah benar-benar terpojok dan mau tidak mau harus menjelaskan segalanya.
__ADS_1
"Katakan sekarang juga Ki!" pekik Alvaro kali ini dengan nada yang meninggi.
Selama ini Alvaro benar-benar sudah bersabar dengan sikap Kikan, tapi untuk yang satu ini Alvaro sudah tidak bisa lagi untuk mentolerir kelakuan Kikan.
"Oke aku mengaku! Aku memang memalsukan segalanya, apa kau puas? Kau sama sekali tidak mengerti perasaan ku Al!" pekik Kikan yang tentu saja langsung mengejutkan semua orang di sana.
"Bagian mana yang tidak ku mengerti? Katakan kepadaku bagian mananya? Apa sebegitu bodohnya aku hingga begitu gampangnya kau tipu seperti itu Ki?" ucap Alvaro dengan nada yang meninggi membuat suasana kian menegang di area sana.
Inara yang mendengar segala pertengkaran keduanya bingung harus bersikap seperti apa, diusapnya perutnya beberapa kali seakan mencoba untuk menenangkan bayinya saat ini. Entah mengapa mendengar keduanya saling berteriak dan juga bertengkar, membuat perutnya sedikit terasa nyeri seperti kram namun detik berikutnya menghilang.
"Tenang ya nak tidak akan ada yang terjadi.. Mama akan membawa mu ke tempat yang lebih tenang saat ini..." ucap Inara pada diri sendiri memilih untuk pergi dari sana daripada harus mendengarkan perdebatan yang terjadi di antara keduanya saat ini.
"Kau itu tidak mengerti apapun! Sebagai seorang wanita aku tetap ingin mendapatkan segalanya termasuk tubuh yang ideal dan wajah yang cantik. Kau pikir hamil dan melahirkan itu enak? Bayangkan saja kau harus membawa seorang bayi di dalam kandungan mu selama berbulan-bulan dengan berat badan yang akan meningkat dengan drastis. Apa kau bisa membayangkannya? Lagi pula tanpa seorang anak kita bahkan bahagia Al, tapi kau yang selalu saja berbinar ketika melihat bayi seseorang, membuatkan semakin merasa tak karuan. Aku benar-benar tak bisa melakukannya! Tidakkah kau paham perasaan ku?" pekik Kikan yang tentu saja membuat Alvaro mengernyit ketika mendengarnya.
"Kau benar-benar egois, mengandung dan juga melahirkan itu adalah kodratnya wanita. Jika memang kau tidak ingin melakukannya, harusnya kau katakan kepadaku bukan malah menggunakan cara seperti ini, apa kau benar-benar sudah tidak waras Ki?" ucap Alvaro yang tidak lagi mengerti akan jalan pikiran Kikan saat ini.
"Sudah ku bilang cobalah untuk mengerti diriku, kalian para Pria tidak akan tahu rasanya seperti apa. Jadi berhenti menyalahkan kami yang tidak ingin memiliki seorang anak karena itu hanya akan merusak tubuh kami!" ucap Kikan dengan nada yang berteriak.
__ADS_1
"Baik, jika memang kamu tidak menginginkan hal itu aku tak masalah. Lalu katakan alasan di balik kamu yang menyuruh ku untuk menikah lagi, bukankah ini sama sekali tidak masuk dalam rencana mu?" ucap Alvaro dengan nada yang dingin.
"Memang tidak ada, awalnya aku hanya ingin bersikap dan mendalami peran sebagai wanita yang mandul. Tapi kamu malah benar-benar mengabulkannya dan membawa Inara pulang ke rumah. Berhubung sekarang kamu sudah mengetahui semuanya jadi ceraikan Inara dan kita benahi Rumah tangga kita bersama, mari kita buat anak sebanyak-banyaknya karena aku sudah tidak lagi memikirkan tentang hal itu. Setelah melihat Inara hamil dan masih memiliki tubuh yang bagus serta aura yang cantik aku rasa aku juga bisa melakukannya." ucap Kikan tanpa merasa berdosa sama sekali dan membuat Alvaro hanya bisa menatap tak percaya ke arahnya saat itu.
"Kau benar-benar sudah gila Ki! Aku bahkan baru menyadari jika selama ini aku menikahi seorang wanita yang manipulatif dan juga gila sepertimu!" ucap Alvaro dengan tatapan yang tajam sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Kikan dan juga Tamara di ruang makan.
"Tapi Al... Alvaro! Berhenti ku bilang!" ucap Kikan yang melihat kepergian Alvaro menuju ke arah ruang kerjanya.
Kikan yang melihat kepergian Alvaro tentu saja berusaha untuk mengejarnya, hanya saja tangan Tamara yang mencoba untuk menghentikannya lantas menggagalkan kepergian Kikan untuk mengejar Alvaro saat itu.
"Mama benar-benar tidak mengira jika kau benar-benar sudah gila! Apa otak mu itu kau letakkan di dengkul ha? Bagaimana bisa kau merencanakan hal aneh ini di belakang Mama? Harusnya kau katakan kepada Mama agar kita bisa menanggulangi jika ada masalah seperti ini kedepannya." ucap Tamara sambil menatap tajam ke arah Kikan saat ini.
Entah bagaimana sebenarnya jalan pikiran Kikan tapi yang jelas, apa yang di lakukan oleh Kikan pasti tidak akan bisa dimaafkan oleh Alvaro. Jika sampai Alvaro marah dan menceraikan Kikan, hilang sudah martabatnya di kalangan teman-teman sosialitanya dimana ia yang selalu membangga-banggakan Alvaro menantunya.
"Jika sampai Alvaro dan juga Kikan bercerai apa yang akan aku katakan kepada mereka semua? Yang ada mereka akan mengecam ku habis-habisan karena hal ini. Lagi pula siapa yang mau melepaskan seorang menantu pengusaha kaya yang tengah naik daun saat ini? Itu benar-benar hal yang konyol!" ucap Tamara dalam hati.
"Mama benar-benar mendukung ku?" ucap Kikan kemudian yang langsung membuyarkan segala lamunan Tamara saat itu.
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung