Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Ingin makan bakso


__ADS_3

"Hentikan drama kalian berdua! Pembahasan kita belum selesai saat ini. Ada satu syarat yang aku minta dan harus kalian penuhi!" ucap Tamara kemudian yang tentu sja langsung membuat ketiganya menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Apa syaratnya?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah penasaran.


"Aku akan tinggal bersama dengan kalian bertiga sampai wanita itu melahirkan anaknya!" ucap Tamara kemudian yang tentu saja langsung mengejutkan ketiganya saat itu.


"Apa!"


***


Kamar utama


Setelah pembahasan yang sama sekali tidak mendapatkan titik terang tersebut, Alvaro dan juga Kikan nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dengan gerakan yang kesal. Alvaro nampak memunggungi tubuh Kikan saat itu dan mengambil posisi berkacak pinggang, membuat Kikan yang menyadari jika Alvaro saat ini tengah marah, lantas langsung mendekat ke arahnya dan memeluk tubuh Alvaro dari arah belakang sambil bersikap manja kepadanya seakan berusaha untuk meredakan amarah Alvaro saat ini.


"Aku minta maaf, aku juga tidak tahu jika akan terjadi sampai seperti ini. Aku sungguh tidak..." ucap Kikan berusaha membujuk Alvaro.


Mendengar penjelasan dari Kikan barusan, lantas membuat Alvaro melepas pelukan tangan Kikan yang melingkar di perutnya saat itu. Alvaro berbalik badan dengan perlahan dan menatap ke arah Kikan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Membuat Kikan yang melihat hal tersebut lantas langsung menelan salivanya dengan kasar. Raut wajah Alvaro benar-benar menjelaskan segalanya dan Kikan tahu jika Alvaro tidak menyukai hal ini.


"Apa kamu marah kepada ku Al? Aku benar-benar minta maaf.. Aku yakin Mama pasti hanya terbawa emosi sesaat saat ini..." ucap Kikan dengan raut wajah yang menyesal.

__ADS_1


Mendengar permintaan maaf dari Kikan lantas membuat Alvaro mengusap raut wajahnya dengan kasar. Entah mengapa pikirannya saat ini terasa begitu kacau dan berantakan. Segala hal yang telah ia susun dan dirikan selama sepuluh tahun lamanya nyatanya goyah ketika sebuah badai terasa menerpanya secara perlahan.


Alvaro menatap ke arah Kikan dimana raut wajahnya nampak seakan tidak merasa bersalah sam sekali. Padahal saat ini segalanya sudah semakin rumit dan tidak lagi sesimpel yang dibayangkan.


"Kamu jelas tahu mengapa aku marah Ki, ini semua adalah keinginan mu dan aku mengikuti hal itu karena mu. Tidak hanya soal pernikahan gila ini, tapi juga tentang memperhatikan Inara, melakukan hubungan suami istri, hingga memiliki anak darinya. Semuanya ku lakukan karena mu. Dan sekarang ketika semuanya sudah aku lakukan untuk mu, kamu malah mengatakan hal yang memancing emosi ku? Apa kamu benar-benar lupa atau pura-pura lupa?" ucap Alvaro pada akhirnya meluapkan segala amarahnya.


Alvaro benar-benar berada di titik lelah, dimana semua usaha yang telah ia lakukan dengan sungguh-sungguh pada akhirnya hanya berakhir dengan sia-sia. Sedangkan Kikan yang mendengar hal tersebut tentu saja hanya bisa melongo, apa yang dikatakan oleh Alvaro memang benar. Tapi pantaskah ia mengatakan hal tersebut sambil meneriakinya seperti ini? Kikan menatap ke arah raut wajah Alvaro yang nampak begitu berantakan dan frustasi tersebut.


"Kamu menyalahkan ku atas semua ini Al? Kamu benar-benar menyalahkan ku? Apa kamu juga ingin menyalahkan ku karena tidak bisa melahirkan putra untuk mu? Apa kamu juga akan menyalahkan ku tentang hal itu?" ucap Kikan kemudian yang juga mulai terpancing emosi, membuat Alvaro langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang mengernyit.


"Aku tidak pernah mengatakan hal tersebut! Apa kamu pernah mendengarnya keluar dari mulut ku barang sekali saja? Bahkan meski sampai kita tua sekalipun dan tak memiliki seorang putra, aku tetap akan bersama dengan mu! Kamu saja yang dengan pikiran gila mu itu terus-terusan memaksa ku untuk menikah lagi, jadi berhenti menyalahkan diriku Ki... Kau juga bersalah dalam hal ini!" ucap Alvaro dengan nada penuh penekanan.


"Apa katamu? Jika kamu tidak menyetujuinya, mengapa kamu tidak terus membujukku agar berhenti menyuruh mu untuk melakukannya? Apa jangan-jangan kamu sangat menikmati peran mu, iya kan? Kamu menyukai Inara yang usianya jauh lebih muda dan juga cantik dari ku, bukan? Katakan saja sejujurnya tak perlu berbohong lagi dan menipuku!" ucap Kikan dengan nada yang terdengar meninggi.


Alvaro yang mendengar perkataan kasar Kikan tentu saja langsung menatap tajam ke arah Kikan. Entah mengapa dan bagaimana bisa Kikan mendadak mengatakan semua hal itu dan menyakitinya seperti ini dengan kata-katanya.


"Kau sudah benar-benar gila Ki, entah apa yang merasuki mu saat ini... Namun semakin kesini kamu semakin menunjukkan sifat asli mu yang egois itu! Bodohnya aku yang sedari dulu tak mendengarkan sama sekali perkataan Bella, yang terus mengatakan untuk memikirkannya secara matang sebelum menikahi mu!" ucap Alvaro dengan nada yang lebih rendah namun terasa langsung menusuk ke uluh hati Kikan saat itu.


Setelah mengatakan hal tersebut Alvaro melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana, tanpa ingin memperpanjang masalah ini. Berbicara dengan Kikan selalu saja tidak pernah menemukan titik terang, baik persoalan anak maupun tentang masalah yang mereka hadapi saat ini.

__ADS_1


**


Bruk


Suara pintu yang ditutup dengan keras oleh Alvaro, lantas terdengar memekakkan telinga dan mengejutkan Inara yang ternyata sedari tadi mendengar semua percakapan keduanya. Suara Kikan dan juga Alvaro yang begitu lantang, membuat Inara bisa mendengar pertengkaran keduanya walau kondisi kamar utama yang tertutup dengan rapat.


Alvaro yang baru saja keluar dari area kamar utama, lantas tersentak ketika mendapati Inara tengah berdiri tepat di samping pintu kamarnya. Meski Alvaro tidak yakin apakah Inara mendengar pertengkarannya dengan Kikan, namun jika melihat dari bagaimana wajah Inara saat ini Alvaro tahu jika Kikan sudah mendengarnya.


"Ra kamu di sini? Apakah kamu sudah makan? Mau makan sesuatu?" ucap Alvaro kemudian yang langsung membuat Inara mendongak menatap ke arahnya.


"Mas..." ucap Inara dengan manik mata yang berkaca-kaca.


Melihat manik mata Inara yang berkaca-kaca tentu saja membuat Alvaro langsung panik, entah mengapa Alvaro takut jika sampai Inara terlaku terbebani akan permasalahan yang saat ini tengah menimpa keluarga mereka. Apalagi mengingat sikap dan perilaku Tamara kepadanya, sama sekali tidak berperikemanusiaan dan juga keterlaluan. Alvaro melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada dan memegang pundaknya dengan lembut.


"Aku minta maaf jika kamu barusan mendengar sesuatu yang buruk, aku hanya..." ucap Alvaro namun terhenti ketika mendengar perkataan dari Inara barusan.


"Aku hanya ingin makan bakso saat ini!" ucap Inara kemudian dengan raut wajah yang memelas, membuat Alvaro lantas terkejut dengan seketika.


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2