
"Apa yang terjadi?" pekik Alvaro dengan terkejut.
Alvaro yang kebingungan ketika mendapati remnya tidak berfungsi saat itu, lantas berusaha untuk menekannya dengan kuat siapa tahu sambungannya sedikit melanggar saat itu. Hanya saja setelah beberapa kali ditekan, tetap saja sama sekali tidak berfungsi. Membuat manik matannya lantas membulat dengan seketika.
Alvaro yang tak bersiap akan situasi seperti ini terlihat membanting setirnya ke arah kanan dan kiri, seakan berusaha untuk menghindari tabrakan beruntun sebisa mungkin.
Keringat dingin bahkan mulai membasahi dahinya saat itu, membuat perasaan gelisah mulai menggerogoti hatinya.
Disaat perasaan panik dan juga khawatir mendera dalam dirinya. Sebuah deringan ponsel miliknya lantas membuatnya langsung menatap ke arah layar dashboard saat itu.
"Inara..." ucapnya dengan nada yang lirih.
Sampai kemudian sebuah bel yang cukup keras terdengar berulang kali saat itu, lantas membuat Alvaro terkejut dan langsung membanting stir ke arah kiri.
Brak.... Dak dak dak...
Mobil Alvaro menghantam pembatas jalan dan langsung menuruni tebing tepat di kawasan tol kilometer 56. Mobil tersebut terus turun dan tak terkendali, membuat Alvaro yang pandangannya mulai mengabur saat itu berusaha untuk melepas sabuk pengamannya.
"Aku tidak boleh mati.. Inara sedang menunggu ku di rumah." ucap Alvaro sambil berusaha mencari jalan di saat-saat mobilnya terus bergerak turun dengan sendirinya.
Sebuah bayangan raut wajah Inara yang tersenyum sambil menggendong seorang bayi yang lucu dan mungil, mendadak membuat jantungnya berdebar dengan kencang.
Hingga kemudian sebuah suara hantaman yang begitu keras terdengar memekakkan telinga, disertai dengan ledakan yang begitu dahsyat.
Bum...
***
Apartment Alvaro
Di ruang tengah terlihat Inara tengah menatap kosong ke arah depan. Pikirannya benar-benar tidak karuan saat ini, entah apa yang membuatnya begitu gelisah Inara sendiri bahkan tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Inara saat itu, membuat pikirannya semakin terasa gelisah. Inara yang tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan hatinya, lantas membuatnya memutuskan untuk menelpon Alvaro saat itu.
Deringan pertama terdengar begitu lama tanpa adanya jawaban di seberang sana. Sampai deringan kedua, ketiga dan pada akhirnya berakhir dengan sambungan terputus begitu saja.
"Tumben mas Alvaro tidak menjawab panggilan telpon ku, apakah rapatnya sudah di mulai? Ada apa dengan ku sebenarnya?" ucap Inara pada diri sendiri sambil mengusap perut buncitnya saat itu.
"Maafkan Ibu ya nak, Ibu juga tidak tahu mengapa Ibu begitu gelisah... Apa mungkin karena aku belum sarapan ya? Apakah sebaiknya kita makan dulu? Apakah menurut mu begitu nak?" ucap Inara sambil menatap perut buncitnya.
Inara yang tak mengerti alasan di balik kegelisahannya saat itu, pada akhirnya memutuskan untuk bangkit dan pergi sarapan. Siapa tahu dengan begitu ia bisa merasa sedikit lebih tenang.
***
Pengadilan
Dari arah dalam gedung pengadilan, terlihat Kikan keluar dengan raut wajah yang kesal. Untuk persidangan pertamanya hari ini, Alvaro memilih untuk mangkir dan tidak menghadirinya. Hal itu tentu saja membuat Kikan merasa seperti benar-benar dibuang oleh Alvaro.
Kikan bahkan sudah mulai muak dengan tingkah mantan suaminya tersebut yang seakan mencampakkannya hingga akhir.
"Lagi pula jika dia tidak hadir, mengapa? Bukankah langsung diputuskan saja bisa? Mengapa harus menunggu minggu depan untuk putusannya? Benar-benar menyebalkan!" ucap Kikan dengan nada yang menggerutu kesal.
"Bagaimana Ki? Apa kamu berhasil bermediasi dan memperbaiki segalanya?" tanya Tamara dengan raut wajah yang penasaran.
"Jangankan mediasi, Alvaro bahkan tidak datang hari ini. Apa yang bisa aku harapkan lagi Ma?" ucap Kikan dengan nada yang terdengar kesal, namun berhasil membuat Tamara mengernyit ketika mendengar perkataan Kikan barusan.
"Apa? Bagaimana bisa Pria itu bertindak seenak jidatnya seperti itu? Dia pikir dia siapa ha? Pria yang sudah tidak punya orang tua ya begitu kelakuannya, dasar arogan!" ucap Tamara dengan nada yang kesal.
"Sudahlah Ma aku benar-benar sedang kesal saat ini, jangan menambah kekesalan ku lagi sekarang." ucap Kikan sambil mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi meninggalkan Tamara saat itu.
Tamara yang melihat Putrinya pergi tentu saja dibuat semakin kesal. Ditariknya tangan Kikan saat itu, membuat langkah kaki Kikan lantas terhenti dengan seketika.
"Apa kau tahu dimana perempuan itu tinggal?" ucap Tamara kemudian yang lantas membuat Kikan mengernyit ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Perempuan siapa yang Mama maksud?" ucap Kikan dengan raut wajah yang penasaran.
"Siapa lagi jika bukan j4l4ng itu, kau pikir ada lagi selain dia?" ucap Tamara dengan raut wajah yang kesal.
Mendengar perkataan Tamara barusan lantas membuat Kikan memutar bola matanya dengan jengah. Mendengar namanya di sebut saja Kikan sudah sangat malas, apalagi jika harus mencari tahu tentangnya.
"Ini bahkan bukan waktu yang tepat untuk mengetahui dimana dia tinggal, jadi aku sama sekali tidak berniat untuk mencari dan mengatakannya kepada Mama." ucap Kikan dengan nada yang terdengar begitu malas, namun berhasil membuat sebuah pukulan mendarat tepat di kepalanya saat itu.
"Aw apa yang Mama lakukan? Sakit tahu?" ucap Kikan dengan nada yang merintih, nyatanya sama sekali tidak membuat Tamara iba saat itu.
"Kau itu bodoh atau apa, memangnya Mama bertanya untuk beramah tama dengannya? Tentu saja tidak! Tangan Mama bahkan sudah sangat geram ingin sekali menjambaknya, jangan kau pikir Mama datang untuk berteman." ucap Tamara dengan nada yang kesal karena Kikan sama sekali tidak mengerti kode yang ia berikan.
"Ah seperti itu, seharusnya Mama bilang dari tadi dong. Aku bahkan sudah lama ingin menampar mulut wanita itu!" ucap Kikan dengan tatapan yang tajam ke arah depan.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang!" ajak Tamara sambil menarik tangan Kikan saat itu.
"Tentu saja dengan senang hati." jawab Kikan sambil mengikuti arah tarikan Tamara saat itu.
***
Apartment Inara
Setelah Inara menyelesaikan sarapannya saat itu, ia terlihat merenung sebentar sambil menatap ke arah dinding bercat putih di hadapannya.
Sebuah deringan ponsel miliknya saat itu, lantas membuyarkan segala lamunan Inara.
"Halo" ucap Inara setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Maaf Bu, apakah pak Alvaro masih berada di sana? Rapat sudah di mulai dan mundur karena menunggu Bapak, tapi pak Alvaro tak kunjung datang juga." ucap Abi di seberang sana, yang tentu saja langsung membuat Inara mengernyit dengan raut wajah yang bingung.
"Apa Bi? Bagaimana bisa?" ucap Inara dengan nada yang terkejut.
__ADS_1
Dok dok dok
Bersambung