Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Siapa yang kamu benci?


__ADS_3

Karan yang mendapat berita jika Alvaro selamat dari kecelakaan naas tersebut, lantas langsung memutuskan ke tempat dimana Alvaro di rawat. Butuh usaha untuk mencari keberadaan Alvaro saat ini, mengingat Alvaro termasuk orang penting dan paling di cari oleh wartawan saat ini.


Karan yang berhasil menemukan Rumah sakit tempat dimana Alvaro di rawat saat ini, nampak mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana Alvaro di rawat saat ini.


Karan yang semula hendak mencari tahu tentang Alvaro, lantas langsung terhenti dengan seketika langkah kakinya, ketika mendapati Inara yang nampak terdiam mematung di tempatnya saat itu.


"Cih, bukankah mereka berdua tampak seperti perangko dan juga amplop yang tak terpisahkan?" ucap Keran dengan raut wajah yang kesal.


Sampai kemudian seulas senyuman tipis nampak terlihat dari raut wajahnya saat itu.


"Sepertinya aku berubah pikiran, jika perempuan itu yang ku incar.. Bukankah Alvaro akan menjadi gila?" ucapnya dengan senyuman yang mengembang.


Di saat Karan tengah menyusun rencananya yang mulai berubah, tepat ketika ia melihat kebersamaan antara Alvaro dan juga Inara.Karan lantas sedikit tersentak, ketika mendapati Inara menatap ke arahnya dengan raut wajah yang penasaran.


Tak ingin rencananya gagal dan harus berakhir sampai di sini setelah Inara menangkapnya. Karan nampak mulai membawa langkah kakinya menjauh dari sana.


***


Brak..


Suara pintu yang tertutup tepat ketika Inara melepas pegangan tangannya saat itu, lantas mengejutkan Chris dan juga Alvaro di dalam sana.


Keduanya nampak saling berpandangan antara satu sama lain saat itu, seakan dipikiran keduanya sama-sama terlintas satu nama yaitu Inara.


"Aku akan memeriksanya sebentar..." ucap Chris pada akhirnya yang lantas di balas Alvaro dengan anggukan kepala.


Setelah mengatakan hal tersebut, Chris terlihat mulai membawa langkah kakinya keluar dari ruang perawatan Alvaro. Nampak sekelebat bayangan seorang perempuan hamil, tengah melangkah dengan langkah kaki bergegas seperti tengah mengejar sesuatu saat itu.

__ADS_1


"Bukankah itu Inara? Mau kemana dia?" ucap Chris bertanya-tanya.


Chris ang tak ingin diam dan hanya bergelut dengan pikirannya saja, lantas mulai membawa langkah kakinya menyusul langkah kaki Inara yang sudah lebih dulu melangkah pergi meninggalkannya.


Entah apa yang sedang di kejar oleh Inara saat ini, namun yang jelas hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar dalam kepalanya.


Baik Chris maupun Inara terlihat sama-sama saling mengejar langkah kaki seseorang yang tentu saja mungkin keberadaannya sudah tidak ada lagi di sana. Membuat Inara yang mendapati hal tersebut, lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu pula Chris saat itu.


Puk...


"Ada apa Ra?" tanya Chris sambil menepuk pundak Inara pelan saat itu.


Tepukan secara tiba-tiba tersebut tentu saja membuat Inara dengan spontan berbalik badan dan menatap ke arah sumbernya.


"Ah itu tadi aku melihat..." ucap Inara sambil menunjuk ke arah lorong, namun sayangnya tidak ada siapapun di sana selain beberapa perawat dan juga dokter di Rumah sakit tersebut.


"Ah lupakan saja, sepertinya aku baru saja kehilangan dia." ucapnya dengan nada yang lirih, namun berhasil mengundang rasa penasaran dalam dirinya saat itu.


"Dia? Dia siapa Ra?" ucap Chris dengan raut wajah yang penasaran.


"Ah.. Itu.. Anu.... Suster.. Ya.... Tadinya aku ingin menanyakan sesuatu, tapi aku rasa susternya sudah pergi barusan." ucap Inara dengan nada yang mengelak.


"Suster? Suster yang mana? Bukankah semua orang yang berlalu lalang di sini juga perawat? Mengapa kamu tidak tanya mereka saja?" tanya Chris yang masih tidak mengerti akan maksud dari perkataan Inara barusan.


"Aku tidak terlalu mengenal mereka, sudahlah.. Ah iya Alvaro tadi meminta ku untuk membawakan soto ayam, aku sampai lupa! Sebaiknya kita kembali ke kamar Alvaro sekarang, bukankah kamu baru datang? Ayo ikut sarapan bersama dengan kami..." ajak Inara kemudian sambil menarik tangan Chris agar mengikuti langkah kakinya.


Sedangkan Chris yang ditarik begitu saja, tentunya hanya bisa kebingungan sambil mengikuti arah tarikan Inara. Entah apa yang sebenarnya coba untuk dikatakan Inara kepadanya, namun rasanya Chris merasa jika Inara hanya sedang mengalihkan pembicaraannya saja tanpa ingin mengatakan lebih lanjut segalanya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang coba di katakan oleh Inara sebenarnya sih?" ucap chris pada diri sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat itu.


**


Sementara itu tepat setelah kepergian Chris dan juga Inara dari sana, seseorang pria dengan pakaian bertudung serba hitam. Lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar dari sudut area sebelah timur. Pria itu yang tentu saja adalah Karan, nampak menatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan ke arah kepergian keduanya.


"Sepertinya aku harus hati-hati dengan Pria tersebut. Aku rasa kemungkinan dia akan jadi batu penghalang untuk ku menghabisi keduanya hingga hancur berkeping-keping." ucap Karan dengan nada penuh penekanan, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari area tersebut dan kembali menyusun sebuah rencana.


***


Di kediaman lama Alvaro


Di area ruang tengah terlihat Kikan tengah duduk termenung sambil terus menghela nafasnya dengan panjang. Entah mengapa pikirannya tentang bayangan ketika ia melihat Alvaro dan juga Inara yang begitu dekat saat itu, tentu saja membuatnya semakin tak karuan.


"Aku benar-benar membenci wanita itu!" ucap Kikan pada diri sendiri sambil menyenderkan kepalanya pada sofa ruang tengah.


Kikan benar-benar mulai muak melihat kedekatan keduanya yang terus terjalin selayaknya sepasang suami istri sungguhan. Kikan bahkan tidak menyangka jika keduanya akan bersikap terang-terangan seperti ini dan menunjukkan kemesraan mereka di publik, padahal status ia dan juga Alvaro belum resmi bercerai.


Mendapati kenyataan tersebut tentu saja membuat hati Kikan semakin terluka lebih dalam lagi. Kikan bahkan tadinya hendak berniat untuk rujuk dan memperbaiki segalanya. Namun ketika Kikan mendapati semuanya tidak akan kembali seperti semula, yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah dan menunggu sidang putusan. Nyatanya semua itu hanya bisa membuat Kikan gigit jari.


Kikan mendengus dengan kesel ketika lagi dan lagi bayangan antara Alvaro dan Inara kembali terlintas di pikirannya saat itu, membuat helaan nafas kasar terdengar berhembus kembali dari mulut wanita cantik tersebut.


"Entah apa yang harus aku perbuat saat ini? Kepala ku benar-benar telah kacau, tidak bisakah perempuan itu untuk diam dan jangan mengusik ku lagi? Arg benar-benar menyebalkan... Aku membenci mu! Benar-benar membenci mu!" ucap Kikan dengan nada penuh penekanan dan tatapan yang lurus ke arah depan saat itu.


Sampai kemudian sebuah suara bariton nampak terdengar menggema dan mengejutkannya saat itu.


"Siapa yang kamu benci memangnya?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2