
"Bayi kita... Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjaga bayi kita..." ucap Inara kembali sambil terus menangis tersedu.
"Apa yang sedang kamu bicarakan?" tanya Alvaro dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
Sedangkan Inara yang sudah keburu hancur lantas hanya memegangi area perutnya dengan erat sambil menangis dengan tersedu, membuat Alvaro yang melihat hal tersebut lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah dimana Inara berada.
Alvaro memeluk tubuh Inara dengan erat sambil berusaha untuk menenangkan Inara yang Alvaro sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Sedangkan Inara yang mengira jika bayinya telah tiada malah semakin tersedu di pelukan Alvaro karena merasa bersalah.
Alvaro menepuk punggung Inara dengan lembut berusaha untuk menenangkan wanita itu. Sampai beberapa menit berada di pelukannya, baru Inara mulai melepas pelukan Alvaro dengan perlahan dan menatapnya dengan manik mata yang basah.
"Jangan menangis Ra.. Apa yang sebenarnya kau tangisi? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Alvaro dengan nada yang lembut sambil mengusap air mata Inara dengan perlahan.
Inara yang mendengar pertanyaan tersebut semakin merasa sedih. Entah mengapa Alvaro malah terlihat begitu tegar dan biasa saja, padahal Inara sudah hampir putus asa ketika mengetahui anaknya tidak selamat.
"Katakan kepada ku ada apa? Apa kamu ingin makan sesuatu? Aku dengar perasaan Ibu hamil sedikit sensitif ketika menyangkut sesuatu hal." ucap Alvaro sambil mengusap air mata Inara dengan lembut.
Mendengar hal tersebut membuat tangisan Inara langsung terdiam seketika. Ada sebuah perkataan Alvaro yang membuat Inara langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengarnya barusan.
"Ibu hamil kata mu mas? Bukankah bayi kita sudah..." ucap Inara dengan raut wajah yang bingung begitu pula Alvaro.
"Tentu saja, kamu kan memang sedang hamil.. Lalu apa yang salah?" tanya Alvaro yang sama sekali tidak mengerti akan apa yang terjadi.
"Jadi aku masih hamil? Bayi kita baik-baik saja?" ucap Inara yang seakan terkejut membuat Alvaro semakin kebingungan.
__ADS_1
"Iya Ra, siapa yang mengatakan jika bayi kita tidak selamat?" ucap Alvaro dengan tatapan yang mulai kesal seakan hendak memarahi seseorang yang mengatakan kepada Inara jika bayi mereka telah tiada.
"Kamu, aku bahkan menanyakannya secara berulang kali dan kamu membenarkan semuanya, membuat aku mengira jika bayi kecil kita telah tiada." ucap Inara dengan raut wajah yang cemberut, membuat Alvaro langsung mengernyit dengan seketika.
"Aku? Kapan? Ah... Aku minta maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu dan tidak fokus... Aku benar-benar minta maaf..." ucap Alvaro kemudian ketika ia baru mengingatnya.
Sedari tadi ia memang sedang melamun dan memikirkan tentang Kikan. Alvaro yakin jika ketika Inara menanyakan sesuatu kepadanya, Alvaro yang tidak terlalu fokus malah mengatakan sesuatu yang membuat Inara salah paham.
"Kamu benar-benar menyebalkan mas..." ucap Inara dengan raut wajah yang cemberut, membuat Alvaro langsung memeluk kembali tubuhnya sambil terus mengucap kata maaf kepada Inara.
***
Malam harinya di kediaman Alvaro
Disaat langkah kaki keduanya baru saja memasuki area tengah hendak menuju ke arah meja makan. Baik Tamara maupun Kikan yang saat itu melihat keduanya datang secara bersama tentu saja langsung membuat mereka bangkit dari tempat duduk mereka saat itu.
"Lihatlah suami mu itu, dia semakin melupakan istri pertamanya dan terus keluar bersama dengan istri kedua. Apakah sepuluh tahun waktu yang sebentar? Dia bahkan langsung melupakan segalanya dalam sekejap." ucap Tamara dengan nada yang menyindir keduanya.
"Tentu ma, sepuluh tahun benar-benar sebuah waktu yang sebentar bahkan untuk menaruh kepercayaan sekalipun. Apa yang Mama harapkan dengan waktu sepuluh tahun itu? Nyatanya sama sekali tak membuat seseorang berubah menjadi lebih baik lagi!" ucap Alvaro dengan nada yang menohok, membuat semua orang yang ada di sana tentu saja langsung kebingungan ketika mendengar semua perkataan dari Alvaro barusan.
"Apa maksud perkataan mu Al? Apa kau tengah menyindir ku?" ucap Kikan yang merasa tersindir akan perkataan Alvaro barusan.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Alvaro menghentikan langkah kakinya dan melepaskan pegangan tangan Alvaro yang semula berada di pundak Inara.
__ADS_1
"Ra pergi lah ke kamar, ada beberapa hal pribadi yang ingin aku bahas bersama dengan Kikan." ucap Alvaro kemudian yang lantas di balas Inara dengan anggukan kepala begitu mendapat perintah tersebut.
Namun Tamara yang mendengar hal itu malah memutar bola matanya dengan jengah ketika mengira jika Alvaro malah mengutamakan Inara dari pada yang lainnya.
"Untuk apa dia kamu suruh pergi? Apa yang tidak boleh ia dengar sebenarnya? Jangan membeda-bedakan antara kedua istrimu." ucap Tanara yang lantas langsung menghentikan langkah kaki Inara dengan seketika.
Inara benar-benar berada di antara pilihan yang sulit, membuatnya bingung haruskah ia tetap di sini atau berlalu pergi ke kamar seperti perintah dari Alvaro barusan.
"Ma jangan sekarang, ini adalah pembicaraan pribadi antara aku dan juga Kikan. Mama sebaiknya juga pergi dari sana dan berikan kami ruang untuk berbicara sekarang!" ucap Alvaro dengan nada yang tegas membuat semua orang yang ada di sana langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar perkataan Alvaro saat ini.
"Tidak ada yang boleh pergi dari sini, jika kalian berdua ingin bicara katakan di depan kita semua." ucap Tamara dengan nada yang ketus dan sama sekali tidak ingin di bantah, membuat seulas senyum tipis terlihat dengan jelas di wajah Alvaro saat itu.
"Ma ku mohon turuti saja perkataan Alvaro saat ini, ya?" bujuk Kikan kemudian ketika menyadari jika Alvaro pasti tengah membawa berita penting yang tidak ingin siapapun mendnegarnya kecuali dia.
"Mama bilang tidak ya tidak, termasuk kau udik! Tetap di sini dan jangan pergi kemanapun, aku benar-benar ingin lihat apa yang hendak dilakukan oleh pemimpin rumah tangga itu saat ini!" ucap Tamara dengan nada yang meremehkan menatap ke arah Alvaro saat ini.
"Baik, terserah jika Mama ingin mendengar segalanya saat ini. Namun yang jelas aku yakin Mama akan terkejut ketika mendengar perkataan ku saat ini." ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat semua orang menatap dengan penuh tanda tanya.
"Apa maksud mu sebenarnya?" ucap Tamara yang tidak mengerti akan perkataan Alvaro saat ini.
"Sekarang katakan Ki, apa alasan mu berpura-pura mandul dan tidak bisa memiliki keturunan?" ucap Alvaro kemudian yang tentu saja langsung mengejutkan semua orang di sana.
"Apa?"
__ADS_1
Bersambung