
"Sayangnya pak Alvaro tidak akan mau bertemu pembantu seperti mu, jadi aku mohon tanpa mengurangi rasa hormat ku silahkan pergi dari sini!" ucap Arin dengan nada yang terdengar tidak enak.
"Apa? Pembantu?" ucap Inara dengan kebingungan.
"Bukankah kamu memang pembantunya Pak Alvaro? Ayolah mana ada seorang selingkuhan berpakaian seperti ini?" ucap Arin mulai blak-blakan tanpa merasa bersalah sama sekali ketika mengatakan hal tersebut kepadanya.
Inara yang mendengar perkataan dari Arin yang semakin mengesalkan hatinya, lantas hanya mencoba menarik napasnya dengan panjang. Inara tahu apa yang dikatakan oleh Arin mungkin terdengar sangat menyakitkan, tapi entah mengapa anehnya Inara merasa jika hal itu pantas ia dapatkan.
"Jika memang kamu tidak ingin memanggil pak Alvaro tak apa, aku tidak akan memaksa. Tapi ku mohon berikan bekal Ini kepadanya karena tadi pagi ia belum sarapan, terima kasih." ucap Inara kemudian meletakkan kotak bekal tersebut tepat di depan Arin.
Arin yang melihat hal tersebut hanya tersenyum dengan tipis seakan mengiyakan perkataan dari Inara barusan, setidaknya hal tersebut ia lakukan agar Inara segara pergi dari sini.
"Baiklah.. Baiklah akan saya lakukan! Silahkan kamu pergi dari sini." ucap Arin dengan nada yang ketus.
Mendengar hal tersebut membuat Inara mau tidak mau harus pergi dari sana tanpa bisa memberikannya secara langsung kepada Alvaro. Ada sebuah perasaan kecewa dalam dirinya ketika mendapati ia tidak bisa memberikannya secara langsung kepada Alvaro, membuat langkah kaki Inara langsung terhenti dengan seketika.
Inara yang penasaran apakah Arin memberikannya atau tidak kepada Alvaro, lantas terlihat berbalik badan. Hanya saja ketika Inara berbalik dan melihat ke arah meja resepsionis, Inara malah mendapati sesuatu yang tidak sopan di lakukan oleh Arin saat itu. Dimana Arin membuka bekal tersebut dan mencicipi masakan yang telah ia sajikan dan tata secantik mungkin untuk Alvaro.
Melihat hal tersebut tentu saja membuat Inara geram dan juga kesal. Dengan langkah kaki yang bergegas Inara kemudian mulai membawa langkah kakinya kembali ke arah meja resepsionis tersebut hendak memberi pelajaran kepada Arin.
"Apa yang kamu lakukan? Makanan itu untuk pak Alvaro!" ucap Inara yang tentu saja langsung mengejutkan Arin yang sedang mencicipi makanan tersebut.
"Apa sih repot amat, peraturan di sini mengatakan jika saya boleh mencicipi makanan sebelum di berikan kepada pak Alvaro guna untuk mengetes apakah makanan ini beracun atau tidak." ucap Arin dengan nada yang tegas tanpa merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila? Ini bahkan bukan jaman kerajaan, mana ada peraturan yang seperti itu." ucap Inara yang tidak suka akan cara bicara Arin yang seperti itu.
"Kau gadis udik mana tahu peraturan seperti itu ada di kota! Jadi sana pergi jangan mengganggu ku!" pekik Arin kemudian.
Inara yang mendapati dirinya malah di usir tentu saja tidak terima. Dengan langkah kaki yang perlahan Inara mulai memutar meja resepsionis dan mendekat ke arah Arin berusaha untuk merebut makanan tersebut dari tangannya.
"Lepaskan! tingkah mu ini benar-benar tidak sopan, jika kau menginginkannya seharusnya katakan dari awal aku bahkan akan memberikan kepadamu secara percuma." ucap Inara sambil berusaha menarik kotak makan tersebut.
"Pembantu seperti mu mau berbagi? Tentu aku tidak akan sudi sedikit pun! Kemari kan kotaknya, bukankah kau ingin memberikannya kepada pak Alvaro?" ucap Arin tak mau kalah.
Pada akhirnya tarik menarik kotak bekal makan siang tidak lagi bisa terhindarkan. Baik inara maupun Arin sama sekali tidak ada yang mau mengalah dan tetap mempertahankan posisinya masing-masing.
kebetulan sekali pertengkaran mereka terjadi di jam makan siang sehingga mengakibatkan beberapa orang langsung berkumpul dan memperhatikan keduanya dengan tatapan yang bingung. Entah apa yang sedang terjadi antara Inara ataupun Arin saat itu hingga keduanya sampai berebut kotak makan siang seperti itu.
"Lepaskan! Apa sebenarnya yang membuat mu begitu ngotot seperti ini? Bukankah kau sama sekali tidak punya hak? Jadi sebaiknya kau lepaskan saja kotak makan siang tersebut!" ucap Inara kemudian sambil berusaha untuk tetap menariknya, namun sayangnya Arin sama sekali tidak mau memberikannya kepada Inara.
Entah apa yang sedang merasuki Arin saat ini hingga ia begitu kekeh mempertahankannya, padahal Arin tidaklah mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut. Fakta bahwa Alvaro memiliki istri sedangkan Inara mengetahui jika Alvaro belum sarapan tadi pagi, hal itulah yang membuat Arin semakin merasa kesal karena mengira jika Inara adalah selingkuhan dari Alvaro.
***
Ruangan CEO
Disaat area lobi tengah terjadi ribut-ribut antara Arin dan juga Inara, lain halnya di ruangan CEO dimana Alvaro nampak tertidur setelah merasakan jika kepalanya sedikit pening sebelumnya.
__ADS_1
Sebuah deringan ponsel yang terdengar menggema, lantas langsung membangunkan Alvaro dari tidurnya. Alvaro yang mendengar suara deringan tersebut langsung bangkit dengan terkejut, membuat kepalanya merasa begitu pening karena terbangun secara mendadak.
Alvaro memijat pelipisnya secara perlahan sambil mengambil ponsel miliknya dan langsung menggeser ikon berwarna hijau begitu melihat nama Abi tertera dengan jelas pada layar ponsel miliknya.
"Halo..." ucap Alvaro sambil masih memijat pelipisnya dengan perlahan.
"Tuan ada ribut-ribut di area lobi." ucap Abi dengan nada yang sedikit terdengar bising di seberang sana.
"Jika memang ada keributan, mengapa kamu malah menelpon ku? Bukankah kamu seharusnya mengatakan langsung kepada satpam agar membereskannya?" ucap Alvaro sambil menghela napasnya panjang ketika mendengar laporan absurd dari Abi barusan.
"Saya tahu soal hal tersebut Pak, hanya saja yang sedang bertengkar di lobi saat ini adalah bu Inara dan juga Arin." ucap Abi kemudian yang lantas membuat Alvaro mengernyit dengan seketika seakan mencoba untuk mencerna perkataan dari Abi barusan yang terdengar sedikit aneh di telinganya.
"Apa? Inara? Bagaimana bisa?" pekik Alvaro dengan nada yang terkejut begitu mendengar hal tersebut.
***
Ting
Suara pintu lift yang terbuka dengan lebar lantas membuat Alvaro langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas keluar dari dalam lift. Setelah mendengar perkataan Abi yang mengatakan Inara berada di bawah tentu saja langsung membuat Alvaro melangkahkan kakinya turun ke bawah sekaligus melihat apa yang sedang terjadi saat itu.
Dari arah kejauhan Alvaro yang melihat kerumunan karyawannya, lantas mulai mempercepat langkah kakinya dan membelah kerumunan tersebut. Membuat beberapa orang yang yang melihat kedatangan Alvaro ke mari lantas mulai melipir dan membukakan jalan untuknya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Alvaro kemudian yang lantas mengejutkan Inara dan juga Arin dengan seketika.
__ADS_1
Bruk...
Bersambung