Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Ampuni saya


__ADS_3

"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Alvaro kemudian yang lantas mengejutkan Inara dan juga Arin dengan seketika.


Mendengar suara yang tak asing berasal dari arah belakang keduanya, lantas langsung membuat Inara dan juga Arin menoleh dengan seketika ke arah sumber suara. Arin yang terkejut akan kehadiran Alvaro dengan spontan melepaskan kotak bekal makan siang yang sedari tadi di perebutkan oleh keduanya. Hal tersebut membuat tubuh Inara langsung terhuyung ke belakang dan hampir saja jatuh. Beruntung Alvaro yang cekatan dengan spontan menangkap tubuh Inara sehingga tidak membuatnya jatuh mengenai lantai.


Bruk... pyar...


Suara kotak makanan yang jatuh membentur lantai dengan beberapa isian yang langsung berserakan di sana, membuat suana menjadi hening dengan seketika. Beberapa karyawan yang melihat Inara menangkap tubuh Inara saat itu tentu saja langsung menjadi buah bibir dan juga pembicaraan bagi mereka saat itu.


"Mampus kau! Pasti sebentar lagi pak Alvaro akan mengutuk sekaligus mengusir mu di depan semua karyawannya." ucap Arin pada diri sendiri sambil melihat tingkah keduanya.


"Apa kamu baik-baik saja Ra? Kamu bahkan sedang hamil bersikaplah lebih hati-hati lagi." ucap Alvaro dengan raut wajah yang penuh ke khawatiran sambil mulai membantu Inara untuk bisa berdiri dengan tegak.


Setelah memastikan jika Inara dalam keadaan yang baik-baik saja, Alvaro kemudian menatap tajam ke arah Arin saat ini. Hal tersebut membuat Arin langsung mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alvaro berada.


"Saya minta maaf Pak, saya sudah mencoba untuk menyuruhnya pergi, namun dia sulit sekali utuk di usir dari sini Pak!" adu Arin kemudian yang lantas membuat manik mata Inara melotot dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.


Sedangkan Alvaro yang mendengar aduan dari Arin barusan kemudian lantas mulai menatap ke arah Inara dengan tatapan yang Intens, Inara yang ditatap seperti itu tentu saja langsung berusaha untuk menjelaskan segalanya kepada Alvaro detik itu juga.


"Hal itu tidak benar mas eh maksud saya Pak, saya kemari hanya untuk mengantarkan bekal makan siang dan sudah berpesan kepadanya untuk memberikannya kepada anda. Tapi ketika saya pergi dia malah menyicipi makanan tersebut dan berdalih itu adalah aturan di tempat ini, dimana semua makanan yang datang untuk anda harus melalui uji coba pencicipan darinya sebelum di berikan kepada anda." jelas Inara menceritakan segala halnya kepada Alvaro dengan runtut.

__ADS_1


Alvaro yang mendengar penjelasan tersebut tentu saja langsung mengernyit. Bayangannya lantas teringat kepada momen di saat di mana ia yang selalu membeli makanan, namun ketika sampai di mejanya selalu saja dalam keadaan rusak atau bahkan ada beberapa makanan yang hilang. Mendapati hal tersebut membuatnya selalu tidak percaya jika menggunakan jasa ojek online dan memilih untuk menyuruh Abi membelinya secara langsung.


Dan setelah mendengar penjelasan dari Inara barusan, kini ia menyadari alasan terbesarnya makanan miliknya selalu saja berantakan dan tidak tersegel dengan baik. Yang ternyata adalah ulah dari karyawannya sendiri yaitu Arin.


"Sa...saya benar-benar tidak melakukannya Pak sungguh.. Saya benar-benar tidak melakukannya!" ucap Arin masih mencoba untuk mengelak tuduhan tersebut.


Mendengar hal tersebut membuat Alvaro hanya tersenyum dengan tipis kemudian sambil menatap arah Arin dengan tatapan yang intens.


"Bi kemarilah ada sesuatu yang harus kamu kerjakan." panggil Alvaro di tengah kerumunan yang sedang menatap ke arah ketiganya.


"Iya Pak ada yang bisa saya bantu?" ucap Abi kemudian tak lama setelah melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alvaro berada saat ini.


"Tentu Tuan.." jawab Abi dengan nada yang terdengar santai sambil berbalik badan dan bersiap pergi dari sana.


Arin yang melihat Abi hendak berlalu pergi dan mencari tahu soal rekaman kamera pengawas di area loby, lantas mulai terlihat panik dan juga khawatir. Arin yang tidak ingin tingkah lakunya ketahuan dan di lihat oleh semua orang kemudian mulai bersimpuh tepat di hadapan Alvaro sambil menyatukan kedua tangannya memohon ampun kepadanya.


"Maafkan saya Pak.. Saya benar-benar minta maaf... Saya janji tidak akan mengulanginya lagi... Saya.. Saya bersalah karena telah melakukan hal tersebut..." ucap Arin pada akhirnya.


Pengakuan Arin tersebut benar-benar mengejutkan semua orang di sana. Apa yang di lakukan Arin benar-benar tidak sopan sekaligus tidak pantas di lakukan mengingat Alvaro adalah bos di tempat tersebut. Bisik-bisik antar karyawan bahkan mulai terdengar layaknya kerumunan tawon di area sana, membuat rasa malu mulai terasa bagi Arin saat itu.

__ADS_1


"Kau tahu? Aku memang menghormati karyawan ku tapi aku paling tidak suka jika ia mulai bersikap kurang ajar terhadap ku. Apa kau tahu bagaimana rasanya makanan mu di acak-acak oleh seseorang kemudian kau makan? Itu benar-benar menjijikkan. Jika memang kamu menginginkannya harusnya kamu katakan saja karena aku akan memberikannya juga untuk mu dengan sukarela!" ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Arin langsung menunduk dengan tatapan yang takut.


"Saya benar-benar minta maaf Pak... Saya sungguh menyesal.. Saya... Tidak punya cukup uang untuk membelinya sehingga ketika saya melihat makanan Bapak, hal itu membuat saya tergiur dan menginginkannya juga." ucap Arin lagi yang lantas membuat Alvaro langsung menghela napasnya dengan panjang.


Alvaro mengusap raut wajahnya dengan kasar ia tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Arin saat ini. Sedangkan Inara yang melihat hal tersebut, lantas langsung mengusap pundak Alvaro seakan mengingatkan kepadanya agar jangan emosi dalam menghadapi situasi yang seperti ini.


"Aku ingin kamu minta maaf kepada Inara sekarang!" ucap Alvaro pada akhirnya membuat Arin langsung mendongak menatap ke arahnya.


"Apa Pak?" pekik Arin yang terdengar begitu terkejut akan perkataan Alvaro barusan.


"Minta maaf sekarang juga!" ucap Alvaro sekali lagi namun kali ini dengan nada yang penuh penekanan.


Arin yang mendengar hal tersebut tentu saja semakin di buat kesal. Jika untuk meminta maaf kepada Alvaro tentu Arin akan melakukannya, namun jika ia di suruh meminta maaf kepada Inara tentu ia tidak akan sudi karena apa yang ia lakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Inara sama sekali.


"Ba..bagaimana bisa Bapak menyuruh saya meminta maaf kepada seorang pembantu? Saya bahkan.." ucap Arin namun terhenti dengan seketika karena perkataan dari Alvaro.


"Dia bukan pembantu, Inara adalah istri sah saya!" ucap Alvaro dengan nada yang tegas.


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2