
"Ada apa Ra?" ucap Alvaro dan juga Chris yang bersamaan saat itu, membuat Alvaro dan Chris lantas saling pandangan antara satu sama lain dalam sepersekian detik saat itu.
"Itu..." ucap Inara dengan bibir yang bergetar ketakutan.
Mendengar hal tersebut lantas membuat keduanya menoleh ke arah tunjuk Inara saat itu. Chris nampak bangkit dan mengambil kotak yang di lempar Inara. Sebuah foto yang berlumuran darah terlihat jelas di dalam box tersebut dengan tulisan besar di atasnya yaitu "mati".
Inara jelas tahu jika hal itu di tunjukkan oleh dirinya membuat Inara merasa ketakutan sekaligus terkejut ketika mendapati hal tersebut.
"Siapa yang berani-berani melakukannya?" ucap Alvaro dengan rahang yang mengeras saat itu.
Hingga kemudian sebuah suara rintihan yang berasal dari Inara, lantas membuyarkan segala pemikiran dan juga emosinya saat ini.
"Akh"
"Ada apa Ra? Mana yang sakit?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang khawatir.
"Sakit" ucap Inara perlahan sambil memegangi area perutnya saat itu.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Chris yang sibuk dengan box tersebut langsung menoleh ke arah Inara, Chris sedikit tersentak ketika melihat ada sedikit darah mengalir di paha Inara yang saat itu kebetulan tengah mengenakan dress dengan panjang selutut. Meski tidak banyak namun Chris yakin jika itu adalah noda darah.
"Darah, bawa Inara ke Rumah sakit sekarang." ucap Chris kemudian dengan nada yang meninggi, membuat Alvaro lantas menatap ke arah tatapan Chris saat ini.
Melihat apa yang baru saja dikatakan oleh Chris, membuat Alvaro tanpa membuang waktu lagi lantas menggendong tubuh Inara ala bridal style dan bergerak cepat hendak membawa Inara ke Rumah sakit.
Sementara Chris yang juga berada di sana, melihat kepergian Alvaro dengan langkah kaki yang terburu-buru lantas bangkit dari tempatnya. Sambil menatap lurus ke arah depan Chris menutup pintu Apartment Alvaro dan mulai membawa langkah kakinya kembali ke untu Apartemennya saat itu.
__ADS_1
Chris nampak mendial nomor seseorang di ponselnya sambil membawa box tersebut masuk ke dalam unit Apartemennya.
"Halo Joy, aku butuh sesuatu saat ini dan aku harap kamu bisa melakukannya dalam waktu yang singkat." ucap Chris pada seseorang di seberang sana, sebelum pada akhirnya masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan rapat.
**
Sementara itu setelah lorong Apartment sudah kosong, dari arah tangga darurat terlihat seseorang yang mengenakan tudung hitam nampak tersenyum dengan simpul di balik maskernya saat itu. Ia nampak sangat puas dengan keributan yang terjadi karena ulahnya.
Meski hal ini mungkin hanya berdampak kecil, namun setidaknya sudah cukup untuk membangkitkan rasa khawatir dalam diri Alvaro untuk saat ini.
"Ini hanyalah sebuah permulaan, untuk mu Tuan besar akan aku pastikan kamu merasakan lebih parah dari apa yang dirasakan oleh Arin!" ucap Pria bertudung hitam tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.
***
Rumah sakit
Alvaro bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana ketika menyadari jika ia selalu saja lalai dan tidak bisa menjaga Inara dengan benar.
"Mengapa aku selalu saja membuat Inara berakhir di tempat ini? Kau benar-benar bodoh Al!" ucap Alvaro pada diri sendiri dengan nada yang terdengar begitu frustasi saat itu.
Sampai kemudian disaat perasaan bersalah tengah membumbung di dalam hatinya, sebuah suara pintu yang di buka dari area dalam lantas menampilkan seseorang yang tak asing baginya.
"Bagaimana keadaannya Bel? Apakah Inara baik-baik saja?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang khawatir saat itu.
Mendapat pertanyaan dari Alvaro barusan, lantas membuat Bella menghela napasnya dengan panjang. Entah kata-kata apa lagi yang harus ia katakan kepada Alvaro agar ia mengerti jika menjaga kondisi Inara untuk tetap stabil sangat di perlukan dalam kondisinya saat ini.
__ADS_1
"Tidak bisakah kamu..." ucap Bella hendak mengomel namun langsung di potong oleh Alvaro yang tahu jika Bella akan kembali mengomel.
"Bel tolong untuk saat ini saja jangan mengomel, bisakah kamu untuk memberitahu ku lebih dulu kondisi Inara sekarang?" ucap Alvaro dengan nada yang memohon, membuat lagi dan lagi Bella menghela napasnya dengan panjang.
"Baiklah, jadi begini... Pendarahan ini terjadi akibat si Ibu yang mengalami stress, trauma atau bahkan sock. Dalam beberapa kasus hal ini dapat berakibat fatal dan menyebabkan keguguran. Namun untuk kasus Inara, kamu tidak perlu khawatir karena bayi dan juga Ibunya dalam kondisi yang baik." ucap Bella mulai menjelaskan segalanya, membuat raut wajah khawatir Alvaro perlahan-lahan berubah menjadi lebih lega lagi.
"Syukurlah jika memang keduanya baik-baik saja." ucap Alvaro kali dengan hati yang sedikit lebih baik.
Hanya saja Bella yang mendengar Alvaro seakan telah melepas beban berat yang ia pikul, kemudian dengan spontan langsung menoyor bahunya dengan keras.
"Aw.. Apa yang kau lakukan ha?" pekik Alvaro dengan nada yang menukik.
"Baik-baik saja bukan berarti selanjutnya akan baik. Apa kau sama sekali tidak bisa jadi suami siaga? Mengapa Inara selalu saja seperti ini? Apakah kah sama sekali tidak menginginkan bayimu lahir dengan sehat?" ucap Bella dengan nada yang kesal.
Namun nyatanya Alvaro yang mendengar omelan tersebut, perlahan-lahan raut wajahnya mulai berubah menjadi sendu. Ia bahkan tidak menginginkan hal ini terjadi kepada Inara, hanya saja sayangnya keadaan dan nasib buruk yang menyelimuti kehidupannya. Pada akhirnya membuat Alvaro tidak bisa mencegah segala hal yang terjadi kepada dirinya dan juga Inara.
Mendapati perubahan raut wajah Alvaro saat itu, lantas membuat Bella langsung terdiam dengan seketika. Ditepuknya pundak Alvaro beberapa kali seakan tengah berusaha memberikan semangat kepada teman sekaligus seseorang yang pernah mengisi harinya itu.
"Baiklah-baiklah aku minta maaf karena sudah keterlaluan, tidak seharusnya aku berbicara seperti itu kepadamu. Kamu tahu? Pekerjaan ku sebagai Dokter benar-benar membuat ku berlebihan dalam segala hal yang menyangkut tentang kesehatan. Lagi pula Inara dan anak mu baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, oke?" ucap Bella mencoba memberikan semangat kepada Alvaro dengan sepenggal kata-katanya.
"..."
Alvaro yang mendengar hal tersebut hanya menatap ke arah wanita itu, ketika Bella mencoba untuk menyemangatinya barusan.
"Em ngomong-ngomong, apa sebenarnya yang terjadi kepada kalian berdua? Mengapa aku selalu mendapati Inara dalam keadaan yang tertekan?" ucap Bella kemudian dengan nada yang terdengar ragu-ragu, membuat Alvaro yang baru mengingat sesuatu lantas berdecak dengan kesal.
__ADS_1
"Sial!" ucapnya ketika baru mengingat sesuatu barusan.
Bersambung