
Tengah malam
Kikan yang terbangun dari tidurnya lantas nampak berbalik dan terkejut ketika mendapati jika Alvaro tidak ada di sampingnya. Kikan yang melihat tempat tidur di sebelahnya masih bersih seperti tak tersentuh lantas mulai bangkit secara perlahan sambil menatap ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.
"Sudah pukul 1 dini hari tapi Alvaro belum kembali juga, apa dia begitu marah kepadaku?" ucap Kikan pada diri sendiri sambil sedikit melakukan perenggangan dan mulai bangkit dari tempat tidurnya.
Entah mengapa Kikan berpikir jika Alvaro sedang ingin di bujuk saat ini. Biasanya dulu ketika Alvaro tengah marah kepadanya, Alvaro selalu saja tidur di ruang kerja. Kikan yang tahu Alvaro tidak akan bisa marah kepadanya lantas selalu datang pada tengah malam dan mencoba untuk merayunya, setelah itu dapat kalian bayangkan sendiri apa yang terjadi ketika sepasang suami istri baru saja berbaikan.
Membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Alvaro marah, benar-benar menggetarkan hati Kikan saat itu membuat seulas senyum lantas terlihat terbit di wajah cantiknya saat itu.
"Aku sudah tidak sabar membayangkan hal tersebut benar-benar terjadi." ucap Kikan sambil tersenyum dengan lebar.
Kikan kemudian membawa langkah kakinya berlalu pergi dari area kamar menuju ke ruang kerja Alvaro. Sepanjang perjalanan menuju ke arah sana senyuman tak henti-hentinya muncul di wajah Kikan saat itu. Sampai kemudian ketika Kikan hendak mulai menuruni anak tangga pertama, Kikan tanpa sengaja melihat Alvaro tengah melangkahkan kakinya melewati area dapur.
"Al..." ucap Kikan yang terjeda ketika mendapati Alvaro melipir ke arah kamar Inara saat itu.
Melihat Alvaro mulai mengetuk pintu kamar Inara membuat langkah kakinya terhenti dengan seketika. Semua bayangan manis di kepalanya mendadak hancur berkeping-keping setelah melihat Alvaro lebih memilih menghampiri Inara daripada datang ke kamarnya saat itu, benar-benar sesuatu yang sama sekali tidak ada di pikirannya.
Nyatanya apa yang ada di kepalanya saat ini sama sekali berbeda dengan apa yang ada di kepala Alvaro. Membuat Kikan terlihat terdiam sambil memegang pegangan tangga dengan cukup erat seakan merasa kesal sekaligus cemburu ketika mendapati Alvaro datang ke kamar Inara malam ini.
"Apa kamu lakukan Al? Tidakkah kau menghargai ku barang sedikit saja? Apa kau benar-benar marah kepada ku?" ucap Kikan pada diri sendiri sambil menatap ke arah Alvaro yang terlihat mulai masuk ke dalam kamar Inara, membuat tatapan Kikan kian terasa sendu yang bercampur dengan kilatan amarah.
Entah apa yang ada dipikiran Kikan saat ini tapi yang jelas Kikan tidak menyukai kedekatan Alvaro saat ini. Ada sebuah perasaan cemburu serta amarah ketika melihat suaminya kian menjauh dari dirinya.
Sampai kemudian sebuah suara yang mengejutkan Kikan yang tengah termenung di tangga, lantas langsung membuyarkan lamunannya dengan seketika.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sekarang kamu sidah benar-benar merasakannya? Lagi pula sedari awal Mama sudah memperingatkan mu berkali-kali, namun kau sama sekali tidak menggubrisnya. Jika sudah begini.. Kamu baru tahu rasa kan?" ucap sebuah suara yang berasal dari Tamara.
"Sudahlah Ma, lagipula Inara juga istrinya Alvaro jadi Mama jangan terus mempengaruhi ku!" ucap Kikan dengan nada yang kesal sambil mulai berbalik badan dan kembali menuju ke kamar utama untuk pegi tidur.
"Apa yang kamu lakukan? Kikan... Ki..." panggil Tamara ketika mendapati Kikan malah berlalu pergi meninggalkan dirinya.
"Dasar anak bodoh!" ucap Tamara dengan raut wajah yang kesal sambil mulai membawa langkah kakinya turun ke arah bawah karena memang tujuannya semula keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.
***
Sementara itu yang sebenarnya terjadi saat itu adalah...
Tok tok tok
Beberapa kali mengetuk pintu pada akhirnya pintu kamar Inara perlahan-lahan mulai terbuka memunculkan Inara dengan muka bantalnya.
"Ada apa mas?" tanya Inara sambil mengucek kelopak matanya beberapa kali.
"Em Ra... Apa kamu tidak lapar? Kita keluar yuk makan..." ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara mengernyit ketika mendengarnya.
"Malam-malam begini? Mana ada yang buka mas?" ucap Inara kemudian.
"Ada.. Tinggal kamu saja ingin pergi atau tidak..." ucap alvaro kemudian.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan mengambil jaket.." ucap Inara kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Alvaro.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut Inara kemudian lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah lemari pakaian yang terletak di sudut ruangan kamar. Kamar di lantai bawah ukurannya lebih kecil daripada yang terletak di lantai atas yaitu kamar utama. Sehingga jika kalian tanya apakah ada walk in closet? Jawabannya tentu saja tidak ada. Hanya ada Almari pakaian dengan ukuran yang besar, satu meja rias, dan juga sofa panjang di mana tepat di hadapannya ada sebuah televisi LED yang bisa Inara gunakan untuk menonton.
Inara yang sedikit terburu-buru karena takut Alvaro keburu lapar, lantas melangkahkan kakinya lebih cepat hingga tanpa sadar kakinya menginjak keset kamar mandi yang sedikit licin yang langsung membuatnya terhuyung dengan seketika.
"Akh..."
Alvaro yang melihat Inara hampir terjatuh tentu saja langsung berlarian sambil berusaha menangkap tubuh Inara sebelum tubuhnya mengenai lantai kamar tersebut. Inara benar-benar bersyukur karena Alvaro tepat waktu menyelamatkannya, jika sampai telat sedikit saja mungkin Inara akan kembali berakhir di Rumah sakit.
"Bisakah kamu hari-hati? Mengapa kamu ceroboh sekali?" ucap Alvaro sambil membantu Inara berdiri.
"Aku minta maaf..." ucap Inara dengan kepala yang menunduk seakan merasa bersalah.
"Ya sudah, lain kali hati-hati.. Apa sekarang kamu sudah siap?" tanya Alvaro kemudian yang lantas di balas Inara dengan anggukan kepala.
"Jika begitu ayo kita pergi sekarang..." ajak Alvaro sambil menggandeng tangan Inara dengan erat mulai membawa langkah kakinya keluar dari kamar Inara.
***
Kamar utama
Di area kamar utama terlihat Kikan tengah menatap kosong ke arah depan. Di temani hembusan angin malam itu, Kikan terlihat berdiri tepat di area balkon kamarnya saat itu. Seulas senyuman terlihat dengan jelas di wajahnya begitu ia melihat Alvaro dan juga Inara baru saja keluar mengendarai mobil meninggalkan Mansion ini.
"Aku sudah berusaha hingga sampai ke titik ini Al, semua perjuangan ku mendapatkan mu tidaklah di peroleh dengan mudah. Seorang pendatang baru seperti Inara, bukankah seharusnya tidak pernah ada?" ucap Kikan sambil menatap ke arah mobil milik Alvaro yang melaju meninggalkan kediamannya.
Bersambung
__ADS_1