
Ruang operasi
Situasi tegang khas Ruangan operasi begitu terasa di ruangan tersebut. Suara detak jantung Inara yang berasal dari alat Electrocardiogram terdengar menggema mengiri proses persalinan bayi pertama mereka.
Seorang suster nampak menyeka keringat yang membasahi kening sang Dokter. Sampai kemudian suara tangis dari seorang bayi yang berhasil di keluarkan lantas terdengar di sana.
Oek oek oek...
Tit tit tit...
Bunyi suara ECG terdengar menggema dan mengejutkan beberapa perawat, tekanan darah Inara terus naik dengan penurunan kerja jantung yang membuat beberapa perawat mulai terlihat panik saat itu.
"Dok tekanan darahnya terus naik..." ucap seorang perawat.
Mendengar hal tersebut Dokter tersebut nampak menatap ke arah layar Electocardiogram. Hingga kemudian suara bunyi panjang terdengar menggema di sana dan membuat suasana kian tegang.
Tittttttt
"Lakukan CPR!" perintah Dokter tersebut yang mulai terlihat menekan area dada Inara dan mencoba untuk memberikan pertolongan kepada Inara.
***
Di sebuah taman dengan bunga-bunga yang terlihat bermekaran indah saat itu, nampak Inara tengah melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke arah tengah taman tersebut.
Inara tersenyum dengan simpul ketika melihat seorang wanita dengan pakaian serba putih yang hampir sama dengan yang ia gunakan saat ini.
"Suster Lina? Apa yang Suster lakukan di sini?" tanya Inara yang lantas membuat Lina langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
Lina nampak tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Inara, agar Inara mendekat ke arahnya saat itu.
"Ada apa Sus?" tanya Inara dengan raut wajah yang penasaran.
"Terima kasih banyak karena kamu tidak menaruh dendam kepada ku, aku benar-benar sadar jika posisi ku dalam hubungan ini hanya mencintai. Sepertinya rasa cinta ku kepada Karan begitu besar, hingga membuat ku buta dan tidak bisa melihat keadaan sekitar." ucap Lina sambil menatap lurus ke arah depan.
"Aku bersyukur karena kamu menyadari hal tersebut pada akhirnya, aku rasa Karan bukanlah Pria yang baik. Bukankah masih banyak Pria di sana yang menanti mu? Jadi jangan terlalu bersedih." ucap Inara mencoba untuk menyemangati Lina.
__ADS_1
"Kau benar, aku berharap bisa mendapatkan pasangan yang seperti dirimu. Bukankah pak Alvaro adalah suami idaman?" tanya Lina dengan nada yang menggoda.
"Tentu saja"
Tawa riang terdengar begitu menggema di sana, membuat beberapa hal nampak semakin begitu indah. Sampai kemudian Inara yang seakan merasa penasaran dengan satu hal, mulai terlihat menatap ke arah Lina saat itu.
"Lalu, apa rencana mu selanjutnya?" ucap Inara dengan tiba-tiba.
"Tentu saja pergi ke tempat yang lebih indah dari di mana aku tinggal." ucap Lina sambil tersenyum simpul.
"Bolehkah aku ikut bersama dengan mu?" ucap Inara dengan tiba-tiba.
Raut wajah yang semula tersenyum mendadak berubah menjadi suram. Cuaca yang tadinya cerah perlahan-lahan mulai berubah menjadi mendung, yang lantas membuat Inara kebingungan karenanya.
"Apa yang terjadi?" ucap Inara dengan raut wajah penasaran.
"Belum waktunya kamu ikut dengan ku! Bukankah kamu terus merengek meminta ku untuk menyelamatkan mu?" ucap Lina namun kali ini dengan nada yang dingin.
"Tapi aku juga ingin pergi bersama dengan mu." ucap Inara sambil berusaha menggapai tangan Lina saat itu.
***
Ruangan operasi
Dokter yang melihat detak jantung Inara berhenti saat itu, dengan sekuat tenaga mencoba untuk melakukan pertolongan. Dimulai dari CPR menggunakan alat kejut jantung, hingga dengan cara manual.
Ketika rasa putus asa mulai menyerang Dokter tersebut dan menganggap jika Inara telah tiada. Mendadak kelopak mata Inara lantas terbuka dengan lebar, disertai dengan deru nafas yang memburu. Membuat Dokter tersebut mulai terlihat turun dari ranjang pasien dan langsung mengecek kondisi Inara saat itu.
"Pompa oksigennya secara perlahan, kita selesaikan pekerjaan kita." ucap Dokter tersebut yang lantas di balas beberapa perawat dengan anggukan kepala.
***
Ruangan tunggu
Sudah hampir 15 menit sejak Alvaro mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan operasi. Anehnya tak ada satu pun tanda-tanda Dokter keluar dari sana dan memberitahukan hasilnya. Alvaro nampak mondar-mandir dengan raut wajah yang gelisah, membuat Kikan yang memilih untuk tetap tinggal saat itu nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alvaro berada.
__ADS_1
"Duduklah sebentar dan tenangkan dirimu, percayalah jika Inara mampu melewati ini semua." ucap Kikan dengan nada yang lembut membuat Alvaro langsung menoleh ke arah sumber suara.
Sambil menghela napasnya dengan panjang, Alvaro mulai menuruti perkataan Kikan dan mengambil posisi duduk di sana.
Sampai kemudian sebuah suara pintu operasi yang terbuka, membuat Alvaro yang baru saja mengambil posisi duduk langsung bangkit kembali dari tempat duduknya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang penuh ke khawatiran.
"Proses persalinannya berlangsung dengan lancar, hanya saja sempat terjadi henti jantung tepat ketika operasi berlangsung, beruntung kami bisa membawanya kembali. Saat ini kondisinya masih belum stabil, saya akan memindahkan pasien ke ruang ICU untuk sementara waktu, setelah nanti dia sadar kita akan pantau kembali perkembangannya." ucap Dokter tersebut disusul dengan beberapa perawat yang nampak mendorong brankar pasien Inara.
Raut wajah pucat terlihat jelas di sana, apalagi dengan beberapa alat yang di tempel pada tubuh Inara, membuat Alvaro begitu tidak tega melihat keadaan Inara saat itu.
Kikan yang tahu jika Alvaro tengah bersedih saat ini hanya bisa menepuk bahu Pria itu dengan perlahan, sebelum pada akhirnya berlalu pergi mengikuti beberapa perawat yang membawa Inara pergi saat itu.
***
Area taman Rumah sakit
Setelah mendapat panggilan telpon dari Tamara sebelumnya, Kikan nampak melangkahkan kakinya dengan langkah kaki bergegas menuju ke area taman.
Dari kejauhan terlihat Tamara sedang berdiri menatap ke arahnya dengan bersendekap dada. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Ibunya saat itu, tapi yang jelas ia juga melihat Agam bersama dengan Tamara di sana.
"Papa juga ada di sini?" tanya Kikan dengan raut wajah yang bingung.
"Iya, Papa tadi habis menjemput Mama mu agar tidak melakukan hal yang lebih memalukan lagi." ucap Agam dengan nada yang kesal, membuat Kikan lantas mengernyit begitu mendengar perkataan Agam barusan.
"Apa maksud Papa sebenarnya? Apa yang Mama lakukan memangnya?" tanya Kikan dengan raut wajah yang penasaran.
"Jangan coba-coba untuk menuduh ku Pa, aku hanya mencoba untuk mengusir ulat gatel itu saja. Apa kau pikir aku senang melihat dia berkeliaran di kota ini?" timpal Tamara dengan nada menyindir.
"Ma...." panggil Agam dengan nada memanjang, membuat Kikan semakin kebingungan.
"Diam lah sebentar Pah... Tunggu.. Bukankah dia?" ucap Tamara kemudian yang tanpa sengaja malah melihat seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui kembali.
Bersambung
__ADS_1