Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Sebuah rasa yang tersembunyi


__ADS_3

Rumah sakit


Terlihat Inara tengah mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Sambil mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya Inara nampak menatap ke arah atap ruangan tersebut. Inara nampak mendengus dengan kesal ketika ia mencium bau khas obat-obat di hidungnya saat itu.


"Mengapa aku selalu saja berakhir di tempat ini, ayolah dek.. Jangan membuat Mama terus berakhir di sini." ucap Inara sambil mengusap perutnya secara perlahan.


Inara benar-benar bersyukur jika bayi kembali selamat kali ini. Entah apa yang akan terjadi kepada dirinya, jika sampai bayinya tidak selamat.


Sebuah pemikiran konyol mendadak tercetus di benaknya saat itu, ketika Inara tengah mengusap perutnya secara perlahan.


"Jika kamu pergi.. Apakah Ayah akan tetap menerima Ibu nak? Kehadiran Ayah di dekat Ibu adalah karena kehadiran mu, lalu bagaimana jika kamu pergi dan meninggalkan Ibu? Apakah Ayah juga akan pergi seperti mu?" ucap Inara dengan nada yang lirih.


Entah mendapat pemikiran dari mana, namun yang jelas hal tersebut mendadak terlintas di benak nya begitu saja. Inara tidak tahu jika hal itu benar-benar terjadi, akankah Alvaro tetap berada di sisinya? Atau malah kembali kepada Kikan? Inara sendiri bahkan tidak tahu mana yang akan terjadi ke depannya.


Hembusan napas kasar terdengar jelas keluar dari mulut Inara saat itu. Sampai kemudian sebuah suara pintu yang terbuka saat itu, lantas langsung membuat Inara bangkit dari posisi tidurnya saat itu.


"Kamu sudah sadar?" ucap sebuah suara yang berasal dari Bella.


Inara yang mendengar pertanyaan dari Bella barusan hanya tersenyum dengan simpul. Membuat Bella yang mendapati hal tersebut memutuskan semakin melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada saat ini.


"Bagaimana keadaan mu? Apakah ada keluhan lain?" ucap Bella kemudian kembali bertanya.

__ADS_1


"Tidak ada, sejauh iki aku baik. Apakah bayi ku dalam keadaan baik-baik saja?" ucap Inara dengan raut wajah yang khawatir.


"Semuanya dalam kondisi baik jika kamu bisa menjaga emosi mu, kurangi stres karena itu akan berpengaruh kepada bayi yang ada di dalam kandungan mu." ucap Bella sambil mengusap perut Inara yang terlihat membuncit itu.


"Syukurlah, lalu em..." ucap Inara menggantung sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar seakan tengah mencari keberadaan seseorang.


"Apakah kamu tengah mencari Alvaro? Dia masih belum kembali sejak tadi. Aku rasa ada urusan mendadak yang membuatnya pergi dengan tergesa-gesah tadi." ucap Bella kemudian yang seakan tahu jika saat ini Inara tengah mencari keberadaan Alvaro.


"Oh seperti itu rupanya." ucap Inara dengan raut wajah yang sendu.


Bella yang mendapati raut wajah milik Inara saat itu, tentu saja langsung mengernyit dengan raut wajah yang bingung. Entah apa yang terjadi dengan perubahan raut wajah tersebut, membuat Bella lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Apa maksud perkataan mu? Pelet? Pelet apa?" ucap Inara yang tidak mengerti akan pembahasan ini.


Hening sesaat tepat ketika perkataan tersebut keluar dari mulut Inara. Sampai kemudian suara galak tawa yang menggema terdengar di ruangan tersebut, membuat Inara semakin tidak mengerti akan tingkah Bella saat ini.


"Aku bercanda, apakah menurut mu hal ini sama sekali tidak lucu? Ayolah Ra tertawa lah sesekali, jangan terlalu serius seperti itu." ucap Bella sambil menepuk pundak Inara beberapa kali, membuat helaan napas besar terdengar berhembus jelas dari mulut Inara saat itu.


"Baiklah-baiklah aku hanya bercanda, jangan terlalu serius begitu Ra. Aku minta maaf ya... Kalau aku keterlaluan." ucap Bella kemudian yang merasa bersalah atas lawakannya yang sama sekali tak membuat Inara tersenyum karenanya.


"Sudahlah lupakan, aku sama sekali tidak memikirkan akan hal tersebut. Lagi pula apa yang aku alami nyatanya membuat ku terlihat selalu tegang, entah mengapa aku sering merasa was-was. Apakah menurut mu ini adalah sebuah karma dari seorang pelakor?" ucap Inara dengan raut wajah yang sendu.

__ADS_1


"Hei apa yang kamu katakan? Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak seperti ini. Nyatanya bagiku kamu adalah seorang penyelamat, apakah kamu tahu itu?" ucap Bella yang membuat Inara penasaran akan maksud dari perkataan Bella barusan.


"Penyelamat? Apa maksud perkataanmu barusan? " ucap Inara dengan raut wajah yang bertanya-tanya.


"Iya, kamu menyelamatkan Alvaro di waktu yang tepat. Kamu tahu bukan? Jika kami bertiga berteman, namun terlepas dari itu Kikan bukanlah wanita yang baik bagi Alvaro. Ada beberapa hal yang membuat ku tidak menyukainya." ucap Bella dengan berterus terang.


"Lalu jika begitu mengapa kaku tidak mencegah pernikahan keduanya dulu?" ucap Inara yang tidak terlalu mengerti akan perkataan Bella barusan.


"Sebagai seorang teman aku tentu sudah memberikan nasehat berulang kali kepada Alvaro. Namun terlepas dari semua itu, keputusan tetap berada di tangan Alvaro dan juga Kikan, aku sama sekali tidak bisa ikut campur dan terus membujuk mereka untuk tidak jadi menikah. Lagi pula apa hakku? bukankah begitu Ra?" ucap Bella dengan nada yang terdengar begitu getir.


Perkataan Bella barusan tentu saja langsung membuat Inara terdiam dengan seketika. Sebagai seorang wanita, Inara tentu tahu kemana arah pembicaraan Bela saat ini. Terlihat dengan jelas gurat wajah kesedihan serta nada suara yang serak terus memenuhi raut wajah Bella saat itu. Membuat dugaan Inara yang merasa jika Bella pernah menaruh perasaan kepada Alvaro, lantas semakin menguat dengan adanya pengakuan dari Bella barusan.


Inara nampak menatap semakin dalam pada manik mata wanita itu, membuat Bella yang tidak terlalu menyadari akan tatapan dari Inara saat ini hanya bisa menatap kosong ke arah depan. Entah apa yang membuatnya melamun saat itu. Namun sepersekian detik berikutnya, Bella mencoba untuk tersenyum dan menatap ke arah Inara yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Ada Ra? Sepertinya aku sudah terlalu berlebihan ya? Maaf.. Kalau begitu istirahatlah kembali, aku yakin sebentar lagi Alvaro pasti akan kembali dan menemui mu." ucap Bella sambil bangkit dari posisinya sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Inara seorang diri di sana.


Bella yang terlalu terbawa suasana memutuskan untuk membawa langkah kakinya pergi dari sana. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Inara, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Apa kamu pernah menaruh hati pada mas Alvaro?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2