Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Mengapa kau begitu jahat?


__ADS_3

Alvaro yang tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada istrinya, lantas melangkahkan kakinya dengan bergegas naik ke atas untuk melihat apa yang sedang terjadi kepada Kikan saat ini.


Dengan langkah kaki yang lebar Alvaro terlihat membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamarnya dan mencari keberadaan Kikan di sana. Hanya saja ketika Alvaro masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Kikan, namun sayangnya Kikan tidak ada di dalam kamar membuat Alvaro langsung mengernyit dengan seketika.


"Sayang kamu dimana? Aku benar-benar minta maaf karena telah membuat baju mu kotor, aku sungguh tidak bermaksud... Sayang... Sayang katakanlah sesuatu." ucap Alvaro sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar seakan mencoba mencari keberadaan Kikan di sana.


Hening sesaat tak ada jawaban apapun dari Kikan, sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari arah kamar mandi, lantas langsung membuat Alvaro melangkahkan kakinya mendekat ke arah sumber suara.


"Aku baik-baik saja Al tak perlu khawatir, kau pergilah saja membantu Inara di bawah." ucap sebuah suara yang lantas membuat Alvaro cemberut ketika mendengarnya.


Kedatangan Alvaro saat ini bahkan karena merindukan Kikan yang tak pulang semalam, namun Kikan malah menyuruhnya untuk turun dan menemani Inara saat ini.


"Apakah kamu yakin? Tidakkah kamu merindukan ku Ki?" tanya Alvaro berharap jika sang istri mengatakan merindukannya barang sekali saja.


"Jangan bercanda Al! kita bahkan bertemu setiap hari di rumah, kamu bisa melihat dan bertemu dengan ku kapan pun kamu mau." ucap Kikan kembali menyahuti perkataan Alvaro barusan.


"Tidakkah kamu ingin mandi bersama dengan ku?" ucap Alvaro kemudian tanpa pantang menyerah.


Entahlah sejak kedatangan Inara ke rumah, Alvaro merasa semakin jauh dengan Kikan. Seakan waktu berdua yang biasanya bisa mereka lewati sepanjang waktu menjadi berkurang, yang malah membuat hubungan keduanya menjadi semakin terasa renggang.


Lama tak ada jawaban apapun dari dalam kamar mandi, sampai kemudian sebuah penolakan lantas terdengar dan membuat kecewa Alvaro saat itu.


"Ini bahkan masih siang bolong Al, aku sedang tidak ingin mandi sekarang!" ucap Kikan menolak ajakan Alvaro untuk mandi bersama.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di bawah." ucap Alvaro pada akhirnya dengan raut wajah sendu yang tentu saja tidak akan bisa dilihat oleh Kikan.

__ADS_1


Dengan perasaan yang kecewa Alvaro lantas mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kamar utama. Satu penolakan benar-benar telah mematahkan hati Alvaro dan membuatnya sedih.


***


Kamar mandi


Disaat Alvaro terus mengajak Kikan untuk berbicara, yang di lakukan oleh Kikan malah terus mencuci tangannya tanpa henti. Entah mengapa Kikan merasa noda yang satu itu sulit sekali untuk dihilangkan walau di cuci selama berulang kali.


"Mengapa aku tidak bisa menghilangkan nodanya, mengapa masih ada?" ucap Kikan sambil terus berusaha membasuh tangannya.


Padahal jika dilihat dari mata telanjang kondisi tangan Kikan saat ini bersih tanpa noda sedikit pun, namun bayangan ketika bagaimana Alvaro juga Inara bersama dan berbagi canda tawa, membuat Kikan merasa jika tangannya sangat kotor karena tersentuh oleh Alvaro sebelumnya.


Kikan menggosok dan terus menggosok kedua tangannya. Sampai kemudian suara Alvaro yang kembali terdengar dan mengajaknya untuk mandi bersama lantas menghentikan gerakan tangannya dengan seketika.


"Tidakkah kamu ingin mandi bersama dengan ku?" ucap Alvaro kemudian tanpa pantang menyerah.


Kikan sungguh tidak bisa menjalani kehidupan seperti ini, tapi bayangan bagaimana Alvaro menginginkan seorang putra lantas membuatnya tak berdaya untuk mengatakan jika hatinya begitu sakit saat ini. Kikan mengusap air matanya yang mulai jatuh dan membasahi pipinya saat itu. Sambil menarik napasnya dalam-dalam Kikan kemudian kembali mengeluarkan suaranya.


"Ini bahkan masih siang bolong Al, aku sedang tidak ingin mandi sekarang!" ucap Kikan menolak ajakan Alvaro untuk mandi bersama.


Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya Kikan langsung menutup mulutnya dengan rapat menggunakan tangannya. Tangisnya kini bahkan sudah pecah namun Kikan berusaha untuk membuat Alvaro agar tidak mendengar isak tangisnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di bawah." ucap Alvaro pada akhirnya dengan raut wajah sendu yang tentu saja tidak akan bisa dilihat oleh Kikan.


Kikan jelas tahu dari nada suaranya Alvaro terdengar begitu kecewa ketika mendapat penolakan darinya. Padahal terakhir kali keduanya melakukan mandi bersama sudah lama sekali dan saat ini ketika Alvaro memintanya, Kikan malah menolaknya mentah-mentah. Tentu saja hal tersebut pasti akan membuat Alvaro begitu kecewa ketika mendengarnya secara langsung dari Kikan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini, aku benar-benar tidak tahu...." ucap Kikan dengan sesenggukan.


***


Malam harinya


Inara yang masih belum mengantuk malam ini, lantas terlihat menuruni anak tangga menuju ke arah dapur untuk membuat secangkir susu hangat yang mungkin bisa membawanya berlayar menuju ke pulau impian setelah meminumnya.


Dengan langkah kaki yang perlahan Inara mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah dapur, hanya saja langkah kaki Inara langsung terhenti seketika begitu melihat Kikan tengah berdiri sambil termenung memegang gelas berisi air minum di tangannya.


Sambil mulai mengatur napasnya, Inara yang melihat Kikan juga berada di dapur lantas mulai membawa langkah kakinya secara perlahan mendekat ke arah dimana Kikan berada saat ini hendak langsung menyapa istri pertama Alvaro tersebut.


"Mbak Kikan belum tidur?" ucap Inara kemudian yang lantas membuyarkan segala pemikiran Kikan saat itu.


"Ah Inara, belum.. Kamu juga belum mengantuk saat ini? Mengapa tidak pergi tidur?" tanya Kikan kemudian yang lantas dibalas Inara dengan senyuman.


"Entahlah, malam ini rasanya aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku. Aku ingin membuat susu panas, apa kamu mau juga mbak? Setiap aku tidak bisa tidur Ibu selalu membuatkan ku susu coklat, apa mbak Kikan mau juga?" ucap Inara mulai bercerita yang lantas membuat Kikan memperhatikan setiap gerak-gerik Inara sedari tadi.


"Tidak perlu, terima kasih banyak atas tawarannya." ucap Kikan dengan nada yang datar.


Mendengar penolakan dari Kikan barusan lantas membuat Inara langsung mengangguk tanda mengerti. Karena Kikan menolak tawarannya membuat Inara lantas hanya mengambil satu buah gelas secara acak untuk membuat sebuah minuman susu panas untuknya.


Ketika keheningan terjadi diantara keduanya sebuah suara yang berasal dari Kikan lantas menghentikan gerakan tangan Inara dan langsung mengejutkannya.


"Mengapa kamu begitu jahat Ra, hingga suami ku kau rebut dengan begitu santainya?" ucap Kikan dengan nada yang datar membuat Inara terkejut begitu mendengarnya saat itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2