Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Sebuah firasat


__ADS_3

Basement Apartment


Di bawah sebuah mobil dengan warna hitam metalik, terlihat seseorang tengah mengotak atik sesuatu di sana.


Setelah melakukan tugasnya Pria itu nampak keluar dari sana, yang ternyata ia adalah Karan.


Ditatapnya mobil tersebut dengan seulas senyuman yang mengembang.


"Aku ingin tahu apakah kamu bisa lolos saat ini Tuan muda Alvaro..." ucap Karan dengan nada yang terdengar sinis sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan area Basement.


***


Apartment Alvaro


Pagi itu Alvaro sudah terlihat bersiap untuk pergi ke kantor, di meja makan Inara nampak meletakkan beberapa hidangan sarapan pagi untuk Alvaro saat itu. Alvaro tersenyum dengan simpul ketika menatap raut wajah istrinya yang nampak begitu cantik saat ini.


"Mengapa kamu repot-repot? Sudah ku bilang untuk istirahat saja, bukan?" ucap Alvaro sambil mengecup puncak kepala Inara.


"Jangan melarang ku karena ini sudah menjadi kewajiban ku, untuk masalah baby ini kamu tidak perlu khawatir dia sama sekali tidak rewel." ucap Inara sambil mengusap perut buncitnya itu.


"Benarkah... Sepertinya aku harus memberinya hadiah untuk itu. Apa malam ini aku harus berkunjung dan menjenguknya?" ucap Alvaro sambil mengusap perut Inara dengan lembut dan langsung menggoda istrinya itu.


Mendengar perkataan Alvaro barusan lantas membuat wajah Inara memerah dengan seketika. Entah mengapa pembahasan ini benar-benar membuatnya begitu tersipu malu. Dipukulnya pelan area pundak Alvaro saat itu, membuat Alvaro lantas tertawa dengan geli karenanya.


"Jangan bercanda! Kamu benar-benar menyebalkan..." ucap Inara sambil menatap kesal ke arah Alvaro saat itu.


Alvaro hanya tersenyum dengan simpul kemudian meminum kopi di gelasnya dan mengambil sandwich buatan Inara.


"Aku berangkat ya sayang, ada rapat pagi ini dan aku harus pergi sekarang." ucap Alvaro sambil mengecup kening Inara dengan lembut.


"Apa kamu tidak mau menghabiskan sarapan mu dulu." ucap Inara sambil menatap tingkah suaminya itu yang terlihat berjalan sambil memakan sandwich di tangannya.


"Tidak perlu Ra.. Aku akan memakannya di jalan, sampai jumpa..." ucap Alvaro dengan tersenyum simpul sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Inara tersenyum menatap kepergian Alvaro saat itu, namun detik berikutnya jantungnya mendadak berdebar begitu kencang disertai perasaan yang tidak enak menyerang dirinya. Digenggamnya sudut meja saat itu dengan kuat, entah mengapa perasaan Inara mendadak menjadi tidak enak.


"Ada apa dengan ku? Mengapa secara tiba-tiba jadi seperti ini?" ucap Inara sambil menatap ke arah pintu unit Apartment Alvaro saat itu.


Inara yang merasa tidak tenang saat itu lantas menarik napasnya secara perlahan, seakan mencoba untuk menenangkan hatinya saat itu.


Sampai kemudian ketika merasa sudah lebih tenang, baru lah ia menuju dapur dan membawa sepiring sandwich yang hendak ia berikan kepada Alika.


"Semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi." ucap Inara dengan nada yang terdengar begitu lirih.


***


Ting


Suara pintu lift yang terbuka saat itu lantas membuat Alvaro mulai membawa langkah kakinya keluar dari lift tersebut.


"Apa kamu sudah menyiapkan dokumen yang aku minta sebelumnya?" ucap Alvaro dengan seseorang di seberang sana sambil terus membawa langkah kakinya menuju ke area basement, dimana mobilnya diparkir saat ini.


"Sudah Pak, saya juga sudah menyiapkan beberapa contoh yang mungkin bisa anda gunakan untuk sampel." ucap Abi di seberang sana.


"Baik Pak." ucap Abi sebelum pada akhirnya Alvaro menutup sambungan telponnya saat itu.


Setelah sambungan telponnya terputus Alvaro kemudian menekan tombol kunci, yang lantas membuat mobil miliknya berkedip beberapa kali. Dibukanya pintu mobil miliknya dan masuk secara perlahan ke dalam.


"Hari ini aku akan pastikan pekerjaan ku selesai sebelum sore, entah mengapa aku sudah sangat merindukan Inara." ucap Alvaro sambil tersenyum dengan simpul, sebelum pada akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan area Apartment.


**


Sementara itu tanpa Alvaro sadari tepat setelah mobil miliknya melaju pergi dari area basement, terlihat Karan tengah menatap ke arahnya dengan senyuman yang mengembang. Karang benar-benar yakin jika kali ini Alvaro pasti tidak akan selamat.


Setidaknya dengan begitu Karan memberikan sedikit waktu kepada Inara untuk merasakan apa yang ia rasakan setelah kepergiaan Arin waktu itu. Selanjutnya baru ia akan menghabisi Inara dan mengirimnya ke neraka sama seperti Alvaro. Tidak ada kata menyerah dalam dirinya karena apa yang telah dilakukan Alvaro benar-benar membuatnya sakit hati sebagai seorang Kakak.


"Satu masalah akan selesai dengan cepat, selanjutnya aku akan membuat istrinya menyusul kepergian suaminya dengan cepat. Setidaknya aku tidak terlaku jahat bukan? Karena membiarkan salah satu dari mereka pergi ke neraka seorang diri." ucap Karan dengan nada yang penuh penekanan sambil tersenyum merekah menatap ke arah mobil Alvaro yang sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya saat ini.

__ADS_1


***


Lorong unit Apartment Chris


Chris yang pagi itu ingin membuang sampah lantas terlihat membuka pintu unit Apartemennya begitu saja. Ada perasaan terkejut dalam diri Chris ketika mendapati jika Inara sedang dalam posisi terbengong di depan pintu unit Apartemennya saat ini.


"Ra apa kamu baik-baik saja?" ucap Chris sambil menepuk pundak Inara saat itu.


"Ah iya aku baik-baik saja.. Aku.. Aku datang ke sini untuk membawakan Alika sarapan pagi buatan ku." ucap Inara kemudian yang langsung tersadar dari lamunannya karena tepukan di pundak barusan.


"Apa kamu yakin? Sepertinya kamu sedikit kurang sehat saat ini." ucap Chris yang khawatir melihat wajah pucat Inara.


"Entahlah perasaan ku tiba-tiba menjadi tidak enak." ucap Inara sambil menyerahkan kotak berisi sandwich bikinannya.


"Apa ada sesuatu yang membuat mu begitu gelisah?" ucap Chris lagi yang seakan masih penasaran akan Inara.


"Aku juga tidak tahu dengan jelasnya, sudahlah aku rasa ini hanya pikiran ku saja yang tengah kacau. Sampaikan salam ku pada Alika aku pulang dulu." ucap Inara kemudian yang seakan tak ingin mengambil pusing sama sekali.


Chris yang melihat kepergian Inara setelah memberikan sandwich buatannya, hanya bisa menatap kepergian Inara dengan raut wajah yang cemas.


"Semoga tidak ada sesuatu yang terjadi." ucap Chris sebelum pada akhirnya kembali masuk ke dalam untuk meletakkan pemberian Inara terlebih dahulu.


***


Sementara itu Alvaro yang dikejar waktu lantas melaju dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalanan ibu kota saat itu.


Seulas senyum terlihat terbit di wajah tampan milik Alvaro ketika mengingat wajah cantik Inara saat ini.


"Entah mengapa aku sudah merindukannya." ucap Alvaro kemudian yang terlihat mulai menurunkan kecepatannya ketika mengingat wajah Inara tengah menunggunya di rumah.


Hanya saja sayangnya ketika Alvaro hendak menginjak rem mobilnya, ia sedikit terkejut karena ternyata remnya tidak berfungsi saat ini.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2