
"Apa-apaan ini?" pekik Ambar yang terkejut akan hal tersebut.
Tidak hanya Ambar yang terkejut bahkan semua orang yang tengah berkumpul di sana ikut terkejut akan tingkah laku Alvaro yang membanting belanjaan tersebut ke atas meja. Kkan yang melihat Alvaro nampak begitu marah, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah Alvaro sambil mengusap pundak Alvaro dengan perlahan seakan mencoba untuk menenangkan Alvaro saat ini.
"Ada apa ini Al?" ucap Kikan dengan nada yang lembut membuat Alvaro lantas langsung menatap ke arah Kikan dengan kilatan amarah yang terlihat jelas pada manik matanya saat itu.
"Siapa yang menyuruh Inara untuk berbelanja?" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar tidak enak.
Salah seorang teman Kikan nampak bangkit dari tempat duduknya saat itu sambil mengambil posisi bersendekap dada menatap ke arah Alvaro dengan santai.
"Aku yang menyuruhnya? Lalu apa masalahnya bukankah dia hanyalah seorang pembantu?" ucapnya dengan nada yang santai namun berhasil membuat Inara langsung menunduk karenanya.
"Siapa yang mengatakan hal itu?" ucap Alvaro kemudian yang tentu saja membuat terkejut semua orang.
"Apa yang salah dengan suami mu Ki? Bukankah kau tadi mengatakan jika dia adalah art mu?" ucap Ambar kemudian yang tentu saja langsung membuat Kikan terkejut begitu pula dengan Alvaro.
Alvaro yang mendengarnya dengan jelas lantas langsung menoleh ke arah Kikan seakan mencoba mempertanyakan hal tersebut lewat sorot mata Alvaro yang tajam. Sedangkan Kikan yang tersudut kemudian berusaha untuk bersikap tenang dan tersenyum, membuat Alvaro langsung mengernyit dengan seketika begitu melihat ekspresi raut wajah Kikan saat ini.
"Ada apa dengan mu jeng? Aku bahkan tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada kalian, kalian sendiri lah yang menyimpulkannya. Apakah aku pernah mengatakan kepada kalian jika Inara adalah art ku? Tidak kan?" ucap Kikan menyangkal yang lantas membuat semua teman-teman arisannya kebingungan ketika mendengar hal tersebut.
"Tapi tadi kamu bahkan..." ucap yang lainnya hendak mengatakan sesuatu namun langsung terpotong akan perkataan Kikan saat itu.
__ADS_1
"Tak perlu marah-marah Al mereka tidak tahu apa-apa, lagi pula soal belanjaan tersebut Inara sendiri yang mau melakukannya. Iya kan Ra?" ucap Kikan sambil mengusap lembut pundak Alvaro.
Alvaro yang mendengar hal tersebut lantas langsung melirik ke arah Inara yang saat itu terlihat sedang menunduk menandakan jika apa yang dikatakan oleh Kikan bukanlah sepenuhnya benar. Alvaro yang terlanjur marah akan sikap mereka semua yang memperlakukan Inara seperti ini lantas menghempaskan tangan Kikan secara perlahan dari pundaknya, yang tentu saja membuat Kikan terkejut begitu mendapati hal tersebut.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan, hanya saja asal kalian tahu jika Inara bukanlah art kami dia adalah..." ucap Alvaro namun terhenti akan perkataan Kikan yang tiba-tiba.
"Sebaiknya kita pulang saja Al, Inara pasti lelah bukan?" ucap Kikan kemudian yang lantas membuat Alvaro menoleh ke arah sumber suara.
"Aku akan mengantarnya pulang, sedangkan kamu terserah apa yang akan kamu lakukan di sini bersama dengan mereka." ucap Alvaro kemudian sambil menggenggam erat tangan Inara berlalu pergi dari hadapan yang lainnya.
Mendapati perlakuan Alvaro yang seperti itu lantas membuat Kikan mengepalkan tangannya dengan erat. Ia benar-benar merasa di permalukan oleh keduanya di sini, membuat tatapan sinis dan juga penuh kebencian terlihat jelas pada manik mata Kikan ketika melepas kepergian keduanya saat itu.
"Aku pulang... Siapapun yang dapat hari ini aku ucapkan selamat, untuk pembayarannya aku akan langsung transfer ke nomer rekeningnya nanti." ucap Kikan kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan teman-temannya.
Setelah kepergian Kikan dari tempat tersebut lantas membuat semua orang langsung saling pandang antara satu sama lainnya. Isi pikiran mereka saat ini penuh dengan gosip yang mengembang begitu saja di kepala mereka seakan membuat semua orang seperti di komando untuk memikirkan hal yang sama saat itu.
"Tidakkah kalian memikirkan hal yang sama dengan ku?" ucap Silvi kemudian mulai membuka pembicaraan yang lantas membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya saat itu juga.
"Kau benar, mungkinkah Inara adalah simpanan dari Alvaro? Dan Alvaro marah ketika Kikan mengerjai simpanannya?" ucap Ambar yang langsung menyahuti perkataan Silvi barusan.
"Mungkin saja, namun sepertinya Inara bukanlah simpanannya. Bisa saja dia madunya bukan? Mengingat bagaimana Alvaro memperlakukannya Inara tepat di hadapan Kikan tadi. Lagi pula pernikahan keduanya bukankah sudah terlalu lama? Namun hingga kini belum dikarunia seorang anak satupun." ucap lainnya ikut berkomentar yang lantas membuat semua orang di sana langsung manggut-manggut.
__ADS_1
***
Di dalam mobil
Inara yang tahu jika Alvaro tengah marah saat ini lantas hanya bisa terdiam tanpa berkomentar apapun sambil terus menunduk menatap ke arah bawah.
"Apa kamu benar-benar tidak bisa menolaknya Ra? Kamu bahkan sedang hamil jika kamu tidak bisa memikirkan kebaikan mu sebaiknya pikirkan anak yang ada di dalam kandungan mu itu!" ucap Alvaro dengan nada yang kesal.
"Mas aku benar-benar..." ucap Inara namun terpotong oleh perkataan dari Alvaro saat itu.
"Apa? Kamu ingin minta maaf lagi? Aku sudah bosen mendengarnya Ra! Belajarlah untuk menjaga dirimu dan juga anak kita, lagi pula untuk apa kamu ikut bersama dengan Kikan kemari? Jika kamu hanya diperlakukan sebagai seorang pembantu di sini!" pekik Alvaro yang tanpa memberikan jeda untuk Inara menjelaskan segalanya.
Manik mata Inara benar-benar membulat mendengar amarah Alvaro yang meledak-ledak saat itu. Lagi pula Inara mengerti akan kondisi tubuhnya sendiri, sungguh tidak adil rasanya jika Alvaro menganggapnya tidak bisa menjaga diri dengan baik hanya karena ia sudah masuk rumah sakit dua kali sebelumnya.
"Bukankah kata-katamu sedikit keterlaluan mas? Aku tahu akan tubuh ku, aku berbelanja seperti itu tidak akan membuat ku terjadi apa-apa. Lagi pula aku berhasil melakukannya, ok katakan aku bodoh karena tidak bisa mengerti niatan seseorang. Tapi tidakkah kata-katamu itu terlalu pedas di telinga?" ucap Inara dengan nada yang datar, membuat Alvaro yang baru menyadari kata-katanya yang terlaku berlebihan tadi lantas langsung terdiam dengan seketika.
"Sebaiknya aku pulang naik taksi saja, sepertinya pikiran mu saat ini sedang tidak jernih, aku tidak ingin bertengkar dengan mu mas." ucap Inara sambil mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil milik Alvaro saat itu.
"Sial!" pekik Alvaro dengan nada yang kesal begitu melihat Inara turun dari dalam mobilnya.
Bersambung
__ADS_1