Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Kepergian Kikan yang mendadak


__ADS_3

Kikan yang tak mendapati Inara di meja makan tentu saja langsung menatap bingung ke arah Alvaro, membuat Alvaro yang juga baru menyadari akan hal tersebut lantas ikut merasa kebingungan.


"Kamu teruskan saja makannya biar aku yang menyusulnya ke atas." ucap Alvaro kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Kikan.


Alvaro kemudian bangkit dari tempat duduknya dan bersiap melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Inara. Hanya saja ketika langkah kakinya melewati area dapur samar-samar Alvaro seperti mendengar tawa dan juga suara seseorang yang tak asing baginya.


Alvaro yang merasa penasaran akan suara tawa tersebut, lantas mulai melambatkan kakinya menuju ke arah sumber suara. Sambil bertanya-tanya akan suara siapa yang tengah mengobrol itu, lantas membuat Alvaro terus membawa langkah kakinya menuju ke arah suara tersebut. Ada sedikit perasaan terkejut ketika Alvaro melihat Lastri dan juga Inara akrab sekali membahas beberapa hal yang Alvaro sendiri tidak tahu apa yang tengah mereka bicarakan.


Alvaro menghentikan langkah kakinya ketika melihat dua piring kosong di sebelah keduanya saat ini, membuat Alvaro langsung mengernyit ketika mendapati hal tersebut.


"Nara apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara dan juga Lastri terkejut seketika.


Mendengar pertanyaan tersebut baik Lastri maupun Inara lantas bangkit dari posisi duduk mereka yang berada di bawah. Lastri nampak menundukkan kepalanya ketika mengetahui suara tersebut berasal dari Alvaro, sedangkan Inara terlihat meletakkan gelas yang sedari tadi ia pegang kemudian tersenyum dengan santai.


"Aku sedang makan mas, mas dan juga mbak Kikan sudah sarapan?" tanya Inara dengan nada yang santai.


"Iya aku tahu akan hal itu, hanya saja mengapa kamu tidak sarapan bersama dengan kita?" tanya Alvaro kemudian yang lantas membuat Lastri serba salah saat ini.


"Ah itu, aku tadi terlalu lapar mas mangkanya aku memutuskan untuk sarapan lebih dahulu bersama bi Lastri, aku minta maaf ya mas?" ucap Inara kemudian.


Alvaro yang mendengar perkataan Inara barusan hanya menghela napasnya dengan panjang. Tingkah laku Inara benar-benar aneh baginya. Disaat Kikan tidak menyukai sarapan bersama dengan Lastri namun Inara malah makan bersamanya di dapur seperti ini, membuat Alvaro tak tahu harus berkata-kata apa ketika melihat pemandangan yang tak biasa seperti ini.

__ADS_1


"Ya sudah tak apa, lain kali jika kamu lapar kamu boleh memanggil kami agar kita bisa sarapan bersama." ucap Alvaro kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Inara.


"Ayo kita pergi ke meja makan Ra.." ucap Alvaro kemudian sambil menggandeng tangan Inara hendak membawanya menuju ke meja makan.


Hanya saja ketika Alvaro hendak melangkahkan kakinya, Alvaro terlihat menghentikan langkah kakinya dan kembali menatap ke arah Lastri.


"Masakan Bibi pagi ini enak Kikan begitu menyukainya, lain kali Bibi boleh membuatkan menu ini lagi untuknya." ucap Alvaro yang lantas membuat Lastri langsung mendongak menatap ke arahnya.


"Maaf Pak itu bukan masakan saya tapi nona Inara, pagi ini saya hanya membantu saja untuk masalah bumbu dan meracik semua di lakukan oleh nona Inara." ucap Lastri yang lantas membuat Inara menghela napasnya dengan panjang begitu mendengarnya.


Padahal tadinya Inara ingin memberikan kode kepada Lastri untuk tidak mengatakan jika semua itu adalah hasil masakannya, namun karena Lastri sudah mengatakan semuanya tentu hal itu tidak lagi bisa ia tutupi.


***


Setelah sarapan pagi Kikan terlihat mengantar Alvaro pergi bekerja di halaman depan, sedangkan Inara hanya bisa melihat segalanya di ambang pintu. Kedekatan keduanya begitu intens, bagaimana bisa Inara berada di tengah-tengah keluarga yang saling menyayangi? Inara bukanlah wanita sekejam itu, melihat Kikan dan juga Alvaro saling menyayangi tentu saja membuat Inara begitu kecil dan tak mungkin berada di antara tengah-tengah mereka.


Inara menghela napasnya dengan panjang kemudian bersandar pada daun pintu memikirkan sesuatu hal yang mungkin bisa membuatnya segera lepas dari tempat ini dan tentu saja pergi dari kehidupan bahagia keduanya.


"Baiklah Inara lakukan semuanya dengan cepat, beri mas Alvaro dan mbak Kikan keturunan kemudian segera pergi dari sini, setidaknya anak ku nanti akan hidup dengan terjamin bukan bersama dengan Ayahnya? Daripada harus bersama dengan ku dan hidup susah, tentu saja aku akan lebih merelakan jika anak ku di asuh oleh mbak Kikan dan mas Alvaro." ucap Inara pada diri sendiri.


Inara menatap perutnya yang terlihat masih rata itu kemudian mengusapnya secara perlahan.

__ADS_1


"Untuk kamu biji kecil yang belum tumbuh, maafkan Ibu ya... Ibu bukannya tidak menginginkan mu hanya saja kehidupan mu jauh lebih baik jika bersama dengan Ayah, jadi mari tumbuh dengan baik di sana karena Ibu menantikannya dengan segera." ucap Inara sambil mengelus perlahan perutnya yang masih datar saat ini.


**


Sore harinya


Inara yang mulai bosan tak melakukan apapun di rumah sebesar ini, pada akhirnya terlihat mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga untuk mencari angin segar atau bahkan menyiapkan makan malam dan sejenisnya. Hanya saja langkah kakinya lantas terhenti ketika melihat Kikan sudah rapi dan hendak pergi keluar, membuat Inara lantas mengernyit ketika melihat penampilan Kikan yang begitu rapi.


"Apa mbak mau pergi keluar?" tanya Inara kemudian dengan raut wajah penasaran yang lantas menghentikan langkah kaki Kikan saat itu.


"Oh Inara, iya nih maaf banget ya? Aku ada arisan malam ini dan tak bisa menemani kalian makan malam. Aku titip Alvaro ya.. Oh satu hal lagi, Alvaro biasanya jika ingin tidur selalu meminum kopi racikan yang ada di almari atas sebelah kanan, jangan lupa untuk memberikannya malam ini, mungkin aku tidak akan pulang karena harus mampir ke rumah Ibuku." ucap Kikan menitipkan pesan panjang kali lebar.


"Tapi mbak, tidak bisakah mbak langsung pulang? Bagaimana jika mas Alvaro marah nanti?" ucap Inara dengan raut wajah yang terlihat aneh.


Mendengar kata Kikan yang mengatakan tidak pulang malam ini benar-benar membuat Inara sedikit tersentak. Ia bahkan semalam baru saja bertengkar dengan Alvaro, bagaimana mungkin malam ini keduanya malah hanya di tinggal berdua di dalam rumah, tentu saja suasananya akan terasa begitu canggung jika sampai hal itu benar-benar terjadi nantinya.


"Tak perlu takut, aku sudah memberitahu Alvaro jadi kamu tenang saja, oke? Dadah Inara..." ucap Kikan sambil kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Inara seorang diri di sana.


"Tapi mbak..." ucap Inara hendak menolak namun punggung Kikan sudah tidak lagi terlihat pada pandangan matanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2