Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Memperparah keadaan


__ADS_3

"Siapa yang kamu benci memangnya?" ucap sebuah suara bariton yang lantas membuat Kikan langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Papa...." pekik Kikan begitu mendapati jika Agam datang berkunjung dengan tiba-tiba.


Kikan nampak berlarian dan memeluk Pria paruh baya tersebut dengan erat. Sepertinya permasalahan yang terjadi kepadanya belakangan ini, benar-benar membuatnya lupa jika ia masih memiliki Agam di sisinya.


"Apa kabar mu nak? Sepertinya kamu kurusan ya?" ucap Agam sambil melepas pelukan keduanya saat itu.


"Benarkah Pa? Apakah aku terlihat begitu jelek? Benar-benar menyebalkan." ucap Kikan sambil memegang kedua pipinya saat itu.


"Tidak terlalu, tapi Papa rasa kamu lebih cocok dengan berat badan yang kemarin." ucap Agam yang tentu saja membuat Kikan langsung mendengus dengan kesal.


"Iya, hal itu bahkan membuat ku begitu malas apalagi setelah masalah kemarin. Aku yakin Papa pasti juga mendengarnya dari Mama kam?" ucap Kikan kemudian sambil mendudukkan pantatnya pada sofa ruang tengah saat itu.


Mendengar perkataan Kikan barusan lantas membuat Agam menghela napasnya dengan kasar. Di langkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah dimana Kikan berada saat ini.


"Lalu bagaimana saat ini? Keputusan apa yang kalian berdua ambil untuk mengatasi masalah?" ucap Agam dengan raut wajah yang penasaran.


"Keputusan apa, Alvaro bahkan sudah menyerah dalam mempertahankan keutuhan Rumah tangga kita. Lalu menurut Papa, apalagi yang harus Kikan perjuangkan? Bukankah semuanya hanya akan berakhir sia-sia saja?" ucap Kikan dengan nada yang terdengar kesal.


"Papa tahu kamu pasti marah dan juga kesal, hanya saja cobalah untuk berkaca dan melihat lebih dalam lagi apa yang membuat Alvaro berpaling darimu. Papa bukannya membela Alvaro dalam hal ini, hanya saja jika kamu terus menerus keras dan melimpahkan segala kesalahan hanya kepada Alvaro, lalu bagaimana kamu melanjutkan hidup ke depannya?" ucap Agam seakan mencoba untuk menasehati putrinya secara perlahan.


Setidaknya mungkin dengan hal ini, mata hati Kikan akan lebih terbuka lagi.


Kikan terdiam seketika begitu mendengar penjelasan tersebut, nyatanya apa yang di katakan oleh Agam barusan semua itu ada benarnya juga. Selama ini Kikan terlalu berfokus pada pertanyaan, mengapa Alvaro berubah? Apakah Alvaro tidak mencintainya lagi? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang hanya berfokus tentang Alvaro, bukankah dalam masalah ini seharusnya Kikan juga mulai menimbang dan menyelami kesalahannya juga?

__ADS_1


Lagi pula retaknya sebuah hubungan tentu di dasari akan beberapa hal yang tidak selaras di antara keduanya. Jika memang hanya karena bosan, sepertinya Alvaro tidak akan mungkin menceraikan dirinya dan memilih Inara saat ini.


"Papa benar.. Sepertinya selama ini aku terlalu..." ucap Kikan dengan raut wajah yang sendu namun langsung terhenti dengan seketika, begitu suara nyaring milik seseorang memutus pembicaraan keduanya.


"Apanya yang benar Ki? Kamu jangan bodoh dan terpengaruh perkataan Papa mu. Semua lelaki hanya menganggap diri mereka benar tanpa melihat ke arah kita sama sekali. Kau pikir apa alasan Papa mu melakukan ini semua? Jangan kira perkataannya hanya karena dia menyayangi mu, kamu bahkan salah besar. " ucap Tamara dengan tiba-tiba yang lantas membuat keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara saat itu.


"Mama..." ucap Kikan dengan nada yang lirih.


"Sudah cukup Ma, sebagai orang tua kamu seharusnya membimbing dan menasehati keduanya. Bukan malah saling mengadu domba antara Kikan dan juga Alvaro Ma!" ucap Agam yang seakan tidak suka akan cara didik Tamara yang seperti itu.


"Tahu apa Papa soal hal itu? Lagi pula Papa mengatakan ini karena Papa pernah berada di posisi Alvaro bukan? Ayolah Pa.. Jangan berlagak munafik seperti itu." ucap Tamara dengan nada yang ketus.


"Mama!" ucap Agam dengan nada yang meninggi, namun nyatanya sama sekali tak membuat Tamara takut karenanya.


"Berhenti! Berhenti kalian berdua! Aku benar-benar muak mendengar keributan di sini. Jika kalian memang ingin beradu mulut dan saling membuka luka lama, sebaiknya kalian lakukan di Rumah kalian sendiri. Jangan pernah melakukannya di sini! Kepala saat ini bahkan sudah hampir pecah, jangan memperparah keadaan dengan menambah keributan di sini!" pekik Kikan dengan nada yang kesal sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya.


Suara langkah kaki Kikan yang semakin berlalu pergi terdengar jelas dan melukai hati Agam saat ini. Agam memang pernah khilaf saat itu, namun semuanya terjadi karena sikap Tamara yang selalu egois dan ingin menang sendiri. Jauh di lubuk hati Agam sebenarnya, ia sama sekali tidak berniat dan menginginkan hal tersebut terjadi pada keluarga kecilnya.


"Semua ini karena mu, bukankah sebagai orang tua kau harusnya lebih bijak lagi? Aku bahkan sudah memilih mu, jika tahu tingkah mu akan seperti ini aku mungkin akan meralat keputusan ku dan melakukan hal yang sama seperti Alvaro!" ucap Agam dengan nada yang kesal, sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Tamara seorang diri di sana dengan raut wajah yang memerah.


***


Rumah sakit


Inara yang kepikiran akan sosok bertudung hitam yang sempat ia kejar sebelumnya, lantas terlihat termenung dengan tangan mengambang di awang-awang.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya sosok tersebut? Jika saja Chris tidak mengejar ku saat itu, aku rasa aku bisa mengetahuinya." ucap Inara dalam hati sambil melamun memikirkan sosok Pria bertudung hitam tersebut.


Disaat Inara tengah melamun memikirkan segalanya, Alvaro yang melihat tangan Inara tak kunjung menyuapinya saat itu, nampak mengernyit dengan raut wajah yang seakan bertanya-tanya.


"Ra... Sampai kapan kamu akan melamun seperti itu?" tanya Alvaro kemudian.


"..."


"Inara!" pekik Alvaro kemudian sambil menepuk pundak Inara pelan.


"Iya mas, kamu perlu apa?" ucap Inara dengan raut wajah yang terkejut.


Mendapati hal tersebut lantas hanya membuat Alvaro menghela napasnya dengan panjang.


"Apa yang membuat mu melamun seperti itu Ra?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Inara terdiam sejenak mendapat pertanyaan tersebut. Entah sekarang ia harus berkata jujur atau tidak kepada Alvaro. Hanya saja jika ia tidak mengatakannya saat ini, Inara takut Pria itu akan berbuat macam-macam dan melakukan sesuatu hal buruk kepada Alvaro nantinya.


"Apa sebaiknya aku katakan saja kepada mas Alvaro ya?" ucap Inara dalam hati yang seakan bingung dengan keputusan apa yang hendak ia pilih saat ini.


Alvaro terlihat kembali menghela napasnya ketika mendapati Inara lagi dan lagi kembali melamun saat ini. Melihat hal tersebut pada akhirnya membuat Alvaro mengusap pundak Inara dengan lembut, seakan berusaha untuk menenangkannya saat ini.


"Sebenarnya tadi aku bertemu dengan seseorang.." ucap Inara kemudian.


"Siapa Ra?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2