
"Lihatlah ke arah pintu, bukankah mereka berdua sungguh sangat romantis?" ucap Tamara dengan tatapan yang lurus ke arah pintu utama.
Mendengar perkataan dari Tamara barusan lantas langsung membuat Kikan menoleh dengan sempurna ke arah pintu utama. Dari pintu utama Kikan melihat Alvaro dan juga Inara baru saja sampai di mana Alvaro terlihat tengah membantu Inara berjalan dengan perlahan, membuat bola mata Kikan lantas langsung memutar dengan jengah ketika mendapati pemandangan tersebut berada tepat di hadapannya yang semakin menambah kekesalan di dalam dirinya saat ini.
"Tidak bisakah kalian berdua berhenti berakting sejenak? Aku benar-benar muak melihat kalian berdua seperti ini, kalian sama sekali tidak memahami akan perasaanku sedikitpun!" ucap Kikan dengan nada yang penuh kekesalan membuat langkah kaki Inara dan juga Alvaro langsung terhenti dengan seketika.
"Hentikan perkataanmu itu Ki, aku benar-benar sudah mulai kesal akan segala hal yang tengah kamu lakukan kepada Inara! Bukankah kamu sendiri yang meminta semua ini terjadi? Dan sekarang kamu benar-benar memintanya untuk berhenti? Apa yang kamu pikirkan? Apa kau sudah benar-benar tidak waras?" ucap Alvaro sambil menatap ke arah Kikan dengan tatapan yang menelisik.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Kikan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alvaro berada, Kikan mengambil posisi bersendekap dada menatap dengan tatapan yang Intens ke arah manik mata Alvaro saat ini.
"Aku akui semua ini adalah karena kekeliruanku dan sekarang aku sudah memikirkan segalanya. Aku ingin kamu mengakhiri semua ini sebelum aku menjadi semakin kesal karena tingkah kalian berdua yang sudah kelewat batas." ucap Kikan kemudian yang lantas membuat Inara dan juga Alvaro lantas saling pandang antara satu sama lain.
"Jangan bercanda Ki ini benar-benar tidak lucu sama sekali!" ucap Alvaro dengan nada yang lebih serius lagi saat ini.
__ADS_1
Namun Tamara yang seakan setuju dengan keputusan putrinya saat itu, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah ketiganya hendak mendukung keputusan Kikan saat ini.
"Itu benar Al, saat ini semuanya sudah terlalu berantakan jadi mari perbaiki semuanya dan ambil keputusan yang terbaik untuk saat ini." ucap Tamara yang seakan menyetujui perkataan dari Kikan barusan.
Sedangkan Inara yang mendengar segala perkataan keduanya hanya bisa terdiam sambil meremas dengan erat baju bagian bawah kemejanya saat itu. Sepertinya Inara benar-benar tersudut, semuanya hanya bergantung kepada keputusan Alvaro saat ini. Entah keputusan apa yang akan Alvaro ambil sekarang, namun yang jelas Inara berharap jika Alvaro tidak mengambil keputusan yang salah dalam situasi seperti sekarang.
"Aku mohon mas jangan lakukan itu.." ucap Inara dalam hati sambil menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang intens seakan berharap jika Alvaro menyangkal perkataan keduanya.
Inara terdiam di tempatnya sambil menutup kelopak matanya dengan rapat seakan bersiap untuk menerima segala keputusan Alvaro saat ini. Entah itu keputusan baik atau hanya sebuah keputusan buruk yang akan merugikan dirinya. Namun sebagai seorang penumpang yang di nahkodai langsung oleh Alvaro, tentu saja Inara harus bersiap akan segala hal dan juga keputusan yang diambil oleh Alvaro saat ini maupun nanti.
"Ayo kita perbaiki semuanya Al, kita mulai lagi semuanya dari nol. Aku tidak mandul jadi kita bisa membuat berapapun anak yang kau inginkan dan berapapun jumlahnya, ya.. Ya... Kita lakukan sama-sama, kamu mau kan Al? Jawab aku Al jangan hanya diam saja seperti ini." ucap Kikan sambil memegang lengan Alvaro saat itu.
Hanya saja Alvaro yang mendengar perkataan dari Kikan barusan, bukannya mengiyakan perkataannya Alvaro malah perlahan-lahan mulai melepas genggaman tangan Kikan yang menggenggam erat di lengannya saat itu. Mendapati hal tersebut membuat Kikan yang melihat hal itu, lantas langsung menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang bertanya-tanya.
__ADS_1
"Maaf tapi aku tidak bisa, segala hal yang telah kamu lakukan kepadaku baik dulu maupun sekarang lantas membuka mataku dengan lebar saat ini. Aku tahu bagaimana perasaanku yang sesungguhnya sekarang, jadi aku harap kamu jangan lagi membahas hal tersebut tepat di hadapanku. Mari kita lalui segalanya dengan damai, aku tidak akan mempermasalahkannya asal kan kamu bisa bersikap dengan baik dan jangan menimbulkan masalah apapun lagi karena aku sudah mulai lelah ketika harus kembali membereskan perbuatan mu." ucap Alvaro panjang kali lebar, yang lantas membuat manik mata Kikan membulat dengan seketika.
"Ayo Al kita ke kamar, kamu harus istirahat sekarang." ucap Alvaro sambil menggenggam tangan Inara dengan erat dan membawanya melewati keduanya begitu saja saat ini.
Sedangkan Inara yang mendengar keputusan Alvaro saat itu tentu saja terkejut bukan main, tadinya Inara mengira jika Alvaro akan memilih Kikan. Namun ketika mendengar segalanya mendadak membuat hati Inara menjadi berbunga. Entah harus bersikap bagaimana saat ini, namun yang bisa Inara lakukan hanya menatap ke arah Alvaro seakan bertanya-tanya akan tindakan Alvaro saat ini.
Melihat kepergian Alvaro dan juga Inara yang melewatinya begitu saja, tentu langsung membuat Kikan menatap tak percaya ke arah keduanya. Kikan yang tidak terima begitu saja akan perlakuan Alvaro saat ini, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas menyusul kepergian keduanya kemudian menarik tangan Alvaro dengan sekali tarikan, membuat langkah kaki keduanya lantas terhenti dengan seketika begitu mendapat ditarikan tersebut.
"Kau tidak bisa memperlakukan ku seperti ini Al! Tidak bisa...!" ucap Kikan kemudian yang lantas membuat Alvaro menghela napasnya dengan panjang.
"Hentikan hal ini Ki, biarkan bayi ku lahir dengan tenang dan tanpa keributan. Jadi aku harap kamu jangan membuat masalah yang baru lagi untuk saat ini dan juga kedepannya." ucap Alvaro kembali sambil melepaskan tangan Kikan lagi dan lagi.
Mendengar hal tersebut membuat Kikan langsung terdiam seketika. Perkataan Alvaro barusan jelas sekali mengatakan jika ia tidak lagi menginginkan dirinya saat ini. Ditatapnya Alvaro saat itu yang tengah melangkahkan kakinya meninggalkan Kikan dan meneruskan langkah kakinya menuju ke arah kamar Inara. Sambil menggenggam dengan erat tangan Inara saat itu yang tentu saja hal tersebut membuat Kikan semakin terlihat frustasi dan juga kesal ketika mendapati pemandangan di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Ku bilang berhenti Al! Apa kau tidak mendengarnya juga ha!" pekik Kikan dengan nada yang meninggi hingga membuat semua orang terkejut ketika mendengarnya barusan.
Bersambung