
Lift Apartment
"Apa yang tadi kamu lakukan di Rumah sakit? Aku bahkan mencari mu kemana-mana tadi." ucap Alvaro kemudian memecah keheningan yang terjadi di antara keduanya.
"Ah tadi ada anak kecil yang tidak mau minum obat, kasihan sekali dia mas.. Masih kecil tapi harus menanggung beban berat dan menderita penyakit jantung bawaan." ucap Inara kemudian mulai menceritakan tentang kejadian tadi di Rumah sakit.
"Benarkah? Lalu apakah dia baik-baik saja?" tanya Alvaro kemudian.
"Ya, aku dengar dia baru saja menjalani operasi. Aku berharap selanjutnya dia juga akan baik-baik saja." ucap Inara dengan nada yang sendu.
Alvaro yang melihat raut wajah sendu memiliki Inara saat itu, lantas langsung memeluknya dari arah samping kemudian mencoba untuk menghibur Inara sebisa mungkin. Sambil mengusap perut Inara dengan perlahan, yang tentu saja lantas membuat Inara langsung mendongak menatap ke arah Alvaro seakan bertanya apa yang tengah ia lakukan saat ini.
"Jangan terlalu di pikirkan, aku berharap bayi kita nanti akan lahir dengan sehat agar ia tidak perlu menderita seperti anak itu." ucap Alvaro sambil mengusap dengan lembut perut Inara kala itu.
Mendapati tingkah Alvaro yang seperti itu tentu saja membuat perasaan begitu bahagia menghampiri dirinya. Inara bahkan berdoa jika segala hal yang terjadi kepadanya saat ini tidak akan pernah berakhir dan terus berlanjut hingga tua nanti. Hanya saja setelah ia kembali tersadar akan keinginannya barusan, raut wajah Inara langsung berubah dengan seketika.
"Ah sepertinya itu tidak akan mungkin, aku bahkan jelas tahu apa dan bagaimana posisi ku saat ini." ucap Inara dalam hati sambil menghembuskan napasnya dengan kasar, membuat Alvaro langsung mengernyit begitu mendengar helaan tersebut.
"Ada apa?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Ting...
Sebuah suara yang berasal dari dentingan pintu lift yang terbuka dengan lebar, lantas langsung menghentikan pembicaraan keduanya. Inara tersenyum ketika mendapati pertanyaan dari Alvaro barusan, membuat Alvaro semakin tidak mengerti akan maksud dari senyuman itu.
"Tidak ada mas, ayo kita keluar... Bukankah katamu setelah ini kamu ada pertemuan? Jangan sampai telat." ucap Inara sambil menarik tangan Alvaro agar segera keluar dari dalam lift.
"Baiklah" ucap Alvaro pada akhirnya yang hanya bisa pasrah ketika mendapati tarikan tangan dari Inara barusan.
__ADS_1
**
Siang harinya di kediaman Alvaro
Di area ruang tamu terlihat Tamara dan juga Kikan sibuk menatap ke arah layar ponsel mereka. Mereka berdua benar-benar sibuk sedang mencari keberadaan Alvaro dan juga Inara saat ini. Entah mengapa ketidak pulangan Alvaro dari semalam, membuat Kikan benar-benar penasaran akan di mana Alvaro berada sebenarnya saat ini.
Di saat keduanya tengah sibuk mencari tahu keberadaan Alvaro, sebuah deringan ponsel milik Tamara lantas terdengar menggema di ruangan tersebut. Mendapati hal tersebut membuat Kikan yang sedari tadi fokus, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Mama angkat telpon dulu sebentar." ucap Tamara sambil bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi dari hadapan Kikan.
Kikan yang mendapati Tamara bangkit dari posisi duduknya untuk mengangkat panggilan telepon tersebut, lantas langsung mengernyit dengan seketika. Sebuah rasa penasaran mendadak memenuhi kepalanya saat ini, lagi pula untuk apa Tamara hingga berlalu pergi dari sana hanya sekedar untuk mengangkat panggilan telepon. Bukankah seharusnya ia bisa mengangkatnya tepat di sebelahnya?
"Siapa sebenarnya yang sedang menelpon Mama saat ini?" ucap Kikan sambil bertanya-tanya menatap kepergian Tamara.
.
.
.
"Siapa yang menghubungi Mama?" ucap Kikan namun dengan pandangan yang lurus ke depan.
"Papa mu" ucap Tamara dengan nada yang datar.
"Lalu mengapa Mama sampai menjauh dari ku? Memangnya ada apa?" ucap Kikan dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Tamara langsung terdiam dengan seketika, tidak mungkin jika Amara akan jujur kepada Kikan. Jika saat ini Papanya ingin meminta Tamara untuk kembali ke rumah, bukankah hal itu sungguh tidak adil bagi Kikan? Tamara jelas tahu jika begitu banyak masalah datang menghampiri putrinya beberapa waktu ini.
__ADS_1
Jika Tamara harus pulang mengikuti perkataan suaminya tentu saja akan membuat Kikan kesepian karenanya. Tamara takut jika nanti Kikan akan melakukan yang tidak-tidak jika sampai ia di biarkan seorang diri tanpa pengawasan.
Tamara yang menyadari akan semua hal tersebut dan kemungkinan terburuknya, lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang kemudian tersenyum menatap ke arah putrinya.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan masalah Papamu, Mama yakin Pria tua itu mungkin sedang kesepian saat ini. Yang jelas Mama mendapat kabar jika Alvaro siang ini datang ke kantor untuk sebuah pertemuan." ucap Tamara kemudian mencoba untuk mengalihkan fokus pembicaraannya dan juga Kikan barusan.
"Benarkah Ma?" ucap Kikan kemudian.
"Tentu saja, lalu apa tindakan mu selanjutnya?" ucap Tamara kemudian mulai bertanya kepada Kikan.
"Entahlah Ma, tapi yang jelas untuk saat ini aku akan menemui Alvaro terlebih dahulu di kantornya." ucap Kikan kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Tamara begitu mendengar jawaban dari Kikan barusan.
"Bagus, Mama akan mendukung semua tindakan mu. Tidak perlu takut akan apapun, cukup lakukan apa yang membuat mu benar." ucap Tamara lagi membuat seulas senyum terlihat terbit di wajah Kikan saat itu.
***
Di area parkiran Apartment
Setelah mendapatkan perawatan pasca operasi selama kurang lebih dua mingguan di Rumah sakit, Chris kemudian memutuskan untuk membawa Alika pulang ke Apartemennya. Entah mengapa Chris lebih merasa jika Alika lebih baik dirawat di rumah, daripada harus berdiam diri seperti itu di Rumah sakit.
Lagi pula Alika sudah cukup lama di Rumah sakit, jadi sudah saatnya ia merasakan suasana rumah kembali. Setidaknya setelah operasi besar kali itu Chris rasa Alika sudah lebih baik saat ini dan bisa sedikit demi sedikit menjalani kehidupannya dengan normal tanpa terganggu lagi. Meski masih harus kembali mendapatkan pantauan jika sewaktu-waktu terjadi masalah terhadap jantungnya.
Chris yang baru saja turun dari mobil, lantas langsung menggendong tubuh Alika di pangkuannya dan berjalan masuk ke dalam lobby Apartment. Dengan langkah kaki yang perlahan, Chris mulai membawa Alika menuju ke area lift untuk naik ke unit Apartemennya dan memulai hari baru bersama Alika.
Disaat keduanya tengah bergurau dengan sesekali tertawa kecil. Alika yang melihat seseorang tak asing di ingatannya lantas langsung berteriak, yang tentu saja membuat Chris langsung mengernyit dengan seketika.
"Kakak pohon"
__ADS_1
Bersambung